
Jona memutuskan untuk pindah ke rumah pribadinya. Ia merasa itu sebuah keputusan yang harus ia ambil semenjak ia menampar adiknya, Elea. Lantaran Elea bicara seenaknya yang melukai perasaan Olyn.
Tentu saja Olyn setuju dan senang dengan keputusan Jona. Akhirnya Jona mengambil keputusan yang bijak demi kebaikan bersama. Elea juga sudah meminta maaf. Itu pun karena di paksa oleh mama dan papanya.
Nyonya dan tuan Artur awalnya berat melepaskan Jona dari rumah usai putra mereka memberi tahu soal keputusan yang akan dia ambil. Namun, mereka juga tidak mau egois dan meminta Jona untuk tetap tinggal di rumah mereka.
Sekarang Jona sudah dewasa dan sudah memiliki istri. Tidak ada hak untuk mencampuri urusan rumah tangga putranya sendiri. Apapun keputusan yang Jona ambil, mereka akan menghargainya.
Ini merupakan hari pertama Jona pindah ke rumah pribadinya. Ia akan tinggal di rumah itu dalam waktu yang cukup lama bersama sang istri, Olyn. Senyuman tak terlepas dari bibir wanita itu setelah pindah rumah.
"Aku senang. Akhirnya kamu bisa mengambil sebuah keputusan demi kebaikan kita juga," ujar Olyn.
"Iya, sayang," sahut pria itu.
Senyum di bibir Olyn semakin lebar. Entah mimpi apa ia semalam sehingga Jona bisa memanggilnya dengan sebutan yang memang pantas untuk mereka ucapkan.
Olyn tersipu malu. Pipinya merah seperti tomat matang. Mungkin karena ia terlalu senang di panggil sayang oleh Jona.
"Kenapa? Aku salah, ya?" tanya pria itu.
__ADS_1
"Kayak mimpi aja kamu tiba-tiba romantis."
"Memangnya sebelumnya aku tidak romantis?"
"Sedikit."
"Ya sudah, kalau begitu akan aku perbanyak romantisnya. Tidak ada siapapun di rumah ini selain kita berdua, jadi bebas mau melakukan apapun."
Iris mata Olyn sedikit melebar. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja Jona katakan.
"Sungguh?"
"Memangnya kamu gak bakalan tersiksa?"
"Aku sudah mulai terbiasa sekarang. Aku sudah mulai bisa mengendalikan diri aku secara perlahan," ungkap pria itu.
Senyum di bibir Olyn kembali terbit. Ia ikut senang jika apa yang di katakan Jona benar.
"Jadi kita mau apa sekarang?"
__ADS_1
Olyn tampak berpikir apa kira-kira yang harus mereka lakukan. Akhirnya Olyn dapat ide brilian yang pastinya.
Olyn membisikan sesuatu pada telinga Jona. Jakun pria itu tampak naik turun menelan salivanya dengan susah payah. Kedua matanya sedikit melotot usai mendengar apa yang di bisikan oleh Olyn.
"Bagaimana? Setuju?" tanya Olyn usai membisikan sesuatu tersebut.
Jona hanya diam. Ia pasti akan lebih tersiksa tentunya. Sebenarnya ia belum bisa mengendalikan diri sepenuhnya. Tapi demi sisi bahagia Olyn, maka akan ia coba lakukan.
Waktu menunjukkan jam sembilan malam. Hawa dingin mulai terasa. Selain karena suhu pendingin ruangan, cuaca di luar juga kebetulan sedang hujan. Rupanya cuaca sedang mendukung apa yang saat ini pasutri itu lakukan.
Di bawah selimut, dan tentunya di bawah kungkungan Jona. Olyn tampak memejamkan mata. Merasakan sensasi yang begitu nikmat baginya. Berbeda sekali dengan Jona, pria itu lagi-lagi harus menahan semuanya.
Olyn meminta agar Jona memberi gesekkan miliknya di milik Olyn. Meski tidak hidup dan keras, tapi Olyn bisa merasakan betapa nikmatnya saat kepemilikan milik suaminya menyentuh area miliknya.
"Gesekan lebih cepat lagi, sayang," pinta Olyn seraya menahan sesuatu yang menjalar di dalam dirinya.
Jona melakukannya sesuatu permintaan istrinya. Sambil menahan sesuatu yang terasa membakar dirinya, Jona melakukan itu hingga Olyn sampai di titik puncak. Olyn mengeluarkan banyak cairan di areanya.
_Bersambung_
__ADS_1