Pria Impoten VS Wanita Infertil

Pria Impoten VS Wanita Infertil
Sakit Hati


__ADS_3

"Mama tidak menyangka jika menantu yang selama ini mama kira adalah wanita baik-baik menyimpan banyak kebusukan."


Olyn cukup sakit hati dengan perkataan mertuanya barusan. Tapi ia tidak bisa melawan karena sebisa mungkin ia harus bisa menahan diri dari amarahnya.


"CUKUP!!" seru tuan Artur dan membuat semuanya kini terdiam.


Semua pasang mata tertuju pada pria paruh baya yang berdiri di belakang.


"Hentikan! Tolong semuanya hentikan."


Tidak ada yang berani bicara lagi. Tuan Artur memang jarang sekali bicara, dan jika ia sudah marah, maka tidak ada lagi yang berani angkat suara.


"Elea, tolong katakan yang sejujurnya. Apa semalam kamu memang nginap di rumah teman kamu, atau justru apa yang di katakan oleh kakak kamu itu benar?" tanya tuan Artur kemudian dan suasana semakin serius dan menegangkan.


"Pa, harus berapa kali aku katakan? Aku semalam nginap di rumah teman aku. Kalau papa gak percaya, aku bisa telepon teman aku sekarang. Papa mau bukti? Kalian mau bukti?"

__ADS_1


Elea mengambil ponsel di tasnya namun segera di hentikan.


"Ok, baik. Tapi bukan berarti papa juga tidak percaya sama kakak kamu. Kakak kamu tidak mungkin membohongi kami. Kakak kamu bersikap seperti ini, karena mereka ingin menyelamatkan kamu dari Herry."


"Menyelamatkan dari apa, pa? Memangnya Herry kenapa? Bukankah papa juga sudah kenal Herry dan dia orangnya baik kan?"


"Iya. Tapi-"


"Tapi apa? Tapi papa terpengaruh dengan apa yang di katakan oleh istri kak Jona? Pa, apapun yang di katakan oleh dia, itu semata agar papa dan mama ikut membenci Herry. Dengan tujuan menghancurkan hubungan aku karena dia belum bisa terima, kalau cintanya sekarang menjadi cintanya aku."


Tuan Artur kini jadi bingung. Bingung karena di satu sisi Elea berusaha meyakinkan dirinya dengan segala ucapannya. Di sisi lain ia tahu betul jika Jona tidak akan mungkin berbohong.


"Ok, sekarang terserah kamu saja. Kakak seperti ini karena kakak sayang sama kamu sebagai adik kakak, Elea. Kakak berusaha menjadi kakak yang harus melindungi kamu dari orang-orang yang ingin menghancurkan hidup kamu. Tapi kalau kamu memilih hidup dengan mengikuti ego kamu, kakak akan lepas tangan. Tapi kamu harus ingat, Berhati-hatilah dengannya. Dia sangat berbahaya dan jangan pernah lengah. Karena kakak sangat yakin kamu sudah terpengaruh oleh tipu muslihatnya."


"Omong kosong apa sih, kak? Sudahlah, aku sudah dewasa. Aku tahu mana yang baik dan mana yang buruk untuk aku. Bagi aku Herry ini segalanya. Dan bagi kakak, istri kakak ini juga segalanya bukan? Jadi apapun yang orang lain katakan, sekalipun itu keburukannya, maka kita akan mati-matian membela dan mempertahankan hubungan ini bukan?"

__ADS_1


"Terserah, Elea. Terserah kamu. Jangan sampai kamu menyesal ketika sudah tahu kebenarannya."


"Ok. Ada lagi yang mau di sampaikan?"


Herry memilih untuk diam dan mengakhiri adu mulut ini karena ia tidak ingin hubungan antar keluarganya kian memburuk. Ia memutuskan untuk pulang membawa Olyn.


Saat berjalan melewati Elea, Olyn membisikan sesuatu pada telinga gadis itu.


"Sadarlah, Elea. Herry tidak mencintaimu. Dia hanya menjadikan kamu alat guna mencapai tujuannya. Percayalah."


Elea mengepalkan kedua tangannya, entah kenapa setiap kata yang keluar dari mulut wanita itu selalu berhasil memancing amarahnya.


Olyn sudah pergi bersama Jona, meninggalkan rumah itu dalam keadaan masih panas.


_Bersambung_

__ADS_1


Yuk mampir ke cerita GAIRAH PEMBANTUKU


__ADS_2