Pria Impoten VS Wanita Infertil

Pria Impoten VS Wanita Infertil
Acara Makan Malam


__ADS_3

Malam ini Jona mengajak Olyn untuk ikut makan malam bersama para petinggi perusahaan. Mereka di undang makan malam karena istri salah satu para petinggi sedang hamil. Sekaligus menjadi bentuk rasa syukur mereka atas kebahagiaan ini.


Sambil menunggu hidangan makan malam datang, mereka yang datang turut mengucapkan selamat atas kehamilan istri dari salah satu dari para petinggi tersebut.


"Akhirnya, setelah dua tahun menanti, tuan dan nyonya di beri momongan juga. Sehat terus buat ibu dan calon bayinya," ucap salah satu istri dari para petinggi yang turut bahagia dalam acara ini.


"Terima kasih nyonya Anxi."


Olyn pun ikut mengucapkan selamat pada mereka dan ikut senang lantaran mereka di beri nikmat yang tidak bisa ia dapatkan.


Jona langsung memberi kode pada Olyn supaya istrinya tidak sedih di hari bahagia mereka. Jona paham perasaan Olyn, dia pasti sedih saat ini.


"Ah iya, tuan Jona dan nyonya Olyn mau menyusul juga kah? Kalian masih pengantin baru, harus gasspoll tentunya," celetuk istri tuan Baghar yang duduk dekat nyonya Anxi.


Olyn menanggapinya dengan senyum. Dan ia tidak mau diam begitu saja meski mereka tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.


"Nyonya dulu sepertinya. Karena nyonya sudah lumayan lama menikah nya bukan?"

__ADS_1


Balasan perkataan Olyn membuat wanita itu menunjukan wajah kesal. Pasalnya wanita itu juga belum memiliki keturunan setelah menikah.


Pemilik acara makan malam ini sudah mulai merasakan suasana yang sedikit memanas. Akhirnya beliau berusaha mencairkan suasana dengan mengganti topik pembicaraan. Sampai hidangan makan datang, tidak ada yang berani bicara lagi.


Setelah makan malam berakhir, Jona dan Olyn langsung pulang ke rumah. Olyn merasa lega karena acara itu sudah berakhir. Jujur, ia kesal dengan wanita yang satu itu. Yang terus melayangkan sorot mata penuh ketidaksukaan terhadapnya.


"Jangan terlalu di pikirkan apa yang tadi dia bicarakan padamu. Anggap saja itu hanya angin lalu," tutur Jona usai mengganti pakaiannya dengan piyama tidur.


"Dia menyebalkan sekali. Kalau bukan karena acara penting, aku mungkin tidak mau datang ke acara itu jika bertemu dengannya. Rasanya aku ingin merobek saja mulut lebarnya itu."


Jona ikut membaringkan tubuhnya di sisi kosong sebelah istrinya.


"Sini aku peluk, biar marahnya hilang."


Jona membuka tangannya agar Olyn masuk ke dalam pelukannya. Seketika, raut wajah Olyn pun berubah. Seulas senyum tipis terlihat di kedua sudut bibirnya. Tanpa pikir panjang lagi, ia pun masuk ke dalam pelukan suaminya. Jona menjadikan lengan nya sebagai bantalan untuk Olyn. Ia mengecup kening Olyn singkat.


"Jangan marah-marah lagi, ya. Biarkan saja apa yang orang lain katakan pada kita."

__ADS_1


Olyn mengangguk. "Iya. Tapi tetap saja aku merasa kesal. Kenapa sih orang-orang suka sekali berbicara tanpa memikirkan perasaan orang lain?"


"Itu karena mereka tidak memahami apa yang kita rasakan, sayang."


Olyn mendongakan wajahnya ketika Jona lagi-lagi memanggilnya dengan kata sayang. Jona mengulas senyum, sebelum kemudian Olyn menegeratkan tangannya memeluk tubuh Jona. Merasakan suhu hangat dari tubuh suaminya.


"Ah kamu mulai romantis deh, sekarang. Aku jadi tambah cinta sama kamu, Jona," ungkap wanita itu.


"Kamu senang kan kalau aku sweet?"


Olyn mengangguk. "Iya, sering-sering perlakukan aku seperti ini."


"Iya, sayangku," ucap Jona di akhiri dengan kecupan di puncak kepala Olyn.


Hati Olyn semakin berdebar tidak karuan.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2