Pria Impoten VS Wanita Infertil

Pria Impoten VS Wanita Infertil
Mantan Pacar


__ADS_3

Di mobil dalam perjalanan pulang. Mereka saling diam. Selain Olyn yang merasa masih lemas, kejadian barusan juga menjadi salah satu penyebab kenapa mereka saling diam.


Sampai akhirnya Olyn memberanikan diri untuk bicara, membelah keheningan. Ia tidak ingin ada kesalah pahaman di antara mereka. Oleh karena itu, Olyn merasa perlu menjelaskan yang sebenarnya.


"Dia mantan pacar aku, Jona. Tapi percayalah, di antara kami sudah tidak ada hubungan apapun."


Jona yang semula fokus menyetir dan memandang lurus ke depan, kini melihat ke arah istrinya untuk beberapa saat. Sebelum kemudian ia kembali memandang lurus ke depan.


"Aku tidak perduli dia siapa. Tapi kenapa dia bicara seperti tadi?"


"Aku tidak tahu apa maksudnya. Tapi yang pasti, jangan perdulikan soal itu. Lupakan."


Olyn tidak pernah menyangka jika mantan pacarnya akan datang lagi pada kehidupannya bahkan setelah ia menikah. Ia tidak hanya karena ini, Jona jadi salah paham dan akan menimbulkan hal yang tidak di inginkan.


Jona menatap wajah Olyn untuk seperkian detik lantaran ia harus kembali fokus menyetir. Ia merasa jika Olyn terganggu akan pembahasannya meski bukan ia yang memulai membicarakannya.


Entah kenapa, setelah pertemuan tadi antara Olyn dan mantan pacarnya itu, ia jadi merasa tidak tenang. Apalagi setelah pria itu membisikan sesuatu yang seharusnya tidak ia dengar. Ia khawatir pria itu datang lagi ke dalam hidup Olyn.

__ADS_1


Kini mereka sudah sampai di rumah. Nyonya Artur mengajak Olyn dan Jona untuk langsung makan karena momy sudah masak banyak, sengaja supaya Olyn mau makan agar tubuhnya tidak lemas.


Opor ayam menjadi menu makan mereka.


"Anak momy udah sampai. Ayo kita makan bersama, sayang," ajak momy dengan sangat antusias.


"Semua momy yang masak?" tanya Jona di angguki oleh momy.


"Iya."


"Iya, momy pernah bilang sama Olyn kalau opor ayam kita beda dari yang lain, makanya sifatnya rahasia."


"Itu jadi menu makan pertama yang Olyn masakin buat aku sebagai suaminya, mom."


"Iya, Olyn memang suka sekali masak opor ayam ketimbang resep yang momy beri. Dia waktu itu pernah masakin opor ayam juga buat Herr-" Momy seketika menggantung kalimatnya pada saat beliau sadar akan ucapannya, beliau langsung mengatupkan bibir sadar hampir keceplosan.


"Buat siapa, mom?" tanya Jona penasaran, ia memandang momy dan Olyn bergantian.

__ADS_1


Selain Jona, nyonya Artur pun ikut penasaran dengan lanjutan kalimat besannya.


"Opor ayamnya hampir dingin, kita sudah bisa makan sekarang? Aku sudah lapar."


Olyn mengalihkan perhatian mereka terutama Jona.


"Iya, opor ayam nya nanti keburu dingin tidak enak. Kita makan sekarang, ya," timpal nyonya Artur ikut mencairkan suasana.


Mereka yang semula berdiri kini duduk di kursi makan masing-masing. Momy kelihatan merasa bersalah sekali dan merasa boddoh karena terlalu ceroboh.


Olyn berharap Jona tidak membahas soal ini nanti di kamar. Tapi sepertinya Jona menanggapi hal itu dengan sangat serius.


Selama makan berlangsung, tidak ada yang berani bicara selain suara sendok yang berdenting pada piring. Olyn juga tidak berani memandang ke arah Jona yang duduk di sampingnya.


Wajah Jona memperlihatkan seribu pertanyaan dalam pikirannya. Sejak kemunculan pria yang Olyn akui itu adalah mantan kekasihnya, entah kenapa pikiran Jona jadi tidak tenang. Di tambah momy yang barusan membahas soal Olyn yang pernah memasak untuk seseorang dulu.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2