
Olyn mengikuti langkah suaminya yang baru pulang kantor menuju kamar. Ia ingin memastikan apa Jona masih marah padanya soal tadi pagi atau tidak.
Jona hendak membuka jas hitam yang ia kenakan, lalu Olyn dengan cepat membantunya.
"Aku bantu."
"Gak usah, biar aku saja," tolak Jona.
Olyn pun tidak jadi membantunya. Bibirnya membentuk kecurut dan ia yakin jika Jona masih marah padanya.
"Jona, kamu masih marah sama aku?"
Jona melempar jasnya ke sembarang ke arah sofa. Lalu duduk di tepi ranjang tempat tidur, melipat lengan kemeja putihnya.
Olyn duduk di samping suaminya.
"Jona, kamu masih marah, ya?" ulang Olyn.
"Marah untuk apa?" Pria itu bertanya balik.
"Untuk soal tadi pagi. Kamu masih marah ya sama aku?"
Jona beralih menatap Olyn.
"Memangnya aku kelihatan marah sama kamu?"
Olyn mengangguk. "Iya, sikap kamu beda."
"Itu mungkin hanya perasaan takut kamu saja. Aku mana ada marah sama kamu."
"Jadi kamu gak marah sama aku?"
"Hm."
Sudut bibir Olyn perlahan terangkat membentuk sebuah senyum kecil. Ia senang jika Jona tidak marah padanya.
"Syukurlah. Aku pikir kamu marah. Ah iya, adik kamu ada di sini."
Jona sedikit kaget mendengar kalimat akhir istrinya.
"Elea?"
"Iya, memangnya siapa lagi?"
__ADS_1
"Dimana?" Jona refleks mengedarkan pandangan ke sekitar untuk mencari sosok adiknya.
"Bukan di kamar kita, tapi di kamar sebelah."
Jona diam sejenak. "Kenapa dia bisa ada di sini?"
"Bolos kuliah."
"Bolos?"
Olyn mengangguk membenarkan.
Jona langsung bangkit berdiri dari duduknya dan bergegas pergi.
"Kamu mau kemana?" Teriak Olyn.
"Aku mau temuin Elea."
Olyn ikut bangkit dari duduknya dan segera menyusul Jona.
Jona sampai di depan pintu kamar dimana katanya ada Elea di dalamnya. Ia memutar knop pintu namun pintunya di kunci. Ia lekas mengambil kunci serep di laci nakas yang tidak jauh dari pintu kamar tersebut.
Klek ..
Begitu pintu di buka, muncul sosok pria tinggi besar dari balik pintu. Elea langsung bangun duduk dengan raut wajah panik.
"Kak Jona?!"
Jona melangkah masuk ke kamar itu, di belakangnya ada Olyn berjalan mengikuti.
Elea menatap wanita di belakangnya dan memberi tatapan marah, kenapa kakaknya di beri tahu jika ada ia di rumah tersebut.
"Kamu beneran bolos kuliah?"
Pertanyaan Jona membuat Elea tambah ketar-ketir.
"Laki-laki mana lagi yang buat kamu harus bolos kuliah?" Imbuh Jona.
Olyn refleks memandang wajah suaminya usai mendengar pertanyaan yang di lontarkan untuk Elea.
Sepertinya Jona sudah tahu kebiasaan bolos Elea karena laki-laki.
"Apa aku harus memberi tahu kalian?" sahut Elea karena ia tidak suka jika kakaknya selalu kepo tentang siapa pria yang sedang dekat dengannya.
__ADS_1
"Tentu saja. Kamu itu perempuan dan kakak sebagai kakak kamu akan melindungi kamu dari laki-laki yang bisa saja macam-macam sama kamu."
"Astga, kak Jona! Aku ini besar besar, lebih baik kakak urus saja istri kakak. Aku bisa jaga diri, kok."
"Kamu selalu begitu kalau di kasih tahu."
"Ya memang aku bukan anak kecil lagi kan?"
Jona hanya bisa menghembuskan napas. Elea memang keras kepala jika di ingatkan.
"Mama sama papa tahu kamu bolos kuliah dan pergi ke sini?"
"Kalau mama sama papa tahu, mungkin aku sekarang gak ada di sini. Mungkin aku juga gak bakal mau memenuhi syarat istri kakak untuk membersihkan toilet kamar kalian demi aku bisa bolos kuliah."
Jona spontan menoleh ke arah istrinya. Olyn mengangguk membenarkan perkataan Elea.
Jona beralih memandang adiknya lagi.
"Sebaiknya kamu pulang sekarang, kamu gak bisa nginap di sini tanpa izin mama papa. Nanti mereka cemas kalau kamu tidak pulang tanpa memberi kabar."
"Kak Jona tenang saja, aku sudah bilang sama mama papa kalau aku nginap di sini."
"Pakai alasan apa?"
"Kakak ipar ngajak aku makan malam."
Olyn geleng-geleng kepala. Bisa-bisanya Elea menjual namanya untuk di jadikan alasan supaya dia tidak ketahuan bolos.
"Siapapun laki-laki yang dekat sama kamu saat ini, jangan pernah macam-macam. Atau kakak bakal aduin ke mama papa kalau kamu bolos kuliah," ancam Jona.
"Siap," jawab Olyn menggunakan gerakan hormat.
"Dan akan memberi tahu mama papa kalau aku tidak pernah mengajak kamu makan malam bersama," timpal Olyn.
Lagi-lagi Elea merasa kakak iparnya begitu menyebalkan.
"Iya, iya. Ya sudah sana kalian balik ke kamar kalian. Mau mesra-mesraan bukan? Kalian kan suami istri? Sering-sering lah mesra-mesraan berdua."
"Jaga bicara kamu, Elea!" Jona berusaha memberi peringatan.
"Iya, maaf. Gitu aja baper."
Jona melayangkan tatapan tajam dan Elea segera menunduk. Cukup satu kali ia mendapat tamparan dari sang kakak, jangan sampai menciptakan sejarah untuk yang kedua atau kesekian kalinya.
__ADS_1
_Bersambung_