
Olyn kembali ke kamar dan duduk di tepi ranjang. Ia meratapi kesalahannya yang membuat Jona jadi kesal padanya. Padahal ia juga kesal lantaran Jona terus saja membahas soal Herry.
Pandangan Olyn beralih pada ponsel yang tergeletak di atas nakas. Ia buka akun media sosialnya, melihat ulang foto yang ia unggah pada saat honeymoon. Foto dirinya dengan Jona kelihatan sekali aura bahagianya. Memang saat itu ia belum pernah ada masalah, sampai akhirnya sepulang dari sana ia bermasalah dengan Jona hanya karena kesalahpahaman.
Perhatian Olyn beralih pada banyak dm di akunnya. Banyak sekali akun yang menawarkan endorsement. Tapi sepertinya ia belum bisa menerima tawaran endorse lagi untuk beberapa waktu ini.
Olyn melempar benda pipih tersebut ke atas kasur sembarang arah. Ia harap Jona tidak lagi marah saat pulang nanti. Ia rindu bercanda dengan pria itu.
Suara bel dari depan mengalihkan perhatian dirinya. Entah siapa orang yang pagi-pagi bertamu ke rumahnya.
Mau tidak mau, Olyn bergegas menuju pintu utama untuk memastikan siapa yang datang. Begitu pintu di buka, muncul sosok yang melontarkan senyum padanya. Olyn terkejut dengan kedatangan orang itu.
"Selamat pagi kakak ipar," sapa orang itu.
"Mau apa kamu kesini?" ketus Olyn.
Senyum di bibir Elea seketika pudar. "Aku ini adik iparmu. Jadi aku berhak datang ke sini."
Olyn hanya bisa menghembuskan napas.
"Ada tujuan apa?"
"Aku tidak punya alasan untuk datang ke sini, aku hanya ingin ke sini saja. Kenapa?"
"Kakakmu tidak ada, dia sudah pergi ke kantor. Lebih baik kamu pulang saja, aku malas jika kamu datang ke sini hanya untuk mengajakku berdebat."
__ADS_1
Olyn hendak menutup pintunya kembali, tapi segera Elea tahan.
"Eh, tunggu, tunggu! Aku datang ke sini baik-baik, ya. Aku sama sekali tidak ingin mengajak kamu berdebat. Lagi pula buang energi saja sepagi ini."
"Lalu apa tujuan kamu datang ke sini sebenarnya?"
Elea tersenyum dengan senyuman penuh kecurigaan. Olyn yakin jika ada sesuatu yang membuat gadis itu datang ke sini.
"Aku mau bolos kuliah hari ini dan bersantai di sini. Boleh kan?"
Olyn kaget dengan alasan gadis itu.
"No, no, no. Aku tidak mau menampung orang yang bolos kuliah, lebih baik kamu pergi saja dan cari tempat lain."
"Aku istrinya."
"Aku juga adiknya."
Olyn berusaha menutup pintu tapi Elea juga bersikeras menahan pintunya. Olyn tidak mau nanti di salahkan karena seolah mendukung Elea untuk bolos kuliah.
"Aku akan menuruti permintaanmu kakak ipar, apapun itu. Asal izinkan aku untuk di sini. Bagaimana?" Elea memberi sebuah penawaran yang membuat Olyn akhirnya menghentikan aksinya.
Olyn menatap wajah Elea, sepertinya gadis itu sedang serius.
"Kamu yakin mau melakukan apapun yang aku minta?"
__ADS_1
Elea mengangguk. "Iya, asal aku masih bisa nawar jika tidak mampu."
"Kalau begitu tidak usah."
Olyn berniat menutup pintunya kembali dan Elea kembali menahannya.
"Ok, ok, fine. Aku akan melakukan apapun."
Olyn menghentikan aksinya lagi. Kemudian ia mulai berpikir apa yang harus Elea lakukan untuknya. Yang pasti ia akan memberi gadis itu pelajaran supaya tidak macam-macam lagi padanya.
Alhasil, Elea di minta untuk membersihkan toilet kamarnya. Kebetulan memang sudah kotor dan lantainya sudah mulai licin.
Awalnya Elea menolak, tapi akhirnya gadis itu pun menyetujui permintaannya.
Olyn terkekeh mendengar suara Elea dari dalam kamar mandi yang ingin muntah. Ini tidaklah kejam, ini hal yang wajar bagi Olyn.
Setelah hampir satu jam lamanya, Elea pun selesai membersihkan toilet kamarnya. Olyn tersenyum puas.
"Ini kunci kamarnya." Olyn memberikan kunci kamar untuk Elea.
Tanpa mengatakan terima kasih, Elea langsung melipir pergi menuju kamar yang akan ia jadikan tempat untuk bersantai selama ia bolos kuliah hari ini.
Olyn jadi penasaran, sebenarnya apa yang membuat Elea memilih untuk bolos kuliah dan pergi ke rumah ini, bahkan rela memenuhi syarat darinya. Padahal dia bisa pergi ke tempat manapun.
_Bersambung_
__ADS_1