Pria Impoten VS Wanita Infertil

Pria Impoten VS Wanita Infertil
Kemunculan Seseorang


__ADS_3

Keesokan harinya, Olyn sudah bisa pulang setelah di cek kembali kondisinya oleh Dokter dan demamnya sudah turun. Suhu tubuhnya sudah normal. Hanya saja, Dokter menyarankan Olyn untuk banyak istirahat.


Momy dan papi, tuan dan nyonya Artur sudah pulang lebih awal menuju rumah yang saat ini di tinggali oleh Jona. Untuk menyambut kepulangan Olyn dari rumah sakit. Momy dan nyonya Artur sementara waktu akan nginap di rumah tersebut sampai Olyn benar-benar sehat dan bisa beraktivitas seperti sedia kala.


Usai menebus obat dan vitamin, Jona dan Olyn bergegas menuju mobil. Mereka jalan pelan-pelan karena Olyn masih lemas.


Tiba-tiba seseorang datang dari arah berlawanan dengan langkah tergesa-gesa sampai tidak sengaja menabrak bahu Olyn dan nyaris terjatuh. Beruntung Jona dengan cekatan menangkap tubuh istrinya.


"Agh .." Olyn memekik saat seseorang itu menabrak bahunya hingga nyaris jatuh.


Seseorang itu menghentikan langkah dan membalikan badan karena terlalu ceroboh juga tidak hati-hati saat berjalan.


"Maaf, aku terburu-buru. Aku minta maaf," ucap pria itu.


"Lain kali hati-hati. Istri saya baru sembuh," tegur Jona.


"Iya, aku minta maaf," ucap pria itu lagi.


Pada saat pria itu hendak pergi melanjutkan langkahnya, tiba-tiba ia menyadari siapa wanita yang tidak sengaja ia tabrak barusan ketika Olyn mendongakan wajah.

__ADS_1


"Olyn?" tunjuk pria itu.


Reaksi wajah Olyn terkejut melihat siapa pria tersebut. Jona sendiri bingung kenapa orang itu bisa mengenali istrinya.


"Kamu beneran sudah menikah ternyata," ujar pria itu lagi seakan tidak percaya.


"Maaf, kamu siapa?" tanya Jona.


Pria itu mengulas senyum yang sulit sekali di artikan. Kemudian mengulurkan tangan seraya mengenalkan diri.


"Aku adalah segalanya bagi Olyn," ucap pria itu menciptakan kerutan dalam di kening Jona.


Jona refleks melihat ke arah Olyn. Jujur ia tidak paham akan maksud pria itu.


Jona mengabaikan perkataan yang pria itu katakan barusan. Tapi langkahnya kembali terhenti pada saat pria itu mengatakan sesuatu lagi.


"Kenapa mesti ketakutan, Olyn? Bukankah kita sering bahagia bersama?"


Entah kenapa, Jona merasa kata-kata pria itu mulai mengusik dirinya. Jona membalikan badan dan maju selangkah berdiri tepat di hadapan pria itu. Ia mengabaikan panggilan Olyn untuk pergi saja dari sana.

__ADS_1


"Jona, ayo pergi. Kontrol dirimu dan jangan pernah terpengaruh oleh ucapannya!"


Jona mengabaikan Olyn. Dia menatap mata pria di hadapannya dengan tajam.


"Apa maksudmu bicara seperti itu? Memangnya kau siapa?" rahang Jona sudah terlihat mengeras.


"Aku sudah katakan tadi siapa aku, kamu bisa tanya langsung pada istrimu. Kenapa dia mesti menghindar dan ketakutan."


Jona menghembuskan napas. Ia masih bisa mengontrol diri dan berusaha untuk tidak terpancing.


"Siapapun kamu, jangan pernah coba masuk ke dalam rumah tangga orang lain!"


Jona mencoba memberi peringatan pada pria yang tidak ia kenal itu. Dan pria itu memajukan wajahnya, membisikan sesuatu pada telinga Jona.


"Aku tidak perduli. Selagi ada celah, kenapa tidak?" ucapnya di akhiri dengan senyum seringai dan mengerlingkan sebelah matanya pada Olyn, setelah itu dia pergi.


Kedua tangan Jona mengepal, ingin rasanya ia menghajar pria tersebut. Tapi ia sadar jika dia sedang berada di rumah sakit dan tidak sepantasnya mencari keributan.


"Jona, ayo pergi."

__ADS_1


Suara Olyn menyadarkan Jona yang sudah di selimuti oleh kemarahan. Ia menatap wajah istrinya untuk seperkian detik, sebelum kemudian mereka pergi dari sana.


_Bersambung_


__ADS_2