
Saat Dewa masuk ke dalam kamar mandi, Luna menatap tubuh Dewa yang telanjang dada. Terasa sangat aduhai bagai Luna.
"Apa aku akan begini terus ya?" gumam Luna pada dirinya sendiri. Iya langsung saja menggunakan sepatu pemberian Dewa. Setelah selesai, luna berjalan menuju keluar dari ruang ganti. Iya mencari parfum dan langsung menyenprotkan ke tubuhnya. Yang iya semprotkan adalah parfum Dewa, bukan parfumnya sendiri yang di belikan oleh Dewa. Bukan tidak menyukai parfum yang Dewa belikan. Tapi karena sangat menyukai aroma parfum sang suami, Luna tidak pernah bosan untuk terus menciumnya.
"Kayanya kamu lebih milih parfumku ya sayang dari lada milikmu sendiri." kata Dewa yabg tiba-tiba sudah berada di belakang Luna sambil melingkarkan lengannya di pinggang sang istri. Dewa pun ternyata sudah berpakain dengan lengkap untuk ke kantor. Sebuah setelan jas berwarna Hitam, yang membuatnya semakin terlihat tampan.
"Iya, aku emang pakai parfum kamu, hehe..."kata Luna sambil berbalik mengahadap sang suami.
"Baunya juga cocok untuk kamu." kata Dewa sambil mencium kening Luna. Setelah itu iya berjalan mengambil jam tangan di atas meja rias.
"Tapi aku merasa kalau parfum ini sangat cocok untuk dirimu." kata Luna sambil berjalan dan mencium pipi suami nya. Iya pun mengambil sepasang anting dan langsung memakainya.
"Aku rasa tidak. Kamu juga pas kok." Jawab Dewa lagi.
"Oke oke sayang. Terserah bagaimana pendapatmu. Aku tunggu di bawah ya." jawab Luna sambil meraih tas di atas meja. Iya berjalan keluar kamar lalu turun dan menunggu Dewa di bawah.
Setelah beberapa saat menunggu suaminya.
"Ayo berangkat sayang." Kata Dewa sambil menuruni anak tangga. Iya mengambil kunci mobil di atas meja. Mereka pun berangkat.
Setibanya di kantor, Luna langsung di sibukkan dengan beberapa pekerjaan. Entah sudah berapa lama iya bekerja. Dan saat itu ponselnya berdering. Luna melihat nomor baru yanh menghubunginya. Iya pun menjawab panghilan tersebut.
"Luna... Kamu jangan lupa ya. Nanti ada latihan menembak lo." ucap suara dari balik telepon. Luna langsung mengenali kalai yang menghubunginya ini adalah papanya.
"Iya pah, Luna ngga lupa kok." Kata Luna.
__ADS_1
"Baiklah, papa tunggu ya." jawab papa Luna lagi.
"Iya pah." panggilan pun berakhir.
Luna merapikan pekerjaannya yang sudah hampir selesai itu. Iya berjalan ke ruangan Dewa untuk berpamitan terlebih dahulu. Namun saat melewati ruangan Dina, iya mendengar Dina yang sedang tertawa pelan. Karena penasaran, Luna pun mundur lagi beberapa saat untuk melihat dan mendengar dengan siapa Dina berbicara. Setelah melihat ke ruangan Dina, Luna melihat Dina yang sedang menelpon.
"Kamu sangat lucu Nanda." Ucap Dina yang di dengar Luna.
"Oh, dengan Nanda telponannya." Gumam Luna. Tidak terasa sebuah senyum terukir di wajahnya. Dina menerima saran dari Luna.
Karena sudah melihat hal tersebut, Luna kembali melangkah untuk menuju ke ruangan Dewa. Luna mengetuk pintu.
"Masuk." Setelah mendengar jawaban ini Luna segera membuka pintu. Setelah berada di dalam, ia melihat Dewa yang sedang menelpon. Luna pun duduk di kursi di depan meja menunggu Dewa menyelesaikan panggilannya. Setelah selesai, Dewa meletakkan ponselnya dan fokus kepada Luna.
"Kamu tahu kan kalau aku selalu merindukanmu. Tapi aku ke sini hanya untuk memberitahumu aku harus segera pergi. "Kata Luna sambil tersenyum.
"Kenapa? " tanya Dewa yang mungkin lupa dengan apa yang ia katakan kepada Papa Luna.
"Aku ada latihan menembak hari ini dengan papa. " jawab Luna.
"Oh iya aku lupa. Aku akan mengantar kamu."kata Dewa.
"Nga, ngga usah sayang. Aku bisa cari taxi atau pesan online nanti." jawab Luna menolak.
"Baiklah sayang." kata Dewa sambil melambaikan tangannya memberi isyarat kepada Luna untuk mendekat kepada dirinya. Iya berjalan ke arah Dewa.
__ADS_1
"Bye sayang. Aku pergi dulu." Kata Luna sambil mencium pipi Dewa. Namun saat Luna akan melangkah untuk pergi, Dewa menarik Luna hingga istrinya itu jatuh ke pangkuannya.
"Dewaaa.." Teriak Luna karena terkejut.
"Iya sayang." jawab Dewa memeluk tubuh Luna erat-erat sambil tersenyum. Dan sepertinya apa yang di lakukan Dewa itu biasa saja menurut Dewa.
"Dewa, jangan kekanak-kanakan. Bersikaplah profesional. Bagaimana kalau ada yang masuk dan lihat kita seperti ini." kata Luna mencoba untuk berdiri, tapi Dewa malah mengeratkan pelukan kedua lengannya di pinggang Luna.
"iya, meskipun begitu, aku harus pergi. Nanti aku bisa terlambat." kata Luna bertingkah seolah Dewa bukanlah suaminya. Berusaha melepaskan pelukan Dewa. Dalam hati, Luna berteriak kegirangan. Iya baru kali ini mendengar Dewa menyebut kata istri di depan Luna. Membuat Luna merasa ingin melayang. Bahkan Dewa juga akan mengatakan kepada semua orang yang akan masuk keruangannya jika mereka melihat Luna dan Dewa bermesraan seperti itu. Luna sangat bahagia. Iya akhirnya mengerti bagaimana perasaan Dewa yang sebenarnya.
"Baiklah.. Kalau kamu tidak mau sekarang kamu harus memakai mobilku saja." Kata Dewa yang akhirnya melepaskan pelukannya di pinggang Luna. Tapi sebelumnya, Dewa sudah mencium bibir istrinya itu dengan mesra.
"Aku ngga mau bawa mobilmu. Kalau nanti kamu membutuhkannya bagaimana? " Jawab Luna.
"Aku akan minta seseorang untuk mengantarkan lagi satu mobil ke sini."jawab Dewa.
"Ngga usah. Aku bisa manggil taxi aja."Luna masih menolak.
"Jangan... Bawa saja mobilku. Aku akan memanggil satu sopir perusahaan untuk mengantarmu." Dewa pun juga kekeh.
"Apa hal ini juga penting? " Tanya Luna.
"Iya dong sayang. Semua yang menyangkut keselamatanmu, sangat penting." kata Dewa.
"Baiklah Tuan Dewa. Aku akan menuruti apa yang anda katakan." Jawab Luna dengan sedikit menekankan kata Tuan. Akhirnya, Dewa membiarkan Luna pergi juga dari ruangannya.
__ADS_1