
Olyn memandangi wajah suaminya yang sedang tidur. Jona kelihatan lelah sekali hari ini, jadi ia tidak berani memberi tahu tentang Elea yang berpacaran dengan Herry untuk saat ini. Mungkin besok pagi ia akan memberi tahu soal itu. Tapi ia juga harus pastikan apa urusan suaminya di kantor sudah membaik atau belum.
Gara-gara memikirkan soal itu, Olyn jadi sulit untuk tidur. Entah kenapa ia jadi mengkhawatirkan Elea. Meskipun gadis itu menyebalkan baginya. Tapi ia tidak ingin Elea menjadi korban Herry. Ia tahu betul siapa Herry. Ia tidak ingin Elea hanya di jadikan sebagai jembatan demi bisa mencapai tujuannya.
"Aku yakin, Herry sebenarnya memiliki niat lain di balik hubungannya dengan Elea. Itulah kenapa dia bisa tahu kenapa suami aku seorang pria impoten."
Selain memberi tahu Jona soal ini, Olyn perlu bicara dengan Elea agar gadis itu berhati-hati dengan Herry. Sebab Herry pria yang sangat licik. Beruntung ia bisa terlepas dengan pria itu dulu.
Olyn lekas mengambil ponselnya dan mencari akun media sosial Herry. Namun begitu ia mengetikkan username di kolom pencarian, nama Herry tidak muncul.
"Kenapa tidak muncul, ya? Apa Herry sudah memblokir akunku?" pikir Olyn.
Olyn lekas mencari akun Herry di pemblokiran akunnya. Dan ternyata akun Herry masuk ke daftar akun yang ia blokir.
"Kapan aku memblokir akun media sosialnya?" pikir Olyn lagi.
Seingat Olyn, ia tidak pernah memblokir akun media sosial Herry atau siapapun yang pernah bersamanya dulu. Tapi kenapa akun Herry bisa ada di daftar pemblokiran.
Olyn refleks melirik ke arah Jona.
"Apa mungkin Jona yang melakukannya?"
Olyn rasa tidak mungkin Jona yang melakukan itu. Sebab dari mana Jona mengetahui akun media sosial Herry. Apalagi sampai mencari-cari usernamenya.
__ADS_1
Olyn hendak menekan tombol pembatalan blokir, tapi urung ketika ia berpikir akun Herry pantas untuk di blokir. Ia mengurungkan niatnya untuk mencari tahu pria itu lewat sosial medianya hanya untuk Elea. Karena ia tidak ingin ikut campur terlalu jauh. Ia hanya akan mengingatkan saja nanti pada Elea secara langsung agar hati-hati dengan pria itu.
Sampai akhirnya rasa kantuknya datang dan Olyn pun memutuskan untuk tidur.
***
Keesokan harinya. Tuan dan nyonya Artur tengah sarapan bersama, kemudian Elea datang dengan raut wajah yang berbinar.
"Putri mama kelihatannya bahagia sekali," ujar nyonya Artur.
Elea mengulas senyum pada mamanya.
"Iya, sejak bersama Herry aku jauh lebih bahagia, ma," jawab gadis itu sambil mengambil selembar roti untuk dioles selai.
"Gak tahu, ma. Kenapa memangnya?"
"Nanti kalau dia ada waktu, mama sama papa mau undang dia untuk makan malam bersama disini. Sekalian sama kakak kamu juga, biar mereka saling kenal."
"Ah iya, nanti aku tanyain sama dia kalau misalkan dia ada waktu buat datang lagi kesini, aku bakalan kasih tahu mama."
"Ok, sayang."
Elea mulai memakan roti yang sudah ia olesi dengan selai nanas. Ia melihat mama dan papanya secara bergantian. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk ia meminta izin jika malam ini ia tidak pulang.
__ADS_1
"Ma, pa, hari ini aku kelas siang. Terus nanti katanya bakal ada tugas kelompok sama teman yang memungkinkan aku harus nginap di rumah teman aku." Elea mulai menjalankan aksinya.
"Berapa orang?" sahut tuan Artur.
"Tujuh."
"Di rumah siapa?"
"Mia."
"Ada laki-lakinya?"
"Ada dua. Cuma, yang laki-laki kayaknya gak nginap, pa. Karena gak bakal dibolehin juga sama orang tua Mia."
Elea berharap papanya memberi izin untuk ia nginap malam ini. Jujur, ekspresi wajah papanya membuat ia takut dan berpikir jika papanya tidak begitu yakin padanya.
"Ya sudah lah, pa. Elea kan sudah dewasa, mama yakin Elea pasti bisa jaga diri. Lagipula dia nginap untuk tugas kuliahnya kan?" Nyonya Artur berusaha meyakinkan.
Elea jadi merasa ada yang mendukung dan juga membela. Ia harap dengan itu papanya memberinya izin.
"Ya sudah, kamu jaga diri saja selama disana."
Akhirnya tuan Artur memberi dia izin. Saking senangnya, Elea hampir saja teriak untuk bersorak. Tapi beruntung ia masih bisa menahan diri dan bersorak dalam hati saja.
__ADS_1
_Bersambung_