Pria Impoten VS Wanita Infertil

Pria Impoten VS Wanita Infertil
Ketulusan Jona


__ADS_3

"Olyn, berhenti keras kepala! Please. Asal kamu tahu, ya. Aku ini panik, aku takut kamu kenapa-kenapa. Tolong mengertilah!"


Usai mengatakan hal barusan, kedua mata mereka saling menatap. Olyn bisa melihat seberapa besar kekhawatiran suaminya terhadap dirinya. Tapi jujur ia benci rumah sakit dan tidak ingin berada di sana.


"Apa itu artinya kamu takut kehilanganku?"


Pertanyaan itu keluar dari mulut Olyn.


"Pertanyaan macam apa itu?"


"Akui saja, apa itu artinya kamu begitu takut kehilangan aku, Jona?" desak Olyn.


Untuk beberapa detik Jona terdiam, sebelum kemudian ia mengangguk membenarkan perkataan Olyn.


"Iya, tentu saja aku takut kehilangan kamu, sayang," ungkap Jona.


Seulas senyum pun terbit dari bibir pucat Olyn. Ia tidak pernah menyangka bisa di cintai oleh pria sebesar ini.


"Terima kasih, Jona. Terima kasih sudah jadi suami aku," ucap Olyn kemudian terharu.


"Iya. Kamu harus nurut apa kata aku. Aku tidak mau kamu sakit. Aku mau kamu sembuh, sehat. Jadi, untuk sementara kita di sini dulu, ya. Aku bakal temani kamu terus. Aku bakal terus di samping kamu."


Olyn mengangguk. Kemudian Jona mencoba melepaskan tangannya dari bahu istrinya dan duduk di kursi tadi.


Kemudian seorang suster datang dengan membawa makanan dan juga obat serta vitamin sesuai dengan perintah Dokter tadi.


"Pasien harus makan dulu sebelum minum obat dan vitaminnya."


"Iya, biar saya saja yang suapin istri saya, suster."


"Baik."

__ADS_1


Suster pun menyerahkan nampan yang di bawanya kepada Jona. Kemudian pamit permisi keluar.


Jona meletakkan nampan di atas nakas di samping ranjang. Mengambil sepiring nasi dan lauk pauk.


"Makan dulu, ya. Biar cepat sehat lagi."


"Iya," jawab Olyn.


Jona mulai menyuapi istrinya dan tanpa canggung Olyn membuka mulutnya dengan lebar. Ini bukan pertama kalinya makan di suapin oleh Jona, tapi rasanya beda dari yang biasanya.


Olyn mengunyah makanannya tanpa melepas pandangan dari wajah suaminya. Ia melihat ketulusan di wajah Jona untuk dirinya dan ia memberanikan diri menyebut dirinya wanita beruntung karena memiliki suami baik dan tulus dengan segala kekurangan yang mereka miliki.


"Kamu juga ikut makan," pinta Olyn.


"Hm? Ini kan makanan buat kamu. Kamu yang harus habiskan."


"Aku mau kamu juga ikut makan. Kalau enggak, aku enggak mau makan juga."


"Aku nanti makan di kantin saja."


"Aku maunya kamu ikut makan juga. Kamu pasti belum makan dari pagi kan karena sibuk urusin istri kamu yang lagi sakit ini."


"Shtt .. Jangan bicara seperti itu. Sudah menjadi kewajiban aku sebagai suami."


"Kalau begitu, ikut makan."


Jona menghembuskan napas kecil. Jujur ia memang lapar, tapi ia masih bisa tahan sampai nanti makan di kantin. Tapi Olyn tetap maksa buat ia ikut makan. Akhirnya suapan kedua untuk Olyn menjadi suapan pertama untuk dirinya. Olyn pun tersenyum puas karena Jona ikut makan.


Makanan pun habis dan Olyn tertawa karena Jona yang menghabiskan makanannya. Ia hanya beberapa suapan saja karena selera makannya hilang.


"Aku tahu kamu lapar, makanya jangan sok soan nolak. Pasti masih ingin nambah kan?"

__ADS_1


Jona mengangguk mengakuinya dengan rasa malu. Dan ia akan menyambung makan nya nanti di kantin untuk mengenyangkan.


"Minum obat dulu setelah itu tidur, ya."


Olyn mengangguk menurut. "Iya."


Jona memberikan beberapa obat pada Olyn dan Olyn telan sekaligus di dorong dengan air putih. Setelah itu dia kembali berbaring.


"Istirahat, ya."


"Iya. Nanti kalau aku sudah tidur, kamu langsung ke kantin. Makan."


"Iya."


"Oh ya, mama papa sama momy papi aku tahu kalau aku di rumah sakit?" tanya Olyn kemudian baru ingat.


Jona menggeleng. "Maaf, aku belum sempat kasih tahu mereka."


"Kalau begitu gak perlu sekalian. Aku takut bikin mereka cemas kayak kamu. Lagian aku sudah baik-baik saja. Nanti aku pasti sudah di perbolehkan untuk pulang."


"Iya," jawab Jona menurut.


"Aku tidur, ya."


"Iya, sayang."


Olyn memejamkan matanya dan Jona masih menemani di sampingnya. Walaupun Olyn minta dirinya untuk tidak memberi tahu mama papa dan momy papinya, tetap saja ia akan memberi tahu mereka.


Jona melihat sepertinya Olyn sudah pulas. Ia bangkit dari duduknya. Meninggalkan sebuah kecupan singkat di kening Olyn sebelum keluar dari ruangan menuju kantin.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2