
Jona menyusul istrinya yang tengah berdiri di bawah sunset dekat kolam renang luar jendela kamar mereka. Ia ikut berdiri di samping wanita itu. Melihat istrinya tengah memandang ke depan dengan tatapan kosong. Entah kenapa, ada perasaan rasa bersalah di hati Jona usai perdebatan kecil tadi. Ia benar-benar tidak tahu soal ini.
"Kenapa baru bilang sekarang?" tanya Jona kemudian.
"Aku hanya malu. Malu karena bukan wanita yang sempurna," jawab Olyn tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kenapa harus malu? Lagipula, aku juga bukan suami yang sempurna. Aku pasti bisa menerima apapun diri kamu."
Olyn melirik Jona sekilas, sebelum kemudian pandangannya kembali lurus ke depan.
"Aku melakukan operasi pengangkatan rahim setelah tahu kalau aku ini tidak bisa punya anak nantinya, alias infertil. Tidak mudah untuk sampai di titik sekarang. Aku juga pernah depresi waktu itu. Apalagi aku harus menerima kenyataan kalau tidak ada pria yang mau menikah dengan wanita infertil sepertiku. Dan asal kamu tahu, aku selalu melakukan hubungan dengan pacar aku dulu, merupakan sebuah bentuk pelampiasan aku saja karena aku belum bisa menerima kenyataan kalau aku infertil."
Jona terdiam mendengar penjelasan Olyn. Ia tidak menyangka jika wanita yang selalu terlihat ceria itu ternyata menyimpan luka besar dan pernah melewati hari-hari yang sangat berat.
"Aku juga sama seperti kamu, Olyn. Tidak ada manusia yang baik-baik saja begitu mengetahui jika dirinya bermasalah. Aku bahkan hampir menderita setiap hari. Aku baru bisa berdamai dengan diri aku sendiri setelah aku bertemu dengan kamu. Kamu berpengaruh besar dalam hidup aku."
__ADS_1
Perlahan Jona meraih tangan Olyn dan kini mereka berdiri berhadapan. Jona menggenggam kedua tangan istrinya dan menatap mata Olyn dengan lekat.
"Aku sekarang benar-benar yakin jika kita di pertemukan karena kita memang berjodoh. Untuk saling menerima dan memahami apa permasalahan dalam diri kita. Aku tidak akan pernah mempermasalahkan apa yang ada di dalam diri kamu, begitupun dengan apa yang ada di diri aku, terima kasih karena kamu mau menjadi istriku," ucap Jona dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Apa kamu benar-benar mencintaiku?" tanya Olyn kemudian untuk memastikan.
Jona mengangguk. "Iya, tentu. Aku mencintaimu, Olyn. Aku mencintaimu."
Ungkapan Jona membuat Olyn merasa terharu, ia menghambur ke dalam pelukan suaminya. Olyn menghirup dalam-dalam aroma tubuh Jona yang khas dan wangi.
Pertanyaan Olyn membuat Jona perlahan melepaskan pelukannya. Mereka saling menatap kembali dengan sejuta pertanyaan di kepala Jona.
"Apa?"
"Aku mau kamu pengobatan alternatif. Aku tidak akan berharap lebih, tapi setidaknya kita sudah berusaha, apapun itu hasilnya."
__ADS_1
Jona diam sejenak. Ia bingung untuk menolak permintaan Olyn. Pasalnya Olyn akan kecewa jika ia tetap kukuh menolak pengobatan secara alternatif itu. Karena ia tidak ingin Olyn kecewa dengan hasilnya nanti jika ia memang impoten permanen.
Dengan berat hati, Jona pun mengangguk setuju. Seulas senyum terbit dari sudut bibit Olyn. Akhirnya Jona mau di ajak ke pengobatan alternatif nanti setelah mereka pulang honeymoon.
"Jika hasilnya sesuai dengan apa yang di harapkan dan kamu kembali normal, apa kamu masih mau dengan wanita infertil seperti aku?"
Lagi-lagi Olyn mengajukan pertanyaan yang membuat Jona tidak tahu harus menjawabnya bagaimana. Ia takut serba salah jadinya.
"Kalau begitu, lebih baik tidak perlu pengobatan alternatif dan aku tidak perlu normal lagi. Supaya aku tetap bisa sama kamu."
"Jangan begitu, kamu berhak mendapatkan apa yang membuat kamu bahagia, Jona."
"Bahagiaku sudah cukup ada di kamu, Olyn. Aku tidak perlu normal lagi jika pada akhirnya kita tidak bersama. Please, jangan bahas ini lagi, ya. Tujuan kita datang ke Swiss untuk honeymoon. Dimana kita harusnya bersenang-senang. Berbahagia. Bukan untuk membahas kekurangan kita dan berujung seperti ini. Kita bicarakan lagi untuk masalah ini nanti, setelah kita pulang dari sini jika perlu."
Jona menatap Olyn penuh harap agar dia tidak lagi membahas hal ini. Jujur ia tidak hal ini akan menimbulkan perdebatan dan berujung keributan. Olyn pun mengangguk berusaha mengertikan perasaan Jona.
__ADS_1
_Bersambung_