
Luna terbangun karena suara dering alarm di ponselnya. Luna melihat jam di ponselnya, dan baru saja jam setengah tujuh pagi.
LBaru jam segini udah nyala aja sih alarm" Luna yang merasa waktu untuk ke kantor maaih 2 jam lagi merasa santai. Iya segera membuka ponselnya untuk melihat notifikasi dari semua media sosialnya. Dan ternyata sebuah pesan membuatnya tersadar akan sesuatu.
"Di mana kamu? Aku harap kamu tidak lupa kalau kita ada pertemuan jam tujuh pagi ini Nona Aluna? " Dewa belum pernah memanggil Luna dengan sebutan seperti itu sebelumnya. Jadi Luna sudah mengira jika Dewa sedang dalam mood yang tidak baik.
"Ya Tuhan, aku lupa ada meeting pagi ini. Aku hanya punya waktu tiga puluh menit sebelum rapat dimulai dan saya bahkan belum bangun dari tempat tidur. Dia pasti akan membunuhku hari ini." Luna segera berjalan ke kamar mandi dan menggosok gigi.
Pada saat Luna telah menyelesaikan aktivitasnya yang terdiri dari berbagai kegiatan itu, dilihatnya Jam sudah menunjukkan pukul 06.49. Berarti masih ada 11 menit lagi untuk datang ke kantor. Tanpa memperhatikan perutnya yang lapar karena baru bangun tidur, Luna segera berlari keluar dari rumahnya. Karena mamanya sedang bekerja, Iya tidak meminta izin terlebih dahulu.
Di luar rumah, Luna telah bingung untuk mencari kendaraan. Jika iya naik bis, maka waktunya tidak akan cukup. Ia pun segera mencari taksi untuk berangkat ke kantor.
" Pak bisa tolong cepat ya, aku benar-benar sudah terlambat ini" ucap Luna di saat sudah berada di dalam taksi dan duduk di kursi penumpang. Sopir taksi itu pun mengangguk dan menuruti apa yang Luna katakan. Namun secepat apapun, Luna tidak bisa datang ke kantor tepat waktu. Karena jika ditempuh dengan perjalanan biasa, akan memakan waktu selama 30 menit. Namun kali ini Luna berhasil datang dengan waktu 11 menit saja. Iya tak membiarkan sopir taksi itu mengendarai taksinya dengan lambat.
Luna masuk ke dalam gedung kantor saat baru turun dari taksi. Iya segera bergegas ke ruangan Dewa sebelum rapat dimulai. Saat sedang berada di dalam lift, Luna menerima sebuah pesan. Tapi karena iya terburu-buru, iya tidak sempat melihatnya. Luna langsung menuju pergi ke lantai sepuluh, dimana ruangan Dewa dan ruangannya berada.
Luna keluar dari lift dan berjalan langsung ke ruangannya untuk mengambil dokumen dan flashdisk yang diperlukan untuk presentasi. Setelah itu, iya keluar dari dan berjalan ke ruang rapat. Dengan cepat Luna membuka pintu. Setelah pintu terbuka, Luna tidak melihat siapa pun di dalam .
__ADS_1
"DI mana mereka" gumam Luna. Dan di saat itu juga, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Kali ini Luna memutuskan untuk melihatnya.
"DI MANA KAMU? JIKA AKU TIDAK MELIHATMU DI RUANG MEETING INI DALAM LIMA DETIK, AKU AKAN MEMBUNUHMU KALAU SAMPAI AKU KEHILANGAN PROYEK INI"
"Ya Tuhan, dia benar-benar akan membunuhku, tapi aku tidak tahu di mana mereka berada."
"Aku harus tanya padanya" Ucap Luna sendiri.
"Tuan sekarang ada di mana? Karena saya sekarang di ruang meeting dekat ruangan kita, tapi saya tidak melihat ada orang di dalam" Luna mengirim pesan sambil mondar-mandir menunggu balasan Dewa.
" Ya Tuhan, dia akan memecatku karena aku terlambat. Aku harus cepat. Tapi meskipun aku terlambat, dia tidak berhak menyebutku bodoh. Bajingan." Luna merasa kesal setelah membaca pesan tersebut. Iya kembali berjalan ke lift dan menuju ke bawah ke lantai lima di mana ruang meeting itu ada.
"Lagian kenapa sih dia mengadakan meeting di sana. Tapi bukan urusanku juga sih, sekarang yang penting bagaimana aku bisa sampai di tempat itu sebelum waktu 5 detik ini habis. Jadi dia tidak akan memenggal kepalaku" Luna pun bergegas ke ruang pertemuan di adakan.
Begitu sampai di depan ruangan itu, Luna langsung membuka pintu. Di saat akan masuk, kaki Luna tersandung dan akhirnya iya terjatuh Dengan tangan dan lutut yang nenjadi tumpuan. Rambutnya acak-acakan ke depan dan menutupi seluruh mukannya. Luna melihat dokumen yang di depannya juga terjatuh. Iya merasa malu. Namun akan lebih malu lagi jika dirinya jatuh tersungkur ke lantai. Alhamdulillah hal itu tidak terjadi.
Ketika Luna berdiri dan memungut semua dokumen yang jatuh tadi, ia melihat bosnya dan beberapa klien yang memandang ke arahnya. Rasanya Luna Ingin Mati Saja.
__ADS_1
"Ya Tuhan! Maaf, saya sangat menyesal. Selamat pagi semuanya." kata Luna sambil bangkit dari lantai sambil mengambil semua dokumen. Dia berjalan langsung ke arah Dewa dan memberikan file yang diperlukan untuk presentasi . Raut wajah bosnya itu memberitahu Luna bahwa dia akan kenyang tanpa makan setelah rapat selesai. Ada empat pria di ruangan itu selain Dewa.
"Maaf saya terlambat Tuan" kata Luna pada bosnya. Luna tidak mengatakan apa-apa lagi, tetapi Dewa menatapnya seolah dia sudah merencanakan sesuatu.
"Nona Aluna. bisakah anda tidak usah bercanda, kita akan memulai meeting" kata Dewa dengan suara yang terdengar begitu kesal. Siap menerkamnya.
"Baik tuan" Jawab Luna dengan tegas untuk menutupi rasa gugupnya. Iya segera berjalan menuju ke arah laptop yang menyala untuk mempersiapkan file yang akan digunakan untuk presentasi. Luna memasangkan flash disk dan segera memutar video presentasi. namun suatu hal tak terduga terjadi.
" Habislah aku... Pasti aku akan kehilangan pekerjaanku hari ini juga" Gumam Luna dalam hatinya. Karena
yang berputar dalam video tersebut adalah video ketika Luna mengata-ngatai Dewa. Dengan masih menggunakan seragam sma-nya. Berarti video tersebut telah dibuat oleh Luna beberapa tahun yang lalu. Luna salah mengambil flashdisk ketika ia buru-buru berangkat pagi tadi. Ia melakukan sebuah kesalahan. Yang aneh dari Luna, iya telah membuat dan menyimpan Video tersebut beberapa tahun lamanya, namun iya tak bernai memberikan kepada Dewa karena takut.
Luna menatap ke arah di mana semua investor melihat video tersebut. Mereka hanya mampu menutup mulut dengan tangan karena takut tertawa. Sedangkan Luna langsung melepas flashdisk tersebut untuk menghentikan video yang terus berputar.
" Tamat riwayatku, Kalau sampai Dewa memecat aku hari ini juga" Gumam Luna dalam hati setelah melepas flashdisknya. Di lihatnya Dewa yang sudah menatapnya dengan begitu tajam.
Setelah hal yang benar-benar kacau itu terjadi, Luna segera mengambil ponselnya dan menyalurkan ke USB di laptop. Beruntung sekali karena Luna selalu menyimpan file tersebut ke dalam ponselnya. Setelah semua berjalan aman, Dewa segera mempresentasikan apa yang berada dalam gambar tersebut. Luna bisa bernafas dengan lega ketika meeting hari ini berjalan dengan lancar.
__ADS_1