Pria Impoten VS Wanita Infertil

Pria Impoten VS Wanita Infertil
Sedikit Mesra


__ADS_3

Olyn dan Jona masih di taman. Jona baru saja membeli air mineral botolan dan di berikan pada istrinya usai membuka tutup kemasannya. Olyn menenggaknya sedikit, sebelum kemudian di kembalikan pada Jona. Jona pun meminumnya.


"Oh ya, kamu bilang Elea bolos kuliah karena laki-laki. Memangnya Elea kalau lagi patah hati sering bolos kuliah ya?" tanya Olyn jadi penasaran.


"Bukan patah hati, lebih tepatnya dia lagi jatuh cinta," jawab Jona sambil menutup kembali botol minum.


"Jatuh cinta?"


"Iya. Elea itu kalau lagi jatuh cinta sama seseorang, dia malas beraktivitas. Dia ingin diam di kamar. Main ponsel, chatting, telepon atau video call dengan orang itu sampai seharian. Dulu dia sering alesan sakit supaya bisa seharian di kamar, tapi mama papa sekarang udah tahu itu. Elea itu orangnya jarang sakit, maka ketika dia beralasan sakit, maka mama papa udah tahu itu cuma akal-akalannya saja supaya bisa bolos kuliah," jelas Jona.


Olyn mengangguk-anggukan kepalanya. Ia terkekeh pelan mendengar begitu lucunya Elea jika sedang jatuh cinta.


"Tapi itu cuma awal-awalan saja. Fase sedang dalam proses pendekatan. Kalau udah berhasil jadian, baru dia gak mau diam di rumah. Sering jalan bareng sama pacarnya itu. Makanya, aku sebagai kakaknya khawatir kalau dia macam-macam di luaran sana."


"Selama masih dalam tahap wajar, kamu jangan terlalu berlebihan mengkhawatirkan dia. Elea sudah dewasa."


"Justru karena dia sudah dewasa, dia sudah tahu sesuatu yang enak."


Jawaban Jona membuat Olyn tertawa.


"Hahaha .."


"Yang paling aku khawatirkan itu bukan poin yang itu, tapi aku takut dia melewati batas wajarnya. Aku takut dia hamil oleh laki-laki yang tidak mau tanggung jawab. Itu poin utamanya," imbuh Jona.


"Iya kamu benar. Biasanya laki-laki memang datang hanya untuk mencicipi saja, setelah itu pergi begitu saja."


Kalimat Olyn membuat Jona kembali berpikir jika istrinya tengah membahas soal masa lalunya sendiri. Ia tatap wajah Olyn dari samping dan Olyn sadar akan ucapannya yang begitu sensitif bagi Jona.


"Apa? Jangan berpikir apapun. Aku hanya membenarkan ucapan kamu saja."

__ADS_1


Olyn takut Jona membahas perihal masa lalunya yaitu Herry. Mengingat tentang Herry, ia jadi tidak tenang juga. Pasalnya pria itu muncul kembali ke permukaan dan mulai mengusik ketenangan rumah tangganya. Ia harap Herry di telan bumi.


Hari mulai petang dan gelap. Pengunjung taman juga sudah mulai berkurang. Menjelang magrib, Anak-anak remaja yang datang bersama dengan kekasih mereka masing-masing. Jona mengajak Olyn untuk pulang saja.


"Kamu pernah berkencan seperti mereka saat masih berpacaran?" Olyn menujuk para pasangan remaja ketika masuk mobil.


Jona terkekeh pelan. "Itu hanya di lakukan oleh pasangan remaja anak SMA saja."


"Memangnya kamu belum pernah?"


"Memangnya kamu pernah?" tanya balik Jona.


Olyn pun diam. Ia bingung harus jawab pernah atau tidak. Jujur ia pernah, tapi jika ia jawab jujur, Jona pasti akan mengungkit lagi soal masa lalunya.


Jona menghidupkan mesin mobilnya dan mulai meninggalkan taman.


"Berapa jumlah mantan pacar kamu?"


"Kenapa kamu harus tanya itu? Kamu kan orangnya cemburuan. Memangnya perlu aku jawab?"


"Iya, jawab saja. Lagian, itu hanya masa lalu kamu saja. Sedang aku suaminya."


Sudut bibir Olyn terangkat membentuk senyum tipis.


"Banyak."


"Berapa?"


"Aku lupa gak hitung. Banyak saja."

__ADS_1


"Hebat, ya. Berarti udah suhu."


Olyn tersenyum sambil geleng-geleng. Ia suka Jona yang santai seperti sekarang. Bukan Jona yang sensitif dan cemburuan. Ia suka Jona cemburu karena itu bukti jika dia takut kehilangannya, tapi cemburu dalam batas wajar saja.


"Mantan kamu banyak juga?"


"Iya lah. Masa aku kalah sama aku. Impoten gini banyak yang mau juga sama aku."


"Hahaha .. Tapi yang mau nikah sama kamu cuma aku kan?"


"Iya, kamu juga. Cuma aku yang mau nikahin kamu. Suami yang beruntung bersama dengan istri yang malang."


"Kenapa begitu."


"Aku beruntung punya kamu, tapi kamu malang sekali punya aku."


"Kata siapa?"


"Aku."


"Kamu salah. Aku juga beruntung punya kamu."


"Sungguh?"


"Ya. Kita sama-sama beruntung bisa memiliki satu sama lain. I love you."


Jona tersenyum, dia kelihatan salah tingkah setelah mendengar kata itu dari Olyn.


"Love you too, sayang," balas Jona.

__ADS_1


Olyn kemudian menautkan tangannya pada tangan Jona. Mereka saling menatap satu sama lain untuk seperkian detik. Sebelum kemudian Jona harus fokus lagi ke depan.


_Bersambung_


__ADS_2