
Pagi ini Jona mendapat telepon dari papa, dia diminta untuk pulang karena urusan pekerjaan yang tidak bisa di handle. Dan harus langsung oleh pemimpin perusahaan.
Olyn merasa sedih, belum juga seminggu tapi mereka harus pulang. Mau tidak mau, mereka pun memutuskan untuk kembali ke Tanah Air dengan perasaan kecewa. Jona berjanji, lain kali akan mengajak Olyn untuk jalan-jalan ke tempat lain. Ia berusaha membujuk istrinya supaya tidak marah.
Begitu sampai di rumah, sikap mama dan papa mertuanya terlihat baik-baik saja. Itu artinya Elea gagal mendapat informasi tentang dirinya dari Jennie. Kebetulan Olyn mendapat pesan dari Jennie tentang Elea yang bertemu dengannya, menggali informasi tentang dirinya. Beruntung Jennie teman yang baik seperti yang di katakan oleh Jona, jika Jennie teman yang baik, maka Jennie tidak akan melakukan apa yang ia khawatirkan.
Olyn kemudian diskusi dengan Jona. Ia ingin memberi tahu yang sebenarnya pada mama dan papa soal dirinya seorang wanita infertil. Jona belum setuju untuk memberi tahu dalam waktu dekat ini. Tapi Olyn sudah muak di curigai terus menerus oleh Elea.
Keputusan Olyn mengatakan hal itu pada mama dan papa mertuanya sudah bulat. Di temani Jona, Olyn mengakui semua itu di saat Elea sedang ke kampus. Karena baginya, cukup mama dan papa saja yang tahu, Elea tidak perlu.
Tuan dan nyonya Artur sudah tidak sabar ingin mendengar apa yang akan di sampaikan oleh anak dan menantunya. Mereka kini duduk di sofa ruang keluarga dengan wajah serius dan suasana tampak sedikit tegang.
"Sebelumnya aku mau minta maaf sama papa dan mama, karena aku tidak jujur untuk hal ini sejak awal," ucap Olyn sekaligus mengawali pembicaraan.
"Jujur dalam hal apa? Memangnya apa yang kamu sembunyikan dari kami?" sahut nyonya Artur dan perasaannya mulai berubah tidak enak.
__ADS_1
Olyn memantapkan diri untuk menceritakan masalah dirinya pada mereka.
"Aku sangat beruntung di nikahi oleh Jona. Aku tidak perduli dengan kekurangan Jona karena akupun memiliki kekurangan yang bisa di bilang jika kita ini sama," lanjut Olyn.
"Sama? Sama dalam hal apa?"
Olyn menoleh ke arah suaminya, pria itu lekas menganggukan kepala.
"Jona seorang impoten, dan aku merupakan wanita infertil," terang Olyn.
Tuan dan nyonya Artur terkejut mendengar pengakuan dari Olyn. Meski demikian, mereka sama sekali tidak kecewa usai mendengar pengakuan menantunya.
"Aku tidak berniat untuk menipu kalian."
"Maksud mama, kalaupun kamu bilang dari awal, mama tidak akan mempermasalahkan. Sebab apa yang harus di permasalahkan?"
__ADS_1
"Aku minta maaf," ucap Olyn, dia tetap saja merasa bersalah karena sudah menyembunyikan hal itu pada mereka.
"Tidak ada yang perlu di maafkan, karena tidak ada kesalahan di sini," sahut tuan Artur.
"Jadi kalian tidak kecewa?" tanya Olyn lagi memastikan.
"Kecewa untuk apa? Kami rasa kalian memang berjodoh untuk hal ini. Bukan karena kekurangan yang kalian miliki, tapi kelebihan yang tidak orang lain miliki. Belum tentu orang-orang di luaran seperti kalian menemukan pasangan yang memiliki masalah yang sama, yang saling menerima kekurangan masing-masing dan melengkapi satu sama lain," tutur tuan Artur.
Sekarang Olyn merasa lega karena tidak ada lagi yang ia tutupi dari mereka. Jona ikut merasa lega karena mama papanya tidak kecewa dengan kejujuran Olyn.
"Oh iya, satu lagi ma, pa. Aku berniat untuk membawa Jona ke pengobatan alternatif, aku masih berharap Jona sembuh. Bukan berarti aku tidak menerima kekurangan yang dia miliki. Hanya saja, aku rasa tidak ada yang salah dengan usaha, apapun itu hasilnya."
Jona menatap istrinya, tidak percaya jika hal itupun akan di bahas bersama mereka.
"Iya, mama setuju. Dulu mama sempat ingin membawa Jona ke pengobatan alternatif juga. Hanya saja Jona pesimis karena Dokter sudah memvonis dia impoten permanen. Jadi dia tidak memiliki semangat lagi untuk sembuh sesuai harapan kita."
__ADS_1
Olyn tidak menyangka jika mama mertuanya akan setuju dengan rencananya. Begitupun dengan tuan Artur, yang ikut setuju. Dia jadi makin semangat membawa suaminya ke pengobatan alternatif dengan secercah harapan yang ia miliki. Apapun nanti hasilnya, ia pasti akan tetap menerima.
_Bersambung_