Pria Impoten VS Wanita Infertil

Pria Impoten VS Wanita Infertil
Tamparan


__ADS_3

Setelah selesai memasukan bahan masakan ke dalam kulkas, tiba-tiba ia melihat ada kaki seseorang yang berdiri di dekatnya. Begitu ia lihat, ternyata itu Elea. Gadis itu melayangkan senyuman yang sulit di artikan.


Olyn bangkit berdiri berhadapan dengan Elea, perasaannya sedikit tidak enak.


"Hai, kak infertil," sapa gadis itu membuat iris mata Olyn melebar seketika.


Ketegangan terjadi di antara mereka berdua, namun Olyn pandai dalam memainkan ekspresi. Ia langsung mengulas senyum seolah tidak terjadi apa-apa.


Olyn mengulurkan tangannya hingga membuat Elea mengerutkan kening heran.


"Selamat, ya. Kamu berhasil mencari tahu siapa aku sebenarnya," ucap Olyn kemudian.


Elea lagi-lagi merasa kesal. Ia pikir wanita itu akan marah padanya. Tapi ternyata itu semua di luar dugaannya. Olyn terlihat sangat tenang dan tidak ada kekesalan di wajahnya.


"Sebegitu penasarannya ya kamu sama aku, sampai kamu cari tahu aku melalui Jennie, teman aku. Tapi sayangnya, dia tidak mau memberi tahu siapa aku sama orang yang tidak dia kenal seperti kamu. Salut aku sama kamu, Elea. Meskipun begitu, kamu tetap berusaha mencari tahu siapa aku."


Olyn tersenyum, berdecak sambil geleng-geleng dan menatap Elea dari atas sampai bawah.


Elea tidak mau kalah begitu saja. Ia harus balas perkataan kakak iparnya.


"Aku tidak mencari tahu. Informasi itu datang begitu saja dari kak Jona," ujar gadis itu.

__ADS_1


Kini giliran Olyn yang terkejut dengan pengakuan adik iparnya. Tapi ia tidak langsung percaya begitu saja. Karena bisa jadi Elea berbohong dengan mengatasnamakan kakaknya sendiri.


"Jona? Dia tidak mungkin se ceroboh itu mengatakannya padamu, nak."


"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu. Jika kamu tidak percaya, aku tidak perduli. Memang aku tahu dari kak Jona, dia memberi tahu mama soal siapa kamu dan aku tidak sengaja mendengarnya."


"Oh jadi kamu menguping?"


"Aku sudah bilang aku tidak sengaja dengar. Selain infertil, kamu juga gak punya rahim kan? Kasihan sekali ya kamu."


Olyn mulai terpancing, namun ia berusaha untuk tetap menahan emosinya. Ia tahu jika ini adalah cara Elea untuk membuatnya marah dan merasa kesal.


"Kamu tidak bahagia, kamu hanya pandai menutupi semuanya. Buktinya, sekarang kamu kesal dan ingin marah kam sama aku? Tapi kamu terlalu pintar untuk menutupi rasa kesal kamu itu."


Ternyata Elea cukup pintar membaca ekspresi orang juga. Olyn tidak menyangka jika ia berhadapan dengan gadis yang tidak bisa ia remehkan.


"Rupanya kamu calon pakar ekspresi yang bisa membaca ekspresi wajah orang lain."


"Jadi benar kan? Lalu letak bahagia kamu itu dimana? Kamu infertil dan memiliki suami yang tidak bisa nusuk kamu. Aku yakin, satu sampai dua tahun mungkin kamu bisa bertahan, tapi tidak dengan lima tahun. Kamu pasti akan merana dan mengakhiri semuanya."


"Berhenti bicara tidak sopan, Elea!" ujar seseorang yang berdiri sejauh tiga meter dari tempat berdiri mereka.

__ADS_1


Begitu dilihat, ternyata itu Jona. Pria itu bisa mendengar semua yang mereka katakan tadi. Kini, Elea merasa kikuk.


Jona berjalan menghampiri kedua wanita di depannya dan menatap tajam Elea.


"Jangan pernah mengatakan hal itu lagi pada Olyn!"


"Memangnya kenapa, kak? Kak Jona tidak terima kalau aku-"


Plakk ..


Sebuah tamparan dari Jona mendarat mulus di pipi Elea. Olyn sampai menganga lantaran tidak percaya jika Jona akan melakukan hal itu pada adiknya sendiri.


Jona langsung menyesali perbuatannya yang ia rasa itu terlalu berlebihan. Elea langsung pergi dengan uraian air mata dan Jona berusaha mengejarnya.


"Maafkan kakak, Elea. Kakak tidak berniat untuk melakukannya. Elea!"


Jona terus mengejar langkah adiknya. Jona menyesal karena sudah menampar Elea. Ia tahu jika Elea mungkin sudah keterlaluan, tapi ia tidak berhak sampai menampar adiknya sendiri. Bagaiamanapun, Elea adik satu-satunya yang seharusnya ia jaga.


"Adikmu memang pantas mendapatkan tamparan itu, Jona. Dia sudah melebihi batas," gumam Olyn.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2