Pria Impoten VS Wanita Infertil

Pria Impoten VS Wanita Infertil
Meminta Maaf


__ADS_3

Elea menangis di kamarnya. Sepanjang hidupnya ia baru merasakan di tampar oleh seseorang yang merupakan kakaknya sendiri. Nyonya Artur ikut panik begitu melihat putrinya berjalan menuju kamarnya sambil menangis dan di susul oleh putra sulungnya.


Jona menyusul Elea hingga ke kamar gadis itu untuk meminta maaf. Elea menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur dengan posisi terlungkup dan menutup wajahnya menggunakan bantal.


"Elea, kakak minta maaf. Kakak sama sekali tidak bermaksud untuk menampar kamu. Tapi ucapan kamu itu tadi melebihi batas sehingga kakak tidak bisa mengontrol emosi," ucap Jona.


"Kak Jona, jahat. Kakak sekarang lebih milih istri kak Jona di banding adik kak Jona," ucap Elea di tengah isak tangisnya.


"Ini bukan tentang harus memilih siapa. Ini karena kamu bicara keterlaluan sama Olyn tadi dan kamu harus minta maaf sama dia."


"Aku tidak mau."


"Apa yang kamu lontarkan tadi sama dia itu sangat keterlaluan, Elea. Kalimat yang kamu lontarkan itu tidak pantas keluar dari mulut kamu dan di dengar oleh Olyn. Hatinya pasti luka karena perkataan kamu itu. Dia itu istri kakak dan itu artinya dia juga sekarang jadi kakak kamu. Kamu harus hormat sama dia dan bicara lebih sopan," tutur pria itu.


Elea sama sekali tidak mengindahkan Jona. Sampai nyonya Artur datang dan bertanya apa yang terjadi sehingga Elea menangis.


"Ada apa ini, Jona? Kenapa Elea sampai menangis?"


Jona pun berusaha menjelaskan, siapa tahu mamanya bisa menasehati Elea agar bisa bicara lebih sopan dan hati-hati lagi pada istrinya.


"Elea aku tampar, ma. Tapi aku sama sekali tidak bermaksud untuk menampar nya."


Nyonya Artur kaget mendengarnya hingga mulutnya menganga dan matanya melotot.

__ADS_1


"Elea kamu tampar? Memangnya dia melakukan kesalahan apa sampai bisa kamu tampar?" tanya wanita paruh baya itu.


"Elea melontarkan perkataan yang melukai hati Olyn atas kekurangan yang Olyn miliki. Aku berusaha menegur dia tapi Elea sama sekali tidak sadar jika ucapannya itu melukai perasaan Olyn," jelas Jona.


Nyonya Artur menghela napas mendengar penjelasan Jona. Jelas di sini Elea yang salah. Jona tidak pernah sekasar ini jika kesalahannya tidak fatal.


Nyonya Artur berjalan mendekat ke arah ranjang tempat tidur lalu duduk di tepi ranjang. Ia membelai lembut rambut Elea seraya memberi nasehat pelan-pelan.


Sementara Jona pergi menemui Olyn di dapur. Tapi wanita itu sudah tidak ada. Dan ternyata Olyn sedang berdiri di atas balkon kamarnya. Jona menghampiri istrinya.


"Aku minta maaf jika perkataan Elea melukai hati dan perasaanmu. Jangan terlalu di pikirkan, lupakan saja."


Olyn menoleh dan menatap Jona.


Kalimat Olyn barusan membuat Jona hampir tidak percaya, sebab ia tidak pernah merasa memberi tahu pada siapapun selain mama dan papanya, terutama Elea.


"Aku memberi tahu Elea? Kapan? Dia pasti berbohong, Olyn. Aku tidak pernah memberi tahu tentang kamu padanya."


"Dia tidak sengaja dengar saat kamu beri tahu mama kalau aku bukan hanya seorang wanita infertil, tapi tidak memiliki rahim juga."


Jona diam. Ia mengingat waktu ia memberi tahu mamanya soal itu. Ketika itu dia bicara dengan mamanya di ujung tangga atas dan dalam kondisi marah. Dan ia tidak menyadari keberadaan Elea di sana.


"Aku minta maaf, aku sangat ceroboh. Aku minta maaf, aku-"

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu di maafkan. Ini bukan kesalahan. Mungkin sudah saatnya semua orang tahu tentang siapa diri aku," pungkas Olyn.


Jona tetap merasa bersalah. Ia merasa jadi orang boddoh sekarang karena terlalu ceroboh bicara pada saat marah waktu itu.


"Olyn, aku benar-benar minta maaf."


"Kamu tidak salah, Jona. Dan aku tidak marah juga. Karena sedalam apapun kita menutupi bangkai, pasti akan tercium juga baunya. Begitupun dengan diri aku. Lambat laun mereka pasti akan tahu siapa aku sebenarnya. Dan aku beruntung, meski demikian kalian tetap menerima aku menjadi bagian dari kalian. Terima kasih, Jona. Aku mencintaimu."


Sebuah kecupan singkat Olyn daratkan tepat di bagian bibir suaminya. Pria itu sempat mematung sejenak. Sebelum kemudian ia menyadari semuanya.


"Aku juga mencintaimu. Sangat. Terima kasih karena kamu dan keluarga kamu juga mau menerima aku menjadi bagian dari kalian," balas Jona.


"Cium nya mana?"


"Hm?"


Olyn memanyunkan bibirnya dengan kedua mata terpejam, berharap Jona melakukan hal yang sama dengannya barusan. Jona jadi salah tingkah sendiri. Karena kebetulan ini masih sore, ia minta Olyn untuk segera masuk ke kamarnya.


"Kita lakukan saja di kamar."


Olyn membuka mata dan melihat pria itu sudah lebih dulu masuk. Senyum Olyn mengembang dengan sempurna. Sebelum kemudian ia menyusul langkah Jona.


"Ok, sayaaang .."

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2