
Olyn memutuskan untuk istirahat usai makan dan minum obat. Jona menyelimuti tubuh istrinya hingga ke bagian pinggang.
"Tidur, istirahat ya. Aku mau keluar sebentar," pamit Jona.
"Aku mau kamu di sini, temani aku sampai aku tidur seperti di rumah sakit kemarin," pinta Olyn berusaha mencegah kepergian suaminya.
Jona pun akhirnya memilih menurut. Olyn sengaja meminta Jona untuk tetap di sana menemani dirinya. Sikap Jona mulai dingin sejak kemunculan mantan pacarnya.
Sudah lima belas menit Jona menemani Olyn untuk tidur, tapi wanita itu belum kunjung tertidur. Mungkin karena ada kecemasan dalam dirinya, sehingga menyebabkan dirinya sulit untuk tidur.
"Kenapa belum tidur juga? Kamu harus istirahat, sayang."
Olyn senang karena Jona masih memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Aku tidak mengantuk, Jona. Aku tidak bisa tidur. Kamu tetap di sini temani aku, ya. Sampai aku benar-benar tertidur."
"Ini sudah cukup lama, kamu harus segera tidur. Kamu ingat kata Dokter tadi apa? Kamu harus banyak istirahat."
"Istirahat bukan berarti harus tidur kan?"
Jona langsung diam. Apa yang di katakan oleh istrinya ada benarnya juga. Istirahat tidak harus tidur.
"Iya, tapi-"
__ADS_1
"Memangnya kamu mau kemana sih? Aku perhatikan kamu gelisah sedari tadi."
Jona menggeleng. "Aku tidak gelisah. Itu hanya perasaanmu saja."
"Kamu gelisah, Jona. Apa yang sedang kamu pikirkan? Apa kamu masih memikirkan ucapan Herry?"
Kening Jona berkerut. "Siapa Herry?"
Olyn sadar, tidak seharusnya ia menyebut nama mantan pacarnya.
"Mmm .. Pria yang tidak sengaja menabrak ku di rumah sakit tadi."
"Mantan pacar kamu itu?"
"Olyn memang suka sekali masak opor ayam ketimbang resep yang momy beri. Dia waktu itu pernah masakin opor ayam juga buat Herr-"
Jona ingat ucapan momy tadi yang tiba-tiba menggantung kalimatnya.
"Jadi yang di maksud momy itu Herry?" tanya Jona kemudian.
Tidak seharusnya Olyn menyebut nama pria itu di depan Jona. Jika sudah begini, Jona pasti akan berpikir yang macam-macam.
"Aku pikir kalian sudah sangat dekat dulu."
__ADS_1
"Bagaimanapun dia hanya masa lalu aku dan hanya akan menjadi bagian dari masa lalu aku saja, Jona. Tidak lebih dari itu. Bukankah kamu juga memiliki mantan pacar dan masa lalu? Bertemu lagi di hari yang tidak bisa kita prediksi itu bukanlah suatu keinginan. Aku juga tidak ingin bertemu lagi dengannya."
Entah kenapa, kata-kata Olyn barusan menarik perhatian Jona untuk mengetahui lebih jauh soal pria itu.
"Memangnya apa alasan kalian putus?"
Pertanyaan Jona membuat Olyn mengerutkan keningnya heran. Seharusnya itu tidak keluar dari mulut seorang Jona.
"Aku maupun kita sudah katakan sebelumnya bukan? Tidak ada yang mau menikah dengan aku ketika mereka tahu jika aku ini wanita infertil. Apa kamu lupa kalau istri kamu itu seorang infertil?"
Jona diam, ia terlihat memikirkan sesuatu.
"Apa itu artinya dia dan kamu pernah .."
Jona langsung menghentikan kalimatnya, sadar jika itu akan menyakiti hati istrinya.
Wajah Olyn berubah kesal. Kenapa Jona jadi seperti ini dan dia menunjukkan kecemburuan yang terlalu over.
"Apa tidak ada hal lain yang menarik untuk kita bahas selain ini?"
"Maaf, maafkan aku, sayang. Aku terlalu terbawa emosi untuk pertemuan antara kita dengannya tadi." Jona betul-betul minta maaf dan merasa bersalah karena sudah mengungkit masa lalu Olyn.
Kemudian mereka mencoba mengganti topik pembicaraan, tapi Olyn sudah tidak ingin bicara karena terlanjur kesal terhadap Jona. Dia memutuskan untuk tidur saja.
__ADS_1
_Bersambung_