
Olyn, Jona dan Elea kini tengah makan malam bersama. Tidak bisa di pungkiri, Elea mengakui jika masakan kakak iparnya memang enak. Lebih enak dari masakan asisten di rumah yang kadang bisa kurang garam, keasinan, bahkan tawar.
"Sayang, aku boleh terima endorse lagi gak?" tanya Olyn di tengah makan malamnya.
Elea yang semula hanya fokus pada makan dan ponsel di tangan kirinya, kini tertarik dengan obrolan mereka.
"Selagi kamu mau, aku izinkan. Tapi ingat, jangan semua endorse kamu ambil juga, takutnya nanti kamu jadi sibuk, gak ada waktu buat aku, apalagi sampai kecapean."
Olyn mengangguk paham. "Iya, nanti aku coba terima endorse yang cukup aku post di feed atau sg saja. Kalau sampai di studio atau pemotretan, aku bakalan tolak."
"Aku mau ikutan," timpal Elea.
Olyn dan Jona langsung memandang ke arah gadis itu.
"Ikutan apa?" apa Olyn.
"Ikut endorse sama kakak ipar. Jadi endorse yang kakak ipar tolak, biar aku aja yang handle. Nanti hasilnya bagi dua. Gimana?"
Elea berharap jika kakak iparnya setuju dengan sarannya. Selain itu, ia juga ingin terkenal dan memiliki banyak followers.
"Memangnya followers kamu berapa?"
Dengan cepat Elea menunjukan followers akun media sosial di ponselnya pada Olyn.
Kemudian Olyn terkekeh pelan melihat jumlah followers adik iparnya.
"Followers kamu belum mendukung."
"Seribu juga banyak kan?"
"Iya, banyak. Cuma, masih butuh banyak lagi biar bisa endorse barang biar gak rugi. Dengan kamu punya banyak followers di akun media sosial kamu, maka lebih mudah memasarkan barang yang kamu endorse."
__ADS_1
"Jadi gak bisa?"
"Belum."
"Huft .. Memang followers kamu berapa sih? Bisa sampai banyak orang yang nawarin endorse?"
"Bukannya kamu pernah stalking sampai cari tahu siapa aku sama teman aku?"
Elea hanya bisa mendengus kesal. Selera makan nya seketika hilang. Padahal ia sudah membayangkan menjadi selebgram yang mempunyai banyak followers dan terkenal.
Sampai akhirnya suara notifikasi balasan pesan dari seseorang membuat moodnya kembali. Elea memutuskan untuk berhenti makan dan memilih untuk kembali ke kamar.
Sementara Olyn dan Jona kembali mengobrol ringan. Sesekali Jona juga memuji masakan istrinya yang enak.
***
Paginya, Elea memilih untuk pulang. Karena hari ini bukan kelasnya. Elea pulang di antar oleh Jona, sekalian jalan ke kantor.
Sebelumnya ia sudah izin pada Jona dan Jona mengizinkannya untuk pergi sendiri ke supermarket asal bisa jaga diri.
Olyn pergi ke supermarket naik taksi online. Biasanya tidak membutuhkan waktu lama, dan sepuluh menit harusnya ia sudah sampai di tujuan. Tapi karena jalan utama menuju supermarket di tutup karena ada insiden kecelakaan lumayan besar, akhirnya driver taksi online putar arah dan mencari jalan alternatif.
Dua puluh menit terbuang karena harus putar arah menuju supermarket yang biasa bisa di tempuh sepuluh menitan saja. Akhirnya sekarang ia sudah sampai. Ia memberi ongkos dua kali lipat untuk driver, padahal driver tidak meminta tambahan ongkos dan sesuai dengan yang di aplikasi.
Olyn masuk ke dalam supermarket tersebut dan mulai mencari bahan masakan yang ingin ia beli. Mulai dari daging, ikan, telur dan sayuran.
Setelah selesai membayar total belanjaan di kasir, ia bergegas untuk pulang. Kedua tangannya penuh menenteng belanjaan dan ia sedikit keberatan. Olyn berdiri di depan supermarket tersebut dan mulai memesan taksi online untuk ia pulang.
Dari kejauhan, seseorang yang berada di dalam mobil hitam mulai menghentikan mobil ketika melihat sosok wanita yang begitu ia kenali. Setelah memastikan jika itu benar wanita seperti dalam dugaannya, dia pun memarkirkan mobilnya di supermarket tersebut. Turun dari mobil dan menghampiri si wanita itu.
"Lagi nunggu siapa?"
__ADS_1
Mendengar ada seseorang yang bertanya kepadanya, Olyn pun menoleh. Ia terkejut melihat sosok yang tidak ingin ia lihat lagi sekarang berdiri di depan mata.
Tanpa menjawab pertanyaan pria itu, Olyn bergegas untuk pergi. Namun, tangannya dengan cepat di tarik dan barang belanjaannya di ambil alih olehnya.
"Eh, jangan macam-macam, ya. Kembalikan barang belanjaan aku!" pinta Olyn tegas.
"Aku cuma mau bantu, Lyn. Lagian kok kamu sendiri di sini? Suami kamu mana? Kok bisa dia membiarkan kamu sendiri?"
"Bukan urusan kamu. Lagian gak usah sok baik deh. Kembalikan belanjaan aku!"
Olyn hendak merebut kembali barang belanjaannya, namun pria itu menjauhkan.
"Kamu masih marah ya sama aku? Karena aku ninggalin kamu karena gak bisa terima kekurangan kamu? Kalau kamu masih marah dan kecewa, itu artinya kamu masih ada perasaan kan sama aku?"
"Cukup, Herry! Jangan pernah bahas lagi masalah itu. Lagipula, sekarang aku sudah bahagia sama suami aku. Seharusnya kamu juga sudah bahagia sama wanita sempurna pilihan kamu. Jadi, gak usah datang apalagi ganggu hidup aku."
Olyn merebut kembali barang belanjaannya dari tangan Herry dan kali ini berhasil.
"Aku penasaran, deh. Apa sih yang membuat suami kamu bisa terima kekurangan kamu?"
Pertanyaan barusan membuat Olyn menghentikan langkah lalu membalikan badan.
"Karena dia bukan kamu," balas Olyn tegas.
Lantaran taksi online nya sudah hampir sampai, Olyn pergi dan memilih menunggu di pinggir jalan.
Herry memandang punggung kepergian matan kekasihnya. Ia masih penasaran, apa yang membuat suami wanita itu bisa menerima Olyn. Apa Olyn tidak pernah jujur tentang dirinya, atau memang ada hal lain.
"Aku harus mencari tahu siapa sosok suami kamu, Olyn?" gumam pria itu.
_Bersambung_
__ADS_1