
Olyn di bawa ke sebuah ruangan menggunakan brankar pasien dan Jona tidak di perbolehkan untuk ikut masuk ke dalam. Jona hanya bisa menunggu di luar dan berdoa supaya Olyn baik-baik saja.
Seorang Dokter pria datang dengan langkah tergesa menuju ruangan dimana Olyn berada. Jona berharap Olyn segera di tangani oleh Dokter tersebut.
Cukup lama Jona menunggu kabar dari Dokter mengenai kondisi istrinya. Akhirnya Dokter dan suster keluar dari ruangan itu.
Jona yang sebelumnya menunggu di deretan bangku besi rumah sakit depan ruangan tersebut langsung bangkit berdiri ketika melihat Dokter itu keluar. Ia langsung mencerca Dokter dengan sederet pertanyaan dengan tidak sabarnya.
"Bagaimana kondisi istri saya, Dok? Apa dia baik-baik saja? Apa demamnya sudah turun sekarang? Dia mengalami demam yang cukup tinggi dan sempat saya kompres sebelumnya."
Dokter mengangkat kedua tangannya agar Jona bisa bersabar dan memberinya celah untuk menjawab pertanyaannya.
"Baik, beri saya kesempatan untuk bicara, tuan. Suhu tubuh istri anda sekarang sudah mulai menurun, beliau baik-baik saja. Dan hanya butuh istirahat yang cukup."
Jona menghela napas lega seraya mengusap wajahnya penuh syukur. Jujur dia panik dan khawatir jika terjadi sesuatu pada Olyn. Ia sangat takut sekali.
"Boleh saya masuk untuk melihat keadaan istri saya?" pinta Jona kemudian.
__ADS_1
Dokter itu mengangguk mengizinkan.
"Silahkan, pak."
Jona langsung menerobos masuk begitu saja hingga Dokter itu geleng-geleng. Dokter tersebut pun berbicara sedikit pada suster yang berdiri selangkah di belakangnya untuk memberi obat dan juga vitamin pada pasien yaitu Olyn. Suster itu mengangguk patuh.
Jona melihat Olyn terbaring di atas ranjang pasien dengan wajah putih pucat seakan darah telah habis terserap. Meski Dokter mengatakan jika Olyn baik-baik saja, tetap saja hati dan pikirannya tidak tenang. Ia sangat khawatir untuk itu. Bahkan ia belum berani menghubungi mama papa dan kedua orang tua Olyn kalau Olyn sakit sampai masuk rumah sakit.
Jona menarik kursi yang tersedia di samping ranjang dengan pelan dan amat hati-hati supaya tidak mengganggu waktu istirahat istrinya yang kini sedang tidur.
"Aku sudah bilang jangan bawa aku ke rumah sakit, Jona."
"Sayang .."
"Aku benci rumah sakit," imbuh Olyn.
Jona hanya bisa menghela napas pasrah. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Baginya membawa Olyn ke rumah sakit adalah pilihan yang tepat di saat darurat. Ia tidak perduli latar belakang kenapa Olyn terus saja menolak di bawa ke rumah sakit.
__ADS_1
"Aku minta maaf, sayang. Tapi ini demi kebaikanmu juga. Aku-"
"Aku mau pulang saja. Aku tidak mau berlama-lama di sini," pungkas Olyn.
"Jangan!" Jona mencegah Olyn yang hendak bangun dari tempat tidurnya dan menidurkan istrinya kembali ke tempat semula.
"Kenapa? Aku baik-baik saja bukan?"
Jona masih memegangi kedua bahu Olyn supaya Olyn tidak coba-coba bangun lagi.
"Setidaknya tunggu sampai Dokter bilang kamu bisa pulang."
"Ya sudah, kalau begitu kamu tanyakan langsung pada Dokter. Apa aku sudah bisa pulang sekarang?"
"Olyn, berhenti keras kepala! Please. Asal kamu tahu, ya. Aku ini panik, aku takut kamu kenapa-kenapa. Tolong mengertilah!"
Usai mengatakan hal barusan, kedua mata mereka saling menatap. Olyn bisa melihat seberapa besar kekhawatiran suaminya terhadap dirinya. Tapi jujur ia benci rumah sakit dan tidak ingin berada di sana.
__ADS_1
_Bersambung_