Pria Impoten VS Wanita Infertil

Pria Impoten VS Wanita Infertil
Sapaan Maut


__ADS_3

Minggu berikutnya Jona pergi ke tempat pengobatan alternatif minggu lalu. Di sana dia langsung menanyakan apa impoten nya masih bisa di sembuhkan atau tidak. Orang yang menanganinya mengatakan ada sedikit kemungkinan, namun tidak bisa di pastikan juga. Dan itu artinya dia memang benar-benar impoten secara permanen.


Seperti pemikiran sebelumnya, apapun yang terjadi dan hasilnya seperti apa, Olyn akan tetap menerima Jona dengan kondisinya. Sedikitpun ia tidak kecewa dengan apa kenyataan.


Sepulang dari tempat pengobatan alternatif itu, Olyn meminta Jona untuk mampir dulu ke supermarket. Ia ingin membeli bahan masakan yang ia ingin masak untuk makan malam kali ini. Begitu sampai di rumah, ia langsung menaruh bahan masakan tersebut ke dalam kulkas untuk di masak tadi.


Sementara Jona menghampiri papa dan mamanya di ruang keluarga. Mereka menanyakan bagaimana hasil pengobatan kali ini, sekaligus hubungannya dengan Olyn sekarang.


"Olyn tetap menerima apapun hasilnya, ma, pa. Dan hubungan aku sama Olyn sudah membaik. Kita sudah sepakat jika ini yang terakhir kalinya ke tempat itu," jelas Jona.


"Oh syukurlah kalau hubungan kalian sudah membaik, mama lega dengarnya. Jujur mama ikut sedih dengan hubungan kalian minggu lalu, sulit mendapatkan wanita seperti Olyn. Karena kebetulan Olyn juga memiliki masalah yang sama dengan kamu."


Jona mengangguk. "Iya, ma. Terkadang aku kasihan juga sama Olyn. Meskipun dia memiliki masalah dalam dirinya, dia berhak mendapatkan pria normal. Setidaknya yang tidak subur namun tidak impoten."

__ADS_1


"Shttt .. Jangan bicara begitu. Kalian sudah di takdirkan untuk bersama. Jangan bicara seperti barusan lagi. Karena hal itu justru yang akan menjadi benih-benih dalam pertengkaran di dalam rumah tangga kalian. Sebaiknya bicarakan saja masa depan kalian berdua dengan saling menyemangati satu sama lain," tutur nyonya Artur.


"Iya, mama kamu benar, Jona. Kamu sudah dewasa, seharusnya masalah seperti itu tidak pantas untuk di perdebatkan. Berpikir lebih positif lagi ke depannya dan jadilah pemimpin rumah tangga yang baik," timpal tuan Artur ikut angkat bicara.


Jona mengangguk paham. "Iya, pa."


"Oh ya, apa kalian ada rencana untuk adopsi seorang anak?" tanya nyonya Artur kemudian setelah beberapa saat terdiam.


Jona mengerutkan keningnya.


"Apapun keputusan kalian, mama akan tetap dukung. Tetaplah berbahagia."


"Iya, ma, pa. Terima kasih."

__ADS_1


Jona merasa tenang dan damai berada di antara keluarga yang bisa mengerti dirinya.


Sementara di dapur, Olyn tengah menata bahan masakan di kulkas. Sebelumnya asisten rumah ingin mengambil alih dan biar itu menjadi pekerjaan mereka saja, tapi Olyn tetap ingin menata sendiri ke dalam kulkas.


"Aku ingin masak opor ayam untuk menu makan malam nanti. Aku yakin, Jona, mama, dan papa pasti bakalan suka opor ayam versi masakan aku, hihi," ujar wanita itu dengan penuh percaya dirinya.


Olyn memang tidak begitu jago memasak, tapi ia tidak malas untuk belajar. Sedikit banyaknya ia belajar dengan momy nya.


Selama setelah menikah, ia belum pernah masak untuk Jona. Jadi ia ingin sekali masak untuk suaminya. Sekaligus memberi tahu mereka jika ia juga bisa masak.


Setelah selesai memasukan bahan masakan ke dalam kulkas, tiba-tiba ia melihat ada kaki seseorang yang berdiri di dekatnya. Begitu ia lihat, ternyata itu Elea. Gadis itu melayangkan senyuman yang sulit di artikan.


Olyn bangkit berdiri berhadapan dengan Elea, perasaannya sedikit tidak enak.

__ADS_1


"Hai, kak infertil," sapa gadis itu membuat iris mata Olyn melebar seketika.


_Bersambung_


__ADS_2