Pria Impoten VS Wanita Infertil

Pria Impoten VS Wanita Infertil
Menjaga


__ADS_3

Kelopak mata Olyn mulai bergerak-gerak dan perlahan matanya terbuka. Namun, ketika matanya terbuka ia terkejut melihat ia di kelilingi oleh orang-orang yang ia cintai. Ia pun bangun dengan spontan.


"Momy, papi, mama, papa?" ucapnya pertama kali ketika bangun dari tidur.


Mereka semua mengulas senyum kepada dirinya dengan kekhawatiran yang tidak bisa mereka sembunyikan.


"Anak momy kenapa sakit gak bilang-bilang, sayang?" momy mendekat ke arah putrinya.


Olyn lekas memandang ke arah pria yang berdiri di samping papi nya.


"Jona, aku-"


"Maaf, tapi aku tidak bisa menyembunyikan ini dari mereka. Mereka berhak tahu," pungkas Jona.


Olyn menghela napas dan memandangi wajah mereka satu persatu. Kemudian berhenti pada wajah momy nya yang terlihat khawatir akan dirinya. Olyn kemudian memegang tangan momy nya.


"Aku baik-baik saja, mom. Momy tidak usah khawatir, aku akan selalu baik-baik saja selama ada Jona," ucap Olyn.


Momy lekas membelai lembut rambut Olyn.


"Momy tahu kamu anak yang kuat. Tapi please, kalau terjadi sesuatu sekecil apapun beri tahu momy. Jangan buat momy, papi dan semuanya khawatir."


Olyn mengangguk. Ini yang ia khawatirkan jika momy nya tahu jika ia sakit. Momy pasti akan mengkhawatirkan dirinya sebab beliau tahu jika ia benci rumah sakit usai pengangkatan rahim kala itu.


Momy lekas membawa tubuh putrinya ke dalam pelukannya.


Kemudian nyonya Artur ikut mendekat.


"Cepat sembuh ya menantu kesayangan mama," ucap beliau.


Olyn melepaskan dirinya dari pelukan momy.


"Iya, ma. Maaf ya kalau aku membuat mama, papa, papi juga, semua jadi repot."


"Mama tidak merasa di repotkan. Jangan berpikir dan bicara seperti itu lagi. Kita adalah keluarga."

__ADS_1


Olyn mengangguk lagi. "Iya, ma."


Olyn senang begitu mendapat banyak dukungan dari orang-orang sekitarnya walaupun ia hanya sakit demam, tapi mereka begitu support terhadap kesembuhan dirinya.


Papi dan tuan Artur kemudian berjaga di luar ruang rawat inap. Sementara momy dan nyonya Artur di sofa. Jona sendiri duduk di samping istrinya. Menemani ketika malam hari tiba.


Olyn melihat momy dan mama mertuanya sudah tidur. Kini hanya ia dan Jona yang masih terbangun. Waktu sudah menunjukan jam sepuluh malam.


"Tidur. Kamu pasti ngantuk kan. Seharian ini kamu jagain aku terus."


"Aku mau jagain kamu saja, sayang," ucap Jona tanpa melepaskan genggaman tangannya.


"Aku udah di jagain sama papi dan papa dari luar. Kamu tidur saja. Kan gak lucu kalau misalkan kamu ikut sakit karena kecapean jagain aku."


Jona tersenyum. Ia berusaha meyakinkan istrinya jika ia belum ngantuk. Padahal mata nya sudah kemerahan.


"Aku tidurnya nanti, kalau kamu udah tidur."


"Kalau begitu kita tidurnya bareng aja."


"Aku tidur, kamu juga tidur."


Jona menggeleng. "Enggak. Aku harus mastiin kalau kamu tidur."


"Aku pikir aku yang keras kepala, ternyata kamu juga."


"Mana ada aku keras kepala?"


"Itu buktinya."


"Mana?"


"Aku gak mau tahu pokoknya kita harus tidur barengan."


"Kamu saja yang tidur. Begitu kamu tidur, aku bakalan tidur."

__ADS_1


Akhirnya Olyn mengalah, karena ia tidak punya cukup energi untuk berdebat. Ia masih merasa lemas.


"Ya udah iya, aku tidur. Tapi kamu harus janji, begitu aku tidur. Kamu juga tidur."


Jona mengangguk. "Iya, sayang."


Olyn pun memanyunkan bibirnya, membuat Jona mengerutkan kening bingung.


"Apa itu maksudnya?"


"Kiss dulu," pinta wanita itu dan menciptakan tawa kecil di bibir Jona.


Jona menoleh ke arah mama dan momy, untuk memastikan jika mereka tidur pulas. Barulah ia mendaratkan ciuman singkat di bibir istrinya.


Cup.


Ciuman singkat barusan membuat Olyn merasa jika dunianya baik-baik saja. Ia tidak merasa seperti orang sakit.


"Sudah sana tidur."


Olyn mengangguk dengan ulasan senyum.


"Iyaaa .."


Olyn pun memejamkan kedua matanya. Sementara Jona terus memandangi wajah cantik istrinya.


"Andai aku normal, aku pasti tidak akan membiarkan malam tanpa penyatuan," ucap Jona ketika ia berpikir Olyn telah tidur.


"Apa?" sahut wanita itu dengan membuka sebelah matanya, mengejutkan Jona.


Jona langsung mundur dan menyadari apa yang ia katakan barusan. Ia menggeleng keras dan salah tingkah.


"Tidak, tidak. Aku kira kamu sudah tidur," jawab Jona sambil gelagapan.


Olyn hanya bisa senyum sambil geleng-geleng, sebelum kemudian ia memutuskan untuk tidur beneran.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2