Pria Impoten VS Wanita Infertil

Pria Impoten VS Wanita Infertil
Menepati Janji


__ADS_3

Di tempat lain, Elea memasuki kamar hotel yang sudah di booking oleh Herry. Gadis itu lekas duduk di tepi ranjang karena baru saja menghabiskan waktu di luar dengan jalan-jalan dan membeli makanan.


Herry menyusul duduk di tepi ranjang usai menutup kembali pintu kamarnya.


"Akhirnya kita bisa berduaan untuk malam ini, sayang."


"Iya, aku senang. Aku harap kita bisa melewati malam panjang lagi kedepannya."


"Are you sure?"


"Tentu. Aku bahagia jika berada di dekatmu," ungkap Elea.


Herry tersenyum dan menatap wajah gadis di depannya dengan tatapan lekat. Elea mulai salah tingkah dibuatnya.


"Herry, jangan menatapku seperti itu. Aku jadi malu," ujar gadis itu seraya menutupi wajahnya yang sudah merona.


"Kamu cantik sekali Eleanor," puji Herry.


Wajah Elea semakin memerah seperti tomat. Elea belum pernah merasakan jatuh cinta seperti ini sebelumnya. Entah kenapa bersama Herry, hidupnya terasa bahagia.

__ADS_1


Herry mengalihkan anak sulur rambut yang menutupi sebagian pipi Elea dan menyelipkan di daun telinga. Ia juga mulai merapatkan posisi duduknya jauh lebih dekat dari sebelumnya. Sehingga jarak di antara mereka hanya beberapa senti saja.


"Aku mau menagih janjiku. Aku harap kamu menepatinya," ucap Herry.


Elea menelan salivanya dengan susah payah. Ia sudah duga jika Herry pasti akan menagih janjinya.


"Aku harap kamu tidak mengecewakanku, Eleanor," imbuh pria itu.


Elea menganggukan kepalanya. Ia bersedia memenuhi janjinya. Tapi sebelum itu, ia teringat sesuatu.


"Aku ingin bertanya satu hal sama kamu dan kamu harus jawab jujur, Herry."


"Apa itu?"


"Apa kamu mengenal kakak iparku sebelumnya? Kenapa dia tiba-tiba menghindar pada saat aku datang dan kamu mengenalkan diri padanya? Aku merasa ada sesuatu di antara kalian meski berulang kali aku mencoba menyangkalnya."


Herry seketika diam. Mungkin tidak ada salahnya juga jika ia jujur terhadap Elea. Justru bagus jika Elea tahu soal ini.


"Olyn mantan pacarku."

__ADS_1


Elea refleks menjauh pada saat Herry menjawab pertanyaannya. Iris matanya seketika melebar dan bola matanya terbuka sempurna. Kemudian ia menggeleng kecil untuk menyangkal semua itu.


"Tidak. Kamu pasti bohong kan?"


Herry mendekat dan mencoba menjelaskan sesuatu pada Elea.


"Aku serius. Olyn mantan pacar aku. Itulah kenapa Olyn menghindar dan kelihatan marah ketika kamu datang dan memanggil aku dengan sebutan sayang di depannya. Apalagi pada saat kamu memperkenalkan aku sebagai pacarmu di depannya. Olyn pasti tidak terima kamu jadi pacar aku, sayang. Karena dia belum bisa menerima kalau aku mengakhiri hubungan dengannya dulu," jelas Herry, dia berusaha meyakinkan Elea jika yang di katakan nya itu benar.


Elea masih tidak percaya, namun Herry yang mengatakannya sendiri.


"Olyn itu ternyata wanita infertil, sementara aku ingin menikah dengan wanita yang tentunya bisa memberi aku keturunan. Oleh karena itu aku mengakhiri hubunganku dengannya, tapi dia tidak terima. Dan aku yakin, setelah dia tahu kalau kamu sekarang yang jadi pacar aku, dia pasti akan melakukan berbagai cara untuk memisahkan kita. Tapi kamu tenang saja, sepenuhnya aku milikmu, sayang. Herry hanya milik Eleanor."


Entah kenapa kata-kata Herry barusan membuatnya membenci Olyn. Dan ia setuju dengan apa yang di katakan oleh Herry, jika pria itu adalah miliknya. Hanya miliki nya. Ia tidak ingin Olyn merebut Herry darinya.


"Sekarang, aku harap kamu menepati janji kamu, baby."


Elea melihat Herry menatap dirinya dengan tatapan sangat lekat. Kemudian ia menganggukan kepalanya.


Perlahan Elea mulai menepati janjinya, yaitu memperlihatkan tubuh bagian atasnya pada Herry sama hanya seperti di kamera. Sudut bibir pria itu mulai terangkat membentuk senyum seringai penuh kepuasan.

__ADS_1


Belum terbuka sepenuhnya, Herry sudah menarik tengkuk Elea dan mendaratkan bibirnya di bibir ranum gadis itu hingga pemiliknya terkejut matanya melotot.


_Bersambung_


__ADS_2