PSYCHOPATH DOCTOR [SUDAH TERBIT]

PSYCHOPATH DOCTOR [SUDAH TERBIT]
11


__ADS_3


Meina merasakan ada yang basah menyentuh pipi nya. Perlahan mata indah itu terbuka dan mendapati Dennis berada diatas tubuh nya dan menjilati pipi nya.



"Hhh.. Anjing baik.. Kau disini? " kata Meina sambil bangkit dan menggendong Dennis.



"Astaga.. Aku harus bangun dan sekolah.. Tapi semua barang- barangku ada di rumah.. Bagaimana ini" gumam Meina.



Namun dia melihat tumpukan buku dan seragam sekolah di meja kamar tersebut.



"Siapa yang meletakkan itu disana " gumam Meina. Seorang pelayan masuk tanpa mengetuk pintu.



"Ah? Nn. Meinara anda sudah bangun.. Maaf aku masuk tanpa permisi.. Ini pakaian dan barang sekolah untuk anda.. Ny. Besar Danuarga yang membelikan nya untuk anda" kata pelayan itu.



"Emm.. Baiklah.. Terimakasih.. " kata Meina. Pelayan itu membungkukkan badan nya kemudian berlalu.



♡♥♡♥♡♥♡



Michael tampak berbicara serius dengan Marine di ruang makan. Sesekali Michael menghela napas berat mendengar ucapan Marine yang tidak bisa dia bantah.



Meina keluar dari kamar nya. Marine dan Michael menoleh.



"Kau sudah bangun sayang? Mari kita sarapan bersama" kata Marine.



Meina duduk di samping nenek dan mereka bertiga pun sarapan.



"Oh, tega sekali kalian sarapan pagi tanpa aku "



Mereka bertiga menoleh ternyata Robert. Michael menautkan alisnya. Marine melirik Michael dan Robert bergantian.



"Emm.. Robby.. Duduklah" kata Marine. Robert pun duduk berdampingan dengan Meina.



Michael menautkan alisnya semakin tajam.



"Hai manis, kau kekasih nya Mikey? " tanya Robert. "Emm.. Aku.. " Meina bingung harus menjawab apa.



"Makanlah Robby, jangan seperti anak kecil" kata Marine mengalihkan pembicaraan.



Mereka pun melanjutkan sarapan dan Robert juga makan bersama.



Selesai makan, Robert kembali berkata,



"Oh, kau pasti akan segera menikah Mikey.. Dengan.. Gadis belia ini.. Siapa namamu, sayang? " tanya Robert sambil mengulurkan tangan nya.



Meina menerima uluran tangan Robert. "Meinara Sista Adellina" jawab Meina.



"Nama yang indah" puji Robert.



"Ayo, Meina.. Kita harus segera berangkat atau kau akan terlambat" kata Michael sambil beranjak dari duduk nya.

__ADS_1



Meina mengangguk kemudian beranjak dari duduk nya. Dia berpamitan pada Marine dan Robert.



Mereka berdua pergi.



"Jangan ganggu adikmu Robby.. Kau sudah cukup tua untuk berbuat kejam padanya" kata Marine.



"Kadang aku berpikir.. Cucu mu itu aku atau Mikey ?" tanya Robert.



"Kalian berdua cucu kandungku.. Dia anak ayahmu.. Jangan lupa kan itu Robby.. Hanya kalian berbeda ibu bukan berarti kalian bisa seenaknya saling membunuh"



♡♥♡♥♡♥♡



Selama di perjalanan, Meina dan Michael saling terdiam.



"Dia kakakku" kata Michael tiba-tiba.



"Pak Robby? " tanya Meina. "Nama nya Robert.. Nenek selalu memanggil kami dengan akhiran i.. " kata Michael sambil tertawa.



"Mikey, Robby, Ceccy, Johny, Mehy.. Entahlah " kata Michael.



Meina tersenyum.



"Itu manis sekali " kata Meina.



"Baiklah.. Kita sudah sampai " kata Michael. Meina tersenyum.




"Iya, semangat belajar nya ya" kata Michael. Meina mengangguk.



Meina akan berlalu tapi tangannya di tarik Michael. Dengan lembut, Michael mencium kening Meina.



Meina terkesima. Kedua pipi nya memerah karena malu.



Michael menghentikan ciuman nya dan menatap Meina. Mereka saling menatap.



"Akan ku jemput nanti" kata Michael. Meina mengangguk dengan ekspresi masih terkesima.



Michael memasuki mobil nya kemudian mobil tersebut menjauhi Sekolah Menengah Atas itu.



Meina tersenyum kemudian berlalu ke kelas nya. Dia duduk di bangku paling belakang. Maklum dia sangat di pojokkan di kelas nya sendiri.



Noara dengan beberapa temannya memasuki kelas dan menghampiri Meina.



"Halo kakak tiri" sapa Noara. Meina menautkan alisnya.



"Bersenang- senang dengan dokter muda itu? " cemooh yang lain.


__ADS_1


"Oh.. 2 hari tidak kembali ke rumah.. Kau sudah menjadi jalang nya dokter yang baru saja mengantar mu itu huh!" ledek Noara yang ternyata melihat Michael mengantarkan Meina ke sekolah.



Dengan kasar, Meina menarik kerah seragam Noara. Dan Meina berbisik sinis di telinga Noara.



"Yang jalang itu kau, jalang.. Siapa yang memberikan keperawanan nya pada Pak Bagas" geram Meina.



Noara mendorong dada Meina. "Heh.. Jangan mengarang! " desis Noara.



Meina tersenyum sinis. Dia tahu Noara menyukai guru muda yang baru saja menjabat menjadi guru mata pelajaran bahasa Inggris. Dan Noara pernah tidur dengan guru itu.



"Kenapa kau tersenyum seperti itu, Meina! Seharusnya kami semua yang menertawakan jalang seperti mu, lihatlah kami berlima.. Kapan saja kami bisa menghabisimu" kata teman-teman Noara.



"Jaga mulut kalian para jalang.. Aku tidak takut pada kalian semua.. Ini bukan dunia novel dimana tokoh utama nya di sakiti skenario! Aku bisa melawan kalian semua dengan mudah! " geram Meina.



Kau salah Meina.. Cerita ini di bawah kendali ku.. Hahahaha..



Ehmm.. Kembali ke cerita..



"Cih.. Sombong sekali kau, memang nya kau punya apa sampai -sampai sesombong ini " gerutu Noara.



"Aku? Tentu aku punya segala nya.. Kau pikir apa! Dan kau yang punya apa, Noa. Kau dan ibumu yang miskin itu menumpang di rumah ku! Rumah ayah ku! Dan kalian dengan tidak tahu diri nya mengambil semua harta ayahku! " bentak Meina menggelegar.



Semua siswa menatap kearah mereka. Noara merasa sangat malu. Dia menarik bagian depan seragam Meina.



"Berani nya kau menghina ibuku" geram Noara.



"Itu fakta dan kenyataan nya kau tersinggung kan.. Jalang " desis Meina.



Noara akan memukul Meina, tapi sebuah tangan menahan tangan Noara.



"Apa yang kau lakukan? " suara bariton itu melerai Noara.



"Lepaskan aku! Kau tidak berhak ikut campur, Ardhan!" bentak Noara.



Pria tampan itu menatap Noara. "Kau benar, aku tidak berhak ikut campur soal keluarga kalian.. Tapi aku disini sebagai ketua kelas melarang perkelahian.. Kalian berdua tanggung jawab ku.. Dan tidak boleh ada yang mengganggu kenyamanan kelas" kata pria bernama Ardhan itu..



Meina melirik Ardhan dan Noara bergantian.



Noara menepis tangan Ardhan. Kemudian dia berlalu bersama teman-teman nya.



Ardhan melirik Meina. "Kau baik-baik saja, Mei? " tanya Ardhan.



Meina mengangguk. "Terimakasih telah mengendalikan wanita itu " kata Meina.



Ardhan tersenyum. "Tentu saja, kau teman ku" kata Ardhan.



"Sebenarnya aku sangat mencintai mu, Mei"


__ADS_1


By


Ucu Irna Marhamah


__ADS_2