Pria Impoten VS Wanita Infertil

Pria Impoten VS Wanita Infertil
Deep Talk


__ADS_3

Sebelum tidur, Jona dan Olyn meluangkan waktu untuk mengobrol ringan.


"Sayang, aku mau tanya sesuatu sama kamu. Tapi kamu janji jangan tersinggung ya."


Olyn jadi penasaran apa yang ingin Jona tanyakan padanya.


"Mau tanya apa?"


Jona memikirkan lagi pertanyaannya, tapi ia rasa ini tidak terlalu menyakiti istrinya.


"Kamu kan sudah tidak punya rahim. Jadi, kamu masih menstruasi gak sih?"


Alih-alih tersinggung, Olyn justru malah terkekeh mendapat pertanyaan tersebut.


"Jonaaa, jona! Kan rahimnya sudah tidak ada, mana bisa menstruasi."


"Oh begitu rupanya. Pantas saja aku belum pernah lihat kamu menstruasi."


"Sebelum aku angkat rahim, aku pernah menstruasi. Tapi ya begitu, gak sesubur wanita pada umumnya. Tidak setiap satu bulan sekali. Bahkan bisa enam bulan baru dapat. Karena itulah, karena masa haid aku gak teratur, makanya aku cek ke Dokter. Dan pada saat itu juga, aku jadi tahu kalau aku itu berbeda dari wanita normal pada umumnya. Kemungkinan punya anak itu kecil, bahkan sampai bisa di bilang sulit untuk mendapatkan keturunan. Makanya aku di sebut infertil," jelas Olyn.

__ADS_1


Jona mengangguk-anggukan kepalanya seiring Olyn cerita tentang dirinya.


"Saat pertama kali kamu tahu kamu infertil, perasaan kamu gimana?"


"Bingung. Aku speechless waktu dengar penjelasan Dokter dan aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku mencoba berdamai dengan diri aku sendiri, dan bawa happy aja yaitu dengan sisi bahagia yang aku miliki pada saat itu. Tapi suatu hari aku merasa sangat kacau, lantaran tidak ada satupun pria yang mau menikah denganku. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk melakukan operasi pengangkatan rahim."


"Apa pria yang membuat kamu harus melakukan operasi pengangkatan rahim itu dia?"


"Bukan," jawab Olyn, ia mengerti siapa yang di maksud oleh Jona, itu pasti Herry.


"Lalu siapa?"


"Mereka. Orang-orang yang tidak mau menerima kekurangan aku itu, yang memilih mundur setelah mereka bosan."


"Jadi bagaimana perasaan kamu saat pertama kali aku ajak menikah?"


Olyn tampak mengingat reaksi pertamanya pada saat itu.


"Di ajak menikah oleh pria yang baru di kenal itu rasanya heran, ya. Tapi jujur, aku senang dan campur aduk pada saat itu. Pasalnya kan tidak ada pria yang mau menikah sama aku. Ya begitu ada pria yang mengajak aku nikah, kenapa tidak? Dan pada saat itu yang ada di pikiran aku nikah saja dulu, untuk urusan yang itu biar nanti aku ceritakan belakang. Dan tanpa aku sangka, ternyata aku menikah dengan pria yang merupakan jodoh aku. Yaitu kamu."

__ADS_1


Olyn cerita dengan antusias, Jona ikut senang mendengarnya.


"Lalu apa yang membuat kamu tiba-tiba mau nikahin aku?" Olyn bertanya balik.


"Aku mulai putus asa pada saat itu, karena tidak ada satupun wanita yang mau aku ajak nikah. Dan begitu aku ketemu kamu, aku tidak mau buang-buang waktu lagi untuk menjalin hubungan jika pada akhirnya berakhir sama. Ya aku langsung aku ajak nikah saja. Dan aku gak nyangka, kamu bisa dengan mudahnya menerima aku."


"Terus kenapa kamu gak kasih tahu aku dari awal soal kamu, seperti kamu kasih tahu mereka."


"Jawabannya sama seperti kamu. Mungkin kita memang di takdirkan untuk berjodoh. Jadi semuanya di permudah begitu saja jalannya. Terbukti kan sekarang kalau kita memang di takdirkan untuk bersama."


Olyn mengangguk membenarkan.


"Iya, kita akan bersama. Dan akan terus bersama. Selamanya. Jadi, kamu tidak perlu takut dengan siapapun yang datang ke kehidupan aku, karena bagi aku kamulah hidupku, Jona sayang."


Hati Jona seketika berbunga-bunga. Seperti orang yang baru saja jatuh cinta. Itu seharusnya kalimat yang ia ucapkan untuk Olyn, justru malah kebalikannya.


"Iya. Bagi aku, kamu juga segalanya."


"Umm .. So sweet .."

__ADS_1


Pipi Olyn seketika memerah. Seperti sedang di gombalin oleh gebetan. Dari mereka kita belajar, jatuh cinta berkali-kali dengan orang yang sama itu menyenangkan.


_Bersambung_


__ADS_2