
Pagi ini Olyn demam lumayan tinggi. Wajah wanita itu bahkan terlihat memerah. Jona tentu saja panik dan segera mengajak Olyn untuk pergi ke rumah sakit. Namun Olyn menolak, ia tidak mau pergi ke rumah sakit.
"Ayolah, kita ke rumah sakit sekarang. Aku mengkhawatirkanmu, sayang," ujar Jona di antara rasa panik dan cemasnya.
Olyn tersenyum tipis. Entah kenapa ia suka melihat Jona mengkhawatirkan dirinya. Ia merasa begitu di cintai oleh suaminya.
"Aku baik-baik saja, Jona. Jangan terlalu khawatir, aku pasti akan membaik setelah ini. Aku hanya butuh tidur saja," jawab Olyn.
"Aku cemas, sayang. Please, kita ke rumah sakit, ya. Aku takut kamu kenapa-kenapa."
"Aku pasti akan sembuh. Ini hanya demam biasa, Jona."
"Bagaimana akan sembuh jika tidak diobati? Jangan membuatku tambah cemas."
"Kamu tenang saja."
"Bagaimana aku bisa tenang? Kamu demam tinggi, Olyn. Aku harus diam saja dan menyaksikan kamu sakit kah?"
__ADS_1
"Percayalah, aku akan baik-baik saja."
Jona menghembuskan napasnya sedikit kasar, Olyn memang keras kepala dan sulit sekali di bujuk untuk ke rumah sakit. Padahal dia mati-matian membujuk dirinya agar mau ke pengobatan alternatif waktu itu agar dirinya sembuh. Tapi dia sendiri susah di bujuk nya.
Akhirnya Jona pergi dan tidak lama lagi kembali dengan membawa semangkuk air hangat serta handuk kecil. Ia duduk di tepi ranjang samping istrinya. Kemudian mulai mengompres Olyn berharap dengan itu demam Olyn bisa turun.
Jona mengulanginya untuk beberapa kali sampai air hangat di mangkuk berubah dingin. Namun demam Olyn belum kunjung turun. Justru ketika ia menempelkan punggung tangan di dahi istrinya, ia merasa demamnya semakin tinggi.
Wajah Olyn putih pucat. Bibirnya pecah dan kering. Mungkin efek demam yang tinggi. Jona memikirkan cara supaya Olyn mau di ajak ke rumah sakit.
"Jona, jangan terlalu khawatir. Aku akan baik-baik saja. Biarkan aku tidur lagi sebentar. Setelah bangun, aku yakin pasti demamnya akan turun," ucap wanita itu.
Olyn mengangguk setuju. Ia berharap panas nya akan turun nanti. Sejujurnya ia tidak ingin merepotkan Jona. Selain itu, ia juga sangat yakin jika ini hanya demam biasa dan akan segera membaik.
Selama Olyn tidur, Jona tak sedikitpun bergerak di posisinya. Ia tidak pergi kemana pun meninggalkan istrinya. Ia tetap stay di sana untuk menjaga Olyn. Ia terus tatap dan perhatikan wajah istrinya yang pucat itu.
"Jona .." ucap Olyn tiba-tiba di saat dia tengah tertidur.
__ADS_1
Jona tentu saja terkejut mendengar Olyn memanggil dirinya ketika dirinya sedang tidur. Meski Olyn sedang dalam kondisi tidur, ia tetap menjawab panggilan istrinya.
"Iya, sayang. Kenapa?" Jona duduk lebih dekat lagi dengan wanita itu.
"Jona .." panggil wanita itu lagi lirih dan wajahnya terlihat gelisah.
Jona semakin di buat cemas. Olyn demam sampai mengigau. Jona membelai lembut rambut istrinya itu dan merasakan suhu tubuh di dahi Olyn kian panas.
"Jona .." panggil Olyn lagi.
Tak ingin menunggu Olyn sampai terbangun untuk memastikan suhu tubuhnya turun atau tidak. Jona langsung mengangkat tubuh istrinya untuk segera di bawa ke rumah sakit. Ia bopong tubuh Olyn dan ia bawa ke dalam mobil. Demam Olyn semakin tinggi dan Olyn harus segera mendapat penanganan dari Dokter.
"Jonaaa .." panggil Olyn lagi.
Jona semakin tergesa-gesa. Ia harus segera membawa istrinya ke rumah sakit.
"Bertahanlah. Aku tahu kamu wanita yang kuat. Jadi, bertahanlah. Aku akan membawamu ke rumah sakit. Aku tidak bisa duduk dan hanya diam saja melihatmu sakit seperti ini, sayang."
__ADS_1
Jona segera menghidupkan mesin mobilnya usai memasang sabuk pengaman pada tubuh Olyn. Ia pergi dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Beruntung rumah sakit tidak terlalu jauh dari tempat kediamannya. Hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menitan, itupun jika jalan sedang tidak macet.
_Bersambung_