Pria Impoten VS Wanita Infertil

Pria Impoten VS Wanita Infertil
Hujan Dipagi Hari


__ADS_3

Elea tengah sarapan bersama mama papa nya. Namun, tangan kirinya tidak lepas memegang ponsel dan bibirnya terus mengulas senyum dan matanya sama sekali tidak berpaling dari layar ponsel.


"Sarapan yang benar, taruh dulu ponselnya di meja, Elea." tuan Artur menegur putrinya lantaran tidak baik makan sambil bermain ponsel.


"Aku sarapan dengan benar kok, pa," sahut gadis itu tanpa mengalihkan pandangannya.


Tuan Artur hanya bisa menghela napas, putrinya ini memang sedikit kerasa kepala jika di ingatkan.


"Elea, taruh dulu ponselnya. Jangan bikin papa kamu marah," timpal nyonya Artur.


Elea tidak memperdulikan hal itu. Kemudian nyonya Artur mengambil ponsel Elea dari genggamam tangannya.


"Ma!" pekik gadis itu tidak terima jika ponselnya di rampas begitu saja.


"Habiskan dulu makanan kamu, baru boleh main ponsel lagi. Tapi jangan di meja makan. Biasakan kalau lagi makan, makan saja."


"Kembalikan, ma."


"Tidak, kamu harus mematuhi perkataan mama. Jangan membiasakan hal-hal buruk, Elea. Kamu harus tahu waktu."


Elea sangat kesal terhadap mamanya. Mau tidak mau ia harus cepat menghabiskan makanannya supaya ponselnya bisa cepat di kembalikan. Meskipun selera makannya saat ini sudah hilang karena kekesalannya.


Suasana di ruang makan cukup hening, hanya ada suara sendok berdenting yang beradu pada piring.

__ADS_1


"Kakak kamu bilang kamu lagi dekat sama laki-laki lagi. Siapa laki-laki itu?" tanya nyonya Artur membelah keheningan yang terjadi di antara mereka untuk beberapa saat.


"Nanti aku kenalkan sama kalian kalau aku sama dia beneran jadi," sahut gadis itu.


"Kalau begitu ajak dia datang langsung ke rumah, kalau dia berniat serius sama kamu, dia pasti dengan senang hati datang kesini," timpal tuan Artur.


Elea mengangguk antusias. Moodnya kembali membaik usai mendapat permintaan papanya. Ia akan memberi tahu laki-laki yang saat ini dekat dengannya dan memintanya untuk datang ke rumah nanti malam. Ia sudah tidak sabar rasanya.


Sementara di tempat lain, seorang wanita tengah bermanja-manja terhadap suaminya. Ia memeluk erat suaminya di atas tempat tidur agar suaminya tidak pergi.


"Sayang aku masih mau tidur sama kamu," ucap Olyn dengan nada khas manjanya.


"Ini sudah siang, sayang. Ayo kita bangun, aku juga harus ke kantor."


"Aah aku gak mau, aku masih mau bobo sama kamu, sayang. Lagian di luar lagi hujan, kamu gak usak ke kantor dulu ya."


"Aku kan ke kantor pakai mobil, sayang."


"Iya, tapi tetap saja diam di rumah bersama istri tercinta lebih baik, sayang."


Jona menghela napas pasrah. Sedari tadi ia membujuk Olyn supaya bergegas bangun dari tempat tidur, semakin ia membujuknya, pelukannya semakin erat saja.


"Aku mau bangun saja, nanti siang ada meeting di kantor dan aku harus ke kantor sekarang, sayang."

__ADS_1


"Gak boleh."


Jona memaksa untuk bangun dan mengabaikan Olyn. Tapi sedetik kemudian suara teriakan melengking memenuhi seisi ruangan kamar.


"Aaghhhhh .."


Kedua mata Jona membulat sempurna, ia refleks berteriak pada saat Olyn mencubit kecil kepala bagian bawahnya. Dan itu rasanya sangat ngilu bercampur geli.


"Aku bilang jangan kemana-mana, sayang. Di sini saja, temani aku. Di luar hujan."


Jona memandang wajah istrinya dengan wajah menahan sakit, ngilu dan geli juga tidak bisa berkata-kata. Ia tidak berpikir jika Olyn akan melakukan itu padanya.


Olyn menaikan selimutnya sampai dada. Lalu ia masuk ke dalam selimut tersebut.


"Hei, hei, kamu mau apa?" Jona sudah ketar-ketir duluan begitu Olyn masuk ke dalam selimut.


Pria itu lekas memejamkan mata dan ekspresi wajahnya seperti sedang menahan sesuatu.


"Aaghh sayang, hentikan. Aaaahhh .."


Jona sudah tidak kuat lagi menahan sesuatu yang terasa begitu menyiksa dirinya. Ketika Olyn bermain-main dengan miliknya di balik selimut.


"Menggemaskan sekali sih punya kamu, sayang. Sekarang aku jadi lebih suka yang kayak gini, punya kamu. Lucu-lucu gimanaaaa gitu." ujar Olyn di balik selimut.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2