Pria Impoten VS Wanita Infertil

Pria Impoten VS Wanita Infertil
Perdebatan Kecil


__ADS_3

Pagi ini Jona akan kembali masuk ke kantor setelah beberapa hari ini ia memutuskan untuk diam di rumah. Lagipula istrinya sudah sembuh dan sudah bisa masak untuk menu sarapan pagi untuknya.


"Selamat pagi, sayang."


Olyn menyapa ketika suaminya baru saja datang dan mendaratkan tubuhnya di kursi.


"Iya, pagi. Kamu masak apa? Kelihatannya enak dan aromanya wangi sekali."


"Aku masak cah toge sama tahu. Kamu pasti bakalan suka. Ini masakan sederhana yang mungkin belum pernah kamu makan. Aku masak ayam goreng kremes juga."


"Aku sering makan toge yang ada di soto. Tapi belum pernah kalau makan toge di mix sama tahu kayak gini."


"Aku belajar banyak resep makanan dari momy, mulai dari masakan sederhana sampai masakan kelas resto bintang lima."


"Aku bangga kalau begitu, punya istri yang jago masak."


"Aku masih pemula, belum ahli seperti momy. Tapi aku akan terus belajar buat suami aku betah di rumah. Hehe .."


Jona menanggapinya dengan senyum. Lalu Olyn mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk suaminya.


"Jangan banyak-banyak dulu, takutnya nanti gak habis."


"Iya."


Olyn hanya mengambilkan sedikit saja. Lalu memberikan piring berisi makan tersebut ke hadapan suaminya.

__ADS_1


"Ada meeting penting lagi memangnya sampai harus pergi ke kantor?" tanya Olyn kemudian di sela-sela sarapannya.


Jona menggeleng sembari mengunyah.


"Aku sudah lama gak masuk kantor sejak kamu sakit demam."


"Tapi bisa di handle sama sekretaris kamu itu kan, sayang?"


"Iya, tetap saja aku harus ke kantor."


Olyn mengangguk-anggukan kepalanya.


"Aku sering dengar cerita sebuah percintaan antara boss dan sekretarisnya. Apa kamu juga pernah tertarik sama sekretaris kamu?"


Jona mengulas senyum tipis. "Aku juga pernah dengar cerita wanita yang sudah menikah tertarik lagi dengan masa lalunya."


"Apa maksudmu?" Olyn merasa tersinggung dengan perkataan Jona barusan. Padahal ia hanya berniat bercanda tadi, tapi kenapa Jona membalasnya seolah mengungkit kemunculan Herry.


"Tidak ada maksud apapun. Aku hanya ingin memberi tahu cerita yang sering aku dengar seperti kamu memberi tahu aku tentang cerita yang sering kamu dengar."


Olyn meletakan sendoknya ke atas piring menciptakan dentingan yang lumayan keras.


"Ini sama sekali tidak lucu, Jona!"


Jona terkejut mendapati reaksi Olyn ketika ia membalas perkataan dirinya.

__ADS_1


"Hei, kamu kenapa?"


"Aku kenapa? Kamu yang kenapa? Kenapa kamu terus membahas masa lalu aku? Aku sudah bilang sama kamu jangan pernah bahas itu lagi, Jona! Kamu juga punya masa lalu kan? Gimana rasanya kalau aku terus mengungkit masa lalu kamu? Kamu juga pasti akan kesal kan?"


"Ya terus kenapa kamu menuduh apa aku pernah tertarik sama sekretaris aku?"


"Aku bukan menuduh, aku hanya bertanya. Aku bertanya karena aku sering dengar cerita antara boss dengan-"


"Iya aku pernah," pungkas Jona.


Seketika Olyn diam. Terdiam mendengar jawaban suaminya.


"Aku pernah berhubungan dengan sekretaris aku, bahkan berpacaran."


"Jadi-"


"Bukan sekretaris yang sekarang. Tapi yang dulu, sekretaris yang sekarang dia sudah berkeluarga dan aku juga udah punya kamu. So, jangan pernah berpikir yang macam-macam tentang aku. Justru aku yang sekarang lagi khawatirkan kamu. Aku takut kedatangan masa lalu kamu kembali, membuat hati kamu goyah dengan kekurangan apa yang aku miliki. Sesuatu yang pernah kamu dapatkan darinya, yang tidak akan pernah bisa kamu dapatkan dari aku, Olyn."


Olyn diam dan sedikit menundukan wajah. Ia jadi merasa bersalah karena sudah membahas soal seorang bos dan sekretaris duluan. Karena itu, ia sendiri yang sakit hati begitu Jona yang mengakui sendiri jika dulu dia pernah berhubungan dengan seorang sekretarisnya.


Selera makan Jona sudah hilang. Ia memilih untuk pergi ke kantor saja daripada harus melanjutkan perdebatan dengan istrinya. Ia tidak ingin perdebatan itu berlanjut lama.


"Aku pergi dulu," pamit Jona seraya bangkit dari duduknya.


"Iya," jawab Olyn.

__ADS_1


Meski ia ingin sekali menahan Jona untuk tidak pergi dulu. Tapi ia tidak bisa melakukannya.


_Bersambung_


__ADS_2