Pria Impoten VS Wanita Infertil

Pria Impoten VS Wanita Infertil
Memberi Pengetian


__ADS_3

Seorang wanita paruh baya terkejut melihat putrinya pulang dalam keadaan menangis.


"Olyn, sayang. Kamu kenapa?"


Wanita itu langsung menghampiri putrinya di ambang pintu. Olyn langsung menghambur ke dalam pelukan momy nya.


"Momy .. Hiks .. hiks .." Olyn menangis dalam pelukan momy nya, hal itu membuat momy nya merasa khawatir. Terlebih Olyn datang tidak bersama Jona, ia jadi kian cemas.


Setelah puas berpelukan, Momy nya mengajak Olyn untuk duduk di sofa ruang tamu. Momy nya menunggu sampai Olyn sedikit tenang sebelum kemudian bertanya apa yang terjadi padanya.


"Jona menyakitimu?" tanya wanita itu kemudian setelah melihat putrinya tenang.


Olyn diam. Isak tangisnya masih terdengar. Ia berusaha mengatur deru napasnya yang sedikit memburu akibat menangis.


"Ada apa, Olyn? Apa yang terjadi padamu? Apa Jona menyakitimu? Kenapa kamu sampai pulang dan menangis?"

__ADS_1


"Aku mau jujur saja sama momy. Ada hal yang belum aku katakan sama momy tentang Jona. Sebenarnya momy tidak perlu tahu soal, tapi aku rasa sekarang momy perlu tahu permasalahannya."


Momy memasang raut wajah penasaran.


"Jujur tentang apa?"


Olyn sudah memikirkan dengan matang dan ia sudah membuat keputusan yang bulat untuk memberi tahu tentang Jona. Dengan itu dia berharap momy nya bisa memberi solusi yang terbaik untuk rumah tangganya.


"Jona tidak hanya tidak subur, mom. Jona sebenarnya pria impoten juga," ungkap Olyn.


"Aku minta maaf kalau aku tidak beri tahu momy soal ini, karena aku rasa momy tidak perlu tahu untuk hal ini. Dan aku rencananya ingin Jona sembuh, dengan membawa dia ke pengobatan alternatif. Tapi Jona tersinggung dengan hal itu, karena dia bilang jika impoten nya itu permanen. Dia bilang kalau aku yang terobsesi akan kesembuhannya dan berpikir kalau aku tidak benar-benar menerima kekurangannya. Padahal aku hanya ingin dia sembuh untuk kebaikannya juga."


Olyn cerita sambil menahan air matanya supaya tidak jatuh lagi. Tapi ia tidak mampu menahan air matanya itu.


Momy mengusapi punggung Olyn sambil mencari solusi yang baik untuk memecahkan masalah ini.

__ADS_1


"Apa aku ini salah, mom? Padahal aku hanya berusaha demi kebaikannya juga?"


Momy menganggukan kepalanya. "Iya, sayang. Momy paham maksud kamu. Tidak ada yang salah dengan kamu. Tapi, kamu juga harus bisa memahami perasaan Jona. Jangan sampai perbuatan kamu justru malah menyinggung perasaan dia. Apa yang menurut kamu baik, belum tentu buat dia. Niat kamu mungkin baik, kamu ingin Jona sembuh. Tapi kembali lagi sama Jona, dia kan sudah bilang jika impoten dia permanen. Otomatis dia akan berpikir apa yang kamu lakukan sama saja dengan kamu tidak bisa menerima masalah dia, sayang."


Momy berusaha memberi pengertian pada putrinya. Berharap Olyn mengerti maksud dirinya. Jika semua yang menurut kita baik, belum tentu baik juga untuk orang lain.


"Semisal begini, sayang. Momy bukan sedang membela Jona. Kamu juga memiliki masalah yang hampir sama dengan Jona. Bagaimana perasaan kamu kalau misalkan Jona melakukan yang sama seperti yang kamu lakukan untuk dia? Justru hal seperti ini akan memperburuk keadaan bukan?"


Olyn hanya diam. Entahlah, dia hanya berpikir apa yang dilakukannya itu hal yang baik untuk Jona, tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan pria itu.


"Aku tahu, ma. Tapi-"


"Jika kamu menerima kekurangan Jona dan begitupun sebaliknya, maka kalian harus bisa saling menguatkan satu sama lain. Memberi semangat satu sama lain. Kamu juga jangan egois, ya. Kalian bicarakan masalah ini baik-baik dan mencari solusi versi kalian sendiri."


Olyn masih diam, sebelum kemudian mengangguk. Ia kembali memeluk momy nya dan menumpahkan tangisnya di sana.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2