Pria Impoten VS Wanita Infertil

Pria Impoten VS Wanita Infertil
Baikan


__ADS_3

Usai di beri pengertian oleh tuan Artur, Jona pergi ke rumah orang tua Olyn untuk menyusul istrinya. Sekaligus minta maaf karena sudah meninggalkannya di jalan tadi.


Tok tok tok ..


Berulang kali Jona mengetuk pintu rumah Olyn, akhirnya seorang asisten rumah muncul dari balik pintu membukakan.


Jona langsung menanyakan apakah Olyn ada di rumah tersebut atau tidak. Asisten rumah tersebut bilang jika Olyn sedang berada di taman belakang rumah. Seorang wanita paruh baya muncul dan menanyakan siapa yang datang, ternyata menantunya.


Sebelum Jona menemui Olyn, ia di ajak bicara lebih dulu oleh mertuanya.


"Aku mau minta maaf sama Olyn karena aku tadi meninggalkannya di jalan," ucap Jona memberi tahu kedatangannya karena dia menyesal.


Momy mengangguk paham. "Iya. Olyn sudah cerita sama momy sebelumnya dan momy juga sudah berusaha memberi pengertian pada Olyn. Maafkan Olyn juga kalau upayanya selama ini menyinggung perasaan kamu, Jona. Tidak ada maksud lain, Olyn hanya ingin kamu sembuh. Tapi Olyn juga sudah sadar, jika dia tidak bisa memaksakan suatu kehendak," tutur momy.


Jona menunduk. Beruntung memiliki ibu mertua yang pengertian seperti momy. Semoga Olyn juga bisa mengerti apa yang di katakan oleh momy.


"Iya, mom. Kalau begitu, boleh aku temui Olyn sekarang? Aku ingin bicara dengannya."


"Tentu saja. Olyn ada di taman belakang."


"Terima kasih, mom."

__ADS_1


Jona pamit beranjak pergi untuk menemui Olyn di taman belakang rumah. Ia mendapati Olyn tengah duduk di bangku yang muat untuk dua orang saja.


Olyn terperanjat kaget melihat seseorang tiba-tiba datang dan duduk di sampingnya. Seseorang itu ternyata suaminya.


Awalnya mereka saling diam. Masih bingung bagaimana cara mengawali pembicaraan. Sampai akhirnya mereka bicara hampir bersamaan.


"Jona."


"Olyn," Panggil mereka serempak.


Jona langsung mempersilahkan Olyn untuk bicara lebih dulu. Begitupun dengan Olyn.


"Kamu dulu saja," ujar Jona mengalah.


"Jona, aku minta maaf. Aku minta maaf kalau selama ini apa yang aku lakukan membuat kamu tidak nyaman sekaligus menyinggung perasaan kamu," ucap Olyn sambil menundukkan wajahnya.


Jona terdengar menghela napas.


"Iya, tidak apa-apa. Aku mulai sadar jika niat kamu sebenarnya baik. Tapi aku merasa kamu terlalu terobsesi, jadi aku merasa kalau tindakan kamu terlalu over."


"Aku berpikir jika apa yang aku lakukan adalah demi kebaikanmu. Aku hanya berharap, tapi aku tidak memperdulikan perasaanmu."

__ADS_1


Olyn memberanikan diri menatap suaminya. Dan tangannya bergerak meraih tangan pria itu. Ia tatap wajah Jona dengan penuh rasa bersalah dan penyesalan.


"Aku tidak akan memaksa kamu lagi untuk pergi ke pengobatan alternatif mana pun. Aku akan menerima takdir yang terjadi di antara kita. Aku tidak akan berharap apapun lagi. Aku menerima kamu, apapun kondisi kamu, Jona," ucap Olyn dengan tulus.


"Aku juga minta maaf karena sudah meninggalkan kamu tadi di jalan."


"Itu salahku, aku yang turun dari mobilmu."


"Aku juga salah karena tidak berusaha mengejarmu. Maaf, ya."


Olyn mengangguk. Jona membawa Olyn ke dalam pelukannya. Olyn merasa senang jika semuanya sudah clear. Dan mulai saat ini ia tidak akan membujuk Jona untuk melakukan usaha demi kesembuhannya. Mungkin ia yang harus menerima jika Jona memang tidak akan sembuh sampai kapanpun.


"Hanya satu kali lagi, aku mau datang ke sana," ucap Jona tiba-tiba.


Olyn melepaskan diri dari pelukan Jona dan menatap lekat-lekat wajah pria itu.


"Tidak apa-apa, apapun itu aku akan terima kondisi kamu, Jona."


Jona menggeleng. "Aku sadar niat kamu itu baik. Maka dari itu, kita coba untuk satu kali lagi saja."


Olyn masih merasa bersalah, tapi Jona berusaha meyakinkan Olyn jika ia sudah tidak lagi marah padanya. Jona membawa Olyn ke dalam pelukannya lagi, kini memeluk lebih erat. Jona mendaratkan sebuah kecupan kecil di kening Olyn, wanita itu mendongakan wajahnya dengan seulas senyum tipis.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2