Pria Impoten VS Wanita Infertil

Pria Impoten VS Wanita Infertil
Hujan


__ADS_3

Dua hari berikutnya Olyn sudah sembuh dan pulih total. Dia sudah bisa beraktivitas seperti biasanya. Bahkan dia makannya lumayan banyak setelah beberapa hari ini ia tidak selera makan akibat sakit.


Sebelum pulang, momy memasak banyak untuk makan siang dan nanti sore. Olyn hanya perlu memanaskan nya lagi saja. Momy tidak bisa lama-lama menginap, sebab papi juga membutuhkan dirinya.


Sementara nyonya Artur sudah pulang lebih dulu sehari sebelum momy memutuskan untuk pulang. Elea terus saja menelepon dan meminta mamanya untuk segera pulang. Padahal dia tahu jika kakak iparnya sedang sakit. Elea sama sekali tidak datang untuk sekedar menjenguk dengan alasan banyak tugas kuliah.


Jona melihat istrinya tengah berdiri di pembatas balkon kamar. Cuaca pagi ini mendung dan hawanya lumayan dingin. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.


"Ayo, masuk. Di luar dingin, kamu baru saja sembuh, takut masuk angin," ajak Jona.


Olyn menoleh sekilas ke arah pria yang saat ini berdiri di sampingnya sejak beberapa detik yang lalu.


"Aku mau di sini. Aku mau menunggu sampai hujan turun," jawab Olyn.


"Kenapa? Ini dingin, nanti kamu masuk angin. Ayo, kita masuk saja."


"Aku suka hujan. Aku bahkan ingin sekali hujan-hujanan."

__ADS_1


"Jangan, nanti sakit."


"Sejak kapan hujan menyebabkan sakit?"


Olyn menatap wajah Jona untuk menanti jawaban pria itu.


"Airnya yang dingin bisa menyebabkan masuk angin, demam, flu, bahkan batuk."


"Ada sebagian orang yang menganggap seperti itu. Ada sebagian orang juga yang menyukainya, termasuk aku."


"Kenapa?"


"Kenapa suka hujan."


"Aku belajar dari hujan, meski jatuh berulang kali namun ia tidak pernah berhenti memberikan ketentraman dan kesuburan pada bumi walau kita tahu jatuh itu sangatlah sakit."


Jona seketika diam mendengar kata-kata yang di lontarkan oleh Olyn. Ia berusaha mencerna baik-baik makna dari kata yang di ucapkan oleh wanita itu.

__ADS_1


Hingga setetes air dari langit jatuh ke bagian punggung tangan Olyn. Ia mendongakan wajahnya ke atas, tetesan berikutnya kini kerap membasahi pipinya.


Olyn mengulas senyum pada saat hujan kini sudah turun. Ada alasan lain yang membuat ia menyukai hujan. Yaitu ia bisa menangis tanpa ketahuan orang lain. Air matanya akan tertutup oleh air hujan yang tak kalah derasnya.


Jona sebenarnya khawatir. Ia takut Olyn sakit lagi karena dia baru saja sembuh. Tapi Olyn kelihatannya bahagia sekali pada saat hujan turun. Ia akan memberi waktu beberapa menit. Setelah itu ia akan memaksa Olyn untuk masuk ke dalam. Meski tidak semua hujan tidak menyebabkan sakit, tapi sakit bisa saja penyebabnya dari hujan.


Sudah cukup lama Olyn menari di bawah derasnya air hujan. Bagi Jona ini sudahlah cukup. Ia tidak bisa memberikan waktu lagi untuk Olyn hujan-hujanan. Terpaksa, ia membopong tubuh istrinya untuk membawanya ke dalam.


"Aku masih mau hujan-hujanan, Jona. Ayo turunkan aku," pinta Olyn namun Jona tidak memperdulikan hal itu.


Jona membawa Olyn ke kamar mandi. Lantaran sekujur tubuhnya basah kuyup.


"Kamu bilas badan kamu, aku ambil handuk sama baju buat ganti."


Setelah mengatakan hal itu, Jona pun pergi.


Olyn hanya bisa menghembuskan napas sedikit kesal karena ia merasa belum puas hujan-hujanan. Tapi ia senang juga lantaran Jona begitu perhatian padanya.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2