Pria Impoten VS Wanita Infertil

Pria Impoten VS Wanita Infertil
Menyampaikan Sesuatu


__ADS_3

Sementara di tempat lain, Olyn masih ragu untuk menyampaikan sesuatu yang harus ia sampaikan pada suaminya. Ia bingung harus memulainya dari mana. Karena ia takut jika Jona akan salah paham terhadapnya.


"Kamu kenapa, sayang?" Jona merasa ada sesuatu dari Olyn.


Olyn kemudian menggeleng dan mengulas senyum tipis. "Aku baik-baik saja."


"Kamu yakin baik-baik saja?"


Olyn mengangguk membenarkan.


"Aku perhatikan kamu sejak pulang kemarin, kamu seperti sedang memikirkan sesuatu. Ada apa?"


Olyn terdiam sejenak. Apa ini waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya.


"Urusan kamu di kantor bagaimana? Sudah membaik kah?"


Jona mengangguk. "Iya, sudah mulai membaik. Kenapa? Mau ada yang di sampaikan?"


Olyn kemudian mengangguk. Ia merasa lega jika urusan Jona memang sudah membaik. Jadi setidaknya apa yang akan ia sampaikan tidak begitu menambah beban.


"Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan sama kamu, sayang. Tapi mengingat kamu sedang ada banyak urusan, aku tidak mau ini akan menambah pikiran kamu."

__ADS_1


"Sepenting apa?"


"Penting sekali. Ini tentang Elea."


Jona mengerutkan keningnya. "Elea?"


"Ya. Aku mau memberi tahu kamu tentang Elea, tapi kamu harap kamu mengerti maksud aku menyampaikan ini sama kamu. Aku khawatir kamu salah paham nantinya."


Jona semakin penasaran apa yang mau di sampaikan oleh istrinya. Dilihat dari ekspresi wajahnya, sepertinya Olyn mode serius.


"Memangnya Elea kenapa?" tanya Jona kemudian setelah beberapa saat terdiam.


Olyn menarik napas dalam sebelum ia mengatakan apa yang harus ia sampaikan.


Seketika iris mata Jona melebar. Ia memastikan pendengarannya tidak rusak.


"Elea berpacaran dengan pria itu?"


Olyn mengangguk.


Wajah Jona seketika berubah seratus delapan puluh derajat.

__ADS_1


"Kamu tahu darimana?" tanya Jona untuk memastikan, bukan karena tidak percaya.


"Jadi begini, sayang. Kemarin, waktu aku selesai meeting dengan pihak endorsement, aku tidak sengaja bertemu dengan dia di parkiran saat mau pulang."


"Terus dia gangguin kamu?" seru Jona di tengah penjelasan Olyn.


Olyn terpaksa jujur dan berharap Jona bisa mengerti situasinya.


"Iya, dia sempat gangguin aku. Aku sudah berusaha tegas dengannya untuk tidak lagi mengganggu kehidupan aku. Dan di tengah perdebatan aku dengannya, tiba-tiba Elea muncul dan memanggil dia dengan sebutan 'sayang'. Bukan cuma itu, Elea bahkan mengenalkan dia sebagai pacarnya secara langsung sama aku."


"Aku merasa perlu memberi tahu ini sama kamu, karena aku khawatir sama Elea. Aku tahu betul bagaimana Herry. Aku takut jika Elea hanya di jadikan alat saja untuk mencapai tujuannya," imbuh Olyn.


"Maksud kamu?" tanya Jona tidak paham.


"Jadi dia tahu kalau kamu seorang impoten dan aku yakin Elea yang sudah menceritakannya. Bukan karena Elea yang tiba-tiba menceritakannya, tapi aku yakin Herry yang menggali informasinya melalui Elea. Kamu paham kan maksud aku?"


Jona benar-benar kelihatan marah sekali.


"Aku harap Elea segera terlepas darinya sebelum semuanya terlalu jauh. Aku hanya kasihan pada Elea," imbuh Olyn lagi.


"Iya, kamu benar. Aku juga tidak akan membiarkan dia menjadi bagian dari keluarga kita. Aku juga harus kasih tahu mama papa, kalau dia bukan laki-laki baik seperti yang mereka pikirkan."

__ADS_1


Olyn mengangguk setuju sekaligus merasa lega lantaran Jona mengerti maksudnya.


_Bersambung_


__ADS_2