
Malamnya tepat jam dua dini hari, Jona terbangun lantaran ingin buang air kecil. Ia melihat selimut yang di kenakan oleh Olyn turun melorot ke bawah. Sebelum pergi ke kamar mandi, ia membenarkan terlebih dahulu selimut istrinya.
Jona pergi menuju kamar mandi, namun baru berjalan beberapa langkah ia mendengar suara notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel Olyn. Lantaran sudah kebelet, ia melanjutkan langkahnya.
Suara hujan deras di luar yang belum kunjung berhenti sedari sore mendistrak suara air kenciing Jona. Tidak berapa lama ia kembali ke tempat tidur.
Jona duduk menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang tempat tidur. Ia diam untuk beberapa saat. Sebelum kemudian mengingat ada notifikasi pesan yang masuk ke dalam ponsel Olyn tadi.
Jona memandang wajah Olyn untuk seperkian detik, memastikan jika istrinya itu tertidur pulas. Kemudian barulah ia memberanikan diri untuk mengambil benda pipih yang tergeletak di atas nakas dengan pelan dan hati-hati.
Biasanya Olyn akan mengaktifkan mode pesawat jika sedang tidur untuk mencegah radiasi dari ponsel ketika sedang tidur. Namun kali ini dia melupakannya.
Ada sebuah pesan lewat akun media sosial Olyn yang muncul di layar. Tanpa pikir panjang lagi Jona langsung membaca isi dm tersebut.
Hrry_Jwnthaa
Apa kabar, Lyn? Senang bisa bertemu lagi denganmu setelah sekian lama.
__ADS_1
Aku masih tidak percaya ada pria yang mau menikahimu.
Kamu memang perfect, tapi sayang kamu tidak bisa menjadi ibu untuk anak kita.
Jona membaca ulang nama pemilik akun yang mengirim pesan barusan pada akun istrinya. Rasa kantuk Jona seketika hilang. Rahangnya mulai mengeras. Ia menggenggam benda pipih di tangannya sangat erat.
Jona mendapati Olyn bergerak-gerak dan berganti posisi tidurnya. Ia berharap Olyn tidak terbangun. Sebelum itu kejadian, ia menghapus dulu isi pesan yang di kirim oleh pria itu.
"Aku tidak akan membiarkan Olyn membaca pesan ini." Jona dengan cepat menghapus pesannya, lekas memblokir akun tersebut.
"Sedikitpun aku tidak akan pernah memberi celah pada siapapun yang berani masuk ke dalam kehidupan kami."
Tiba-tiba Jona teringat obrolan dengan Olyn saat mereka pulang jogging awal-awal mereka menikah.
"Apa kamu pernah melakukan hubungan dengan pacar kamu sebelumnya?"
Dan Olyn malah tertawa mendengar pertanyaannya.
__ADS_1
"Kenapa ketawa?"
"Kenapa memangnya kalau aku ketawa?"
"Aneh saja, aku pikir kamu akan marah atau tersinggung dengan pertanyaan aku."
"Untuk apa marah?"
"Jadi?"
"Iya, pernah. Sering. Karena aku merasa kalau aku tidak akan bisa hamil. Jadi aku sering melakukannya tanpa rasa takut."
Jona memejamkan matanya sembari menarik napas dalam. Sesuatu yang menurutnya waktu itu biasa saja, terasa begitu menyakitkan hari ini. Ia bahkan tidak sanggup membayangkan apa yang terjadi pada mereka dulu. Mungkin itulah sebabnya kenapa Olyn begitu terobsesi dengan kesembuhannya yang sangat mustahil. Ia harap kemunculan mantan pacarnya kembali, tidak membuat hati Olyn goyah.
Jona tatap kembali wajah istrinya yang tidur miring menghadap ke arahnya. Ada sebuah ketakutan di dalam diri Jona. Olyn dulu mendapatkan sisi bahagianya dari mantan pacarnya, sisi bahagia yang tidak akan pernah bisa ia berikan sampai kapanpun.
"Aku harap kamu tetap setia denganku."
__ADS_1
Jona menatap wajah Olyn dengan waktu yang cukup lama. Sampai rasa kantuk nya kembali datang. Tidak terasa waktu pun sudah menunjukan jam empat pagi.
_Bersambung_