![PSYCHOPATH DOCTOR [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/psychopath-doctor--sudah-terbit-.webp)
***Meinara***
Ya, ini hari dimana aku akan bertemu dokter Mike. Aku duduk di salah satu meja restoran lampion. Restoran Cina yang menyajikan berbagai hidangan dari negeri tirai bambu itu.
Berkali- kali aku melihat jam tangan ku menunggu kedatangan nya.
Cukup lama aku menunggu.
Seseorang datang. Pria berjas itu memasuki restoran. Ku pikir dia Dokter Mike. Ternyata dia Pak Robert. Kakak nya dokter Mike.
Dia tersenyum kearahku. Dia menghampiri ku. Ada apa ini? Apa dokter Mike tidak akan datang?
Dan dia pun duduk di hadapan ku.
"Selamat sore, Nn. Meinara" sapa nya. Aku tersenyum simpul pada nya.
"Sore, Tn. Danuarga" jawab ku.
"Hmm.. Sore yang cerah bukan" kata nya. Aku tersenyum menanggapi ucapan nya.
"Apa dokter Mike tidak akan datang? " tanya ku. Dia menoleh kearahku.
"Dia sedang mengatasi pasien operasi tumor" jawab nya yang sukses membuat ku kehilangan selera makan ku.
"Oh ya, apa kau kekasih nya Mikey? " tanya Pak Robert.
Sekarang aku sudah merasa tidak aneh lagi jika seseorang bertanya tentang statusku dengan dokter Mike.
"Bukan.. Aku hanya pasien nya. Dia kasihan pada ku karena aku korban keracunan yang di racuni ibu dan saudari tiri ku" jawab ku sambil menunduk.
"Oh, malang sekali nasib mu, gadis manis" kata Pak Robert.
"Hmm.. Pak dokter membantu ku melewati masa-masa ku yang hampir sekarat. Dan beliau berhasil menolongku dari maut.. Mungkin tuhan telah mengirimkan malaikat tak bersayap untuk menolongku" kata ku.
"Heh.. Kau salah"
Aku mendongkak menatap manik abu-abu serupa dengan manik mata dokter Mike.
"Maksud anda? " tanya ku.
"Di balik sikap baik nya, dia adalah seekor monster"
Deg
Aku benci bila ada seseorang yang menjelek- jelekkan dokter Mike yang baik. Meski pun itu adalah kakaknya sendiri.
"Kenapa anda berkata begitu? Dokter Mike adik anda kan? " kataku.
"Adik tiri, sama seperti mu yang memiliki ibu dan saudari tiri" katanya memotong ucapan ku.
"Wanita itu.. Dia datang ke kehidupan ku dan ayahku lalu dia merebut perhatian ayahku dari ku dan melahirkan anak sialan seperti Michael.. "
"Aku mohon dengan segala hormat, hentikan Pak.. Anda berbicara terlalu keras membuat semua pengunjung restoran melihat kita dan.. Saya tidak suka anda menjelek- jelekkan pak dokter " kata ku dengan sedikit keberanian.
Sejenak dia terdiam. Mungkin berupaya mengalihkan pandangan para pengunjung restoran dari kami.
Aku menatap nya menunggu ucapan yang akan dia katakan.
"Hmm.. Baiklah seperti nya kau mulai menyukai pria itu" kata Pak Robert.
Aku masih terdiam. Aku yakin dia belum selesai bicara.
__ADS_1
"Katakan kau menyukai nya kan? "
"Iya " kataku tiba-tiba. Entah apa yang membuat ku ingin mengatakan iya.
"Hmm.. Percayalah padaku.. Dia bukan pria baik.. Dia seorang... " Pak Robert menggantung ucapan nya.
Aku menautkan alisku menunggu dan menunggu adalah hal yang paling ku benci.
Dia mendekatkan wajah nya ke telinga ku. Kata yang tidak pernah ku sangka- sangka. Sebuah kata laknat yang sama sekali tidak ingin ku dengar.
"..... Psikopat"
Deg
Deg
Deg
Detik berikut nya, aku tertunduk. Benarkah? Dokter Mike seorang... Psikopat?
Itu kata lain dari Penjahat, Pembunuh, Pendosa.. Berdarah dingin.
Tidak!
Itu tidak mungkin!
Pak Robert pasti berbohong!
Dia ingin agar aku menjauhi dokter Mike untuk suatu tujuan nya.
Pak Robert kembali duduk dan meminum jus nya.
Dia tersenyum simpul. "Aku kakak nya "
Jawaban itu keluar dengan mudah nya. Padahal tadi dia menjelek- jelekkan pak dokter dan sekarang dia bilang dia kakak nya.
Yang benar saja.
"Apa saya harus mempercayai anda? " tanya ku tanpa ragu.
"Tentu, karena aku juga sama seperti dia"
Deg
"Anda.. Psikopat juga? " tanya ku pelan.
Dia mengangguk. Aku menggeleng tidak percaya. Apa ini semacam lelucon garing?
Belum satu minggu aku mengenal baik dokter Mike dan sekarang, aku mendengar keburukan nya.
"Cerita nya panjang.. Aku akan menceritakan nya.. Dan ya.. Kalau kau tidak percaya, itu terserah dirimu.. "
Aku mulai berflashback mengingat..
Darah itu..
Luka di tangan pak dokter memang cukup besar, hanya saja darah itu.. Darah itu terlalu banyak di tangannya.
Lalu.. Daging itu..
__ADS_1
Aku yakin itu bukan daging ayam berbahaya.. Karena aku tahu kalau daging ayam cukup keras jika di bandingkan daging yang waktu itu..
Mungkin saja itu daging manusia.. Karena aku belum pernah menemukan daging selembut itu.
Dan.. Nenek Marine bilang, kalau warna kesukaan dokter Mike adalah hitam sama seperti ku.. Bukankah Hitam sering identik dengan kejahatan?
Aku suka hitam karena aku benci warna! Dan meski pun aku takut kegelapan, tapi hitam yang mungkin selama ini bersama ku yang berani melawan ibu dan saudari tiri ku.
"Kau melamun? "
Aku terhenyak dan menatap Pak Robert.
"Dia akan segera kembali.. Oh ya.. Jika kau tidak percaya padaku, kau bisa berikan pisau ini pada nya dan bertanya.. Apakah pisau ini tajam, atau tumpul.. Jika dia bilang tajam, dia berarti manusia bersih.. Tapi jika dia bilang ini tumpul, berarti dia.. Psikopat " kata pak Robert.
Aku merinding mendengar nya.
"Tapi Pak, ini pisau tajam" kataku.
"Hanya manusia normal yang tahu" kata nya kemudian berlalu.
Aku tertunduk menatap pisau yang ku pegang ini. Apa benar dokter Mike itu psikopat?
Aku tidak mengira.. Dia..
"Hai, Meina"
Aku terhenyak mendengar suara bariton itu dan seketika aku mendongkak menatap pria hangat itu tersenyum pada ku.
Aku gemetar jika mengingat ucapan pak Robert tadi.
"Maaf membuat mu lama menunggu.. Ada pasien yang harus ku operasi" kata nya sambil duduk
Deg
Sesuai dengan ucapan pak Robert. Aku tersenyum menyembunyikan kecemasan ku.
"Tumor? " tanya ku.
Dia tampak terkejut dan menatap ku. "Kau tahu? "
"Aku hanya menebak, karena tumor memang harus di operasi kan? " kataku sambil tertawa renyah.
"Ini jus bekas siapa? " tanya nya sambil menunjuk gelas jus bekas pak Robert.
"Itu, tadi teman ku" kataku sambil tersenyum mengatasi ketakutan ku.
"Kau tampak tegang.. Apa terjadi sesuatu? " tanya nya dengan senyuman hangat.
Aku tersenyum sambil menggeleng.
"Dan.. Kenapa pisau tumpul itu ada di tangan mu? "
Deg
Deg
Deg
Dia.. Psikopat..
By
__ADS_1
Ucu Irna Marhamah