
Jam delapan pagi Elea dan Herry sudah checkout dari hotel tempat semalam mereka menginap. Herry meminta maaf tidak bisa mengantar Elea pulang karena itu akan menjadi boomerang baginya.
"Next time, kita check-in lagi, sayang," kata Herry sebelum Elea masuk ke dalam taksi online yang sebelumnya sudah di pesan.
"Ok, sayang."
Cup.
Herry memberi sebuah kecupan singkat di bibir gadis itu.
"Hati-hati, ya."
Elea tersenyum mendapat perhatian kecil dari pria tercintanya.
"Iya, sayang."
Elea pun masuk ke dalam mobil, Herry membantu menutup pintu mobilnya. Pria itu kemudian melambaikan tangan.
"Bye .."
Elea membalas lambaian tangannya hingga driver taksi online melajukan mobilnya.
Setelah mobil yang di tumpangi Elea pergi dan tidak lagi terlihat dari jangkauan matanya, ia merogoh ponsel di saku celana.
__ADS_1
Herry terlihat sedang mencari kontak nomer seseorang lalu menelepon kontak tersebut. Dia menempelkan benda pipih tersebut di daun telinganya sambil menunggu panggilan telepon terhubung.
"Halo, beib. Nanti siang kita ketemuan, ya."
***
Sudah jam delapan lebih namun Elea belum juga pulang. Di rumah tuan dan nyonya Artur, Jona beserta Olyn menunggu gadis itu dengan perasaan gelisah. Semalam Jona nginap di rumah orang tuanya dan sudah menceritakan apa yang ia dengar dari Jennie teman Olyn.
Tuan Artur jelas saja terpancing emosi dan juga kecewa jika apa yang ia dengar itu benar adanya. Akan tetapi nyonya Artur tidak seratus persen percaya. Sebab Jona juga menyampaikan bagian dimana Mia teman Elea membenarkan jika ada tugas kelompok dan nginap di rumahnya.
Nyonya Artur terus menyangkal tuduhan Jona dan Olyn. Akan tetapi beliau juga tidak bisa berbuat apapun selain itu. Untuk lebih jelasnya mereka akan bertanya langsung pada Elea jika sudah pulang.
Saat jarum jam menunjukan jam setengah sembilan pagi, pintu utama depan rumah terbuka dan muncul orang yang mereka tunggu-tunggu selama hampir dua jam.
Elea mematung di tempat tepatnya di ambang pintu, menatap keempat orang yang berdiri menatap ke arah dirinya.
"Ma, pa, kak, kalian sedang apa?" tanya gadis itu tanpa merasa bersalah.
Nyonya Artur langsung menghampiri Elea dan berdiri di samping putrinya.
"Elea, katakan pada mereka jika semalam kamu nginap di rumah teman kamu," pinta nyonya Artur.
Elea menatap mamanya dengan wajah heran. Namun sepertinya terjadi sesuatu di rumah yang membuat mamanya bersikap seperti itu padanya.
__ADS_1
Elea menatap kembali ketiga orang yang berdiri di hadapannya dan pandangan terakhir jatuh pada Olyn. Ia mulai mengerti apa yang tengah terjadi.
"Rupanya mereka mencurigaiku," ucap Elea dalam hati.
"Ada apa sih, ma? Aku memang nginap di rumah Mia, teman aku," jawab gadis itu kemudian.
"Bohong!" seru Jona.
"Apa sih, kak?"
"Jangan coba membohongi kami, Elea. Kami tidak pernah mengajarkan kamu untuk berbohong," timpal tuan Artur.
"Apa sih, pa? Kalian kenapa? Kenapa kalian menuduh aku berbohong?"
"Semalam kamu nginap di hotel dengan pacarmu kan?" seru Jona lagi.
Elea menatap kakaknya dengan tatapan tajam dan terkejut kenapa mereka bisa tahu tentang dirinya. Namun, ia tidak akan mengaku begitu saja. Sebab masih ada mamanya yang pastinya akan membela dari cara mamanya meminta ia untuk memberi tahu mereka jika semalam ia memang nginap di rumah Mia.
"Kak Jona bicara apa sih? Jangan asal menuduh ya, kak. Kakak memangnya punya bukti apa?"
Elea mencoba menantang mereka, namun tiba-tiba Olyn maju dan memberikan ponselnya. Begitu ia lihat, ia tidak menyangka jika Olyn punya foto ketika dirinya bersama Herry di restoran.
Elea seketika diam. Ia sedang menyusun alasan apa yang harus ia berikan pada mereka supaya mereka percaya.
__ADS_1
_Bersambung_