
Sorenya, Jona mengajak Olyn untuk jalan-jalan di taman terdekat yang dimana tempat itu tidak pernah sepi pengunjung. Mereka mengelilingi sekitar taman yang di penuhi oleh banyak bunga. Banyak anak kecil yang berlarian saling mengejar, tidak sedikit juga ibu mereka yang teriak dan memberi peringatan hati-hati kepada anak mereka supaya tidak jatuh atau menabrak orang lain.
Olyn tersenyum kecil melihat pemandangan anak kecil dengan ibunya. Dalam hati ia berandai jika ibu tersebut adalah dirinya dan anak kecil itu adalah anaknya. Tapi sayangnya itu tidak lebih dari sekedar andai yang tidak akan pernah jadi kenyataan.
"Kamu mau seperti mereka?" tanya Jona menarik paksa Olyn dari segala halunya.
"Maksudnya?" Olyn tidak paham.
Kemudian Jona menghentikan langkah, begitu juga dengan Olyn.
"Kamu mau jadi ibu?"
Olyn semakin heran di buat bingung dengan pertanyaan Jona.
"Kamu meledek?" tanya Olyn dengan nada bercanda, pasalnya sampai kapanpun ia tidak bisa menjadi ibu.
"Aku serius, sayang. Kamu mau jadi ibu?"
Olyn kemudian mengangguk. "Semua wanita ingin jadi ibu, termasuk aku."
__ADS_1
"Kita pernah punya rencana untuk mengadopsi seorang anak bukan?"
Olyn benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia memastikan sekali lagi karena ia pikir pendengarannya seketika mulai berkurang.
"Apa?"
"Kamu mau kita adopsi anak?"
Olyn mengangguk antusias.
"Nanti kita ke panti asuhan."
"Kamu serius, sayang?" Olyn masih tidak percaya dengan rencana suaminya.
Olyn lekas menghambur ke dalam pelukan suaminya. Binar bahagia di wajahnya kelihatan sekali. Namun, seketika sesuatu terlintas dalam pikiran Olyn ketika melihat anak-anak di depan matanya menangis ketika ibunya pamit untuk ke toilet umum seolah tidak mau berpisah.
Olyn melepaskan pelukannya dan binar bahagia di wajahnya perlahan memudar.
"Kenapa?" tanya Jona khawatir melihat perubahan ekspresi istrinya yang begitu cepat, padahal beberapa detik sebelumnya Olyn tampak bahagia.
__ADS_1
"Sebaiknya kita lupakan rencana adopsi anak," jawab wanita itu.
Jona kaget dengar jawaban Olyn. "Kenapa? Kamu kenapa?"
Jona menangkup kedua pipi Olyn, ia tidak sabar mendengar alasan istrinya yang tiba-tiba berubah pikiran.
"Aku tidak mau memisahkannya dari ibu kandungnya," jawab Olyn.
Jona berusaha mencerna ucapan Olyn.
"Sayang, tapi mereka yang tinggal di panti asuhan sudah terpisah dengan keluarganya sejak awal."
"Justru karena itu, Jona. Mereka tidak boleh merasakan perpisahan untuk yang kedua kalinya. Mereka anak yang pastinya tidak ingin tinggal di sana. Pastinya mereka juga berharap jika orang tuanya suatu hari akan datang dan menjemputnya kembali."
"Kita bisa adopsi anak yang masih bayi dan menjadikan dia anak kita. Anak yang akan menganggap kita adalah orang tuanya."
"Aku tidak setuju. Suatu hari, apa yang kita tutupi pasti akan terungkap dan aku tidak ingin melukai perasaan malaikat kecil itu."
Olyn kemudian duduk di bangku besi putih yang tidak jauh dari tempat berdirinya. Jona tidak bisa berkata apapun lagi. Jika itu memang keputusan Olyn, ia akan hargai itu.
__ADS_1
Jona kemudian ikut duduk di samping Olyn. Ia mengikuti arah pandang Olyn yang melihat ke arah anak-anak yang tengah berlarian itu. Sesekali bibir Olyn mengulas senyum, tak jarang dia juga terlihat sedih. Jona menarik pelan kepala Olyn untuk ia sandarkan di bahunya.
_Bersambung_