![PSYCHOPATH DOCTOR [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/psychopath-doctor--sudah-terbit-.webp)
***Michael Lorenz Danuarga***
Saat ini aku sedang berada di ruanganku bersama dua wanita yang mengaku sebagai ibu tiri dan saudari tiri pasienku itu.
"Baiklah, jadi makanan apa yang terakhir dimakan oleh korban? " tanyaku.
Sejenak mereka berdua saling pandang seperti sedang saling memberikan kode. Entahlah, aku tidak menyukai tingkah aneh mereka.
Tampaknya mereka tidak lah sebaik yang di katakan. Mungkin mereka bertindak jahat seperti ibu tiri dan saudari tiri Cinderella? Siapa tahu kan?
Kadang- kadang firasatku selalu benar!
"Ehm? " aku berdehem menunggu jawaban dari salah satu wanita di hadapanku itu.
Mereka tampak gugup.
"Sebenarnya kami tidak terlalu tahu pasti dok, karena yang kami ingat, pagi ini kami bertiga sarapan seperti biasa.. Sarapan roti dan selai kacang " jawab gadis bernama Noara itu.
"Hmm, baiklah kami akan memeriksa Meina dengan lebih lanjut lagi agar kita bisa tahu apa yang membuatnya seperti itu " kataku.
Hirma terlihat agak cemas. Namun tak lama. Dia menetralisir kecemasannya.
"Baiklah dokter, terimakasih atas infonya. Kami harus kembali ke rumah " kata Hirma.
Aku hanya mengangguk pelan. Mereka pun permisi pulang.
Haaahhh
Sungguh melelahkan. Menjadi psikopat lebih menyenangkan dan aku tidak perlu memakai otak dalam melakukan pembunuhan.
Aku sudah menyuruh ahli racun dan zat untuk meneliti cairan yang kudapat dari muntahan Meina tadi. Semoga hasilnya lebih cepat.
Aku jadi teringat Meina. Hmm.. Sungguh dia sangat cantik.. Aku jadi ingin memesan seorang jalang untuk menemaniku malam ini.
Ya, meski jalang- jalang itu tidak secantik Meina, setidaknya aku bisa memakai mereka sambil membayangkan Meina.
Hmm.. Gadis itu membuatku kepikiran begini.. Padahal aku belum pernah terobsesi oleh seorang gadis.. Apa lagi gadis yang masih remaja seperti dia.
Hmm.. Aku harus mencari jalang seperti dia.. Atau.. Dia saja yang menjadi bonekaku.. Itu pasti menyenangkan..
Aku jadi ingin melihat keadaannya sekarang. Aku pun beranjak dari tempat dudukku dan bergegas memasuki kamar rawat Meina.
__ADS_1
Ckreeekkk
Kutarik knop pintu kamar rawat tersebut. Terlihat ada pergerakan diatas ranjang itu.
Hazel bulat itu menatapku. Ternyata gadisku.. Ehmm ternyata gadis itu sudah bangun dari istirahatnya.
"Halo, kau sudah merasa baikkan Nn.? " tanyaku. Pandangannya sayu dan dia pun menatap lurus.
"Sepertinya.. Begitu.. Terimakasih.. Dok" kata Meina. Dia menghela napas panjang.
Aku duduk di kursi yang tersedia di samping ranjang tersebut. Aku bisa dengan jelas melihat wajahnya yang putih dengan kedua pipi memiliki semburat merah muda membuatnya terlihat seperti boneka.
"Tadi keluargamu kemari" kataku. Seketika dia menatapku dengan tatapan seolah tidak percaya.. Apa aku salah bicara?
"Siapa? " tanyanya.
Aku heran dengan pertanyaan konyol itu. "Emm.. Ibu dan saudari tirimu" jawabku hati- hati.
Dia tersenyum sesaat, senyuman yang sinis sambil memandang langit- langit kamar. Aku mengerutkan dahiku tanda tidak mengerti.
"Mereka bukan keluargaku" kata Meina terdengar cukup sarkas di telingaku.
Sudah kuduga..
Tapi aku harus memastikan.. Apakah tuduhan gadis ini benar?
"Mereka menginginkan aku mati agar mereka bisa menikmati harta peninggalan ayahku" kata Meina pelan. Terdengar menyedihkan.
Sesuai dugaanku, dia seperti Cinderella.
"Cinderella " kataku tanpa sadar. Meina menatapku kemudian dia tertawa. Sungguh dia terlihat begitu cantik saat tertawa.
"Kenapa tertawa? " tanyaku sambil tersenyum geli melihat dia tertawa seperti itu.
"Maaf, dok. Tapi aku tidak sebaik Cinderella.. Aku sangat membenci mereka berdua.. Aku bukanlah gadis baik" kata Meina dengan tatapan tersirat luka.
"Bukanlah gadis baik? " tanyaku memancingnya untuk mengatakan hal yang mungkin tidak aku ketahui.
"Iya, aku gadis yang pendendam dan suka marah" kata Meina.
__ADS_1
Wow
Baru kali ini aku bertemu dengan gadis yang berkata jujur seperti ini. Biasanya setiap gadis yang kutemui akan berbicara munafik dan berusaha memperlihatkan sikap baiknya untuk menarik perhatianku.. Tapi tidak dengan yang ini..
Meina berterus terang pada orang asing seperti ku.. Apa dia benar-benar mau curhat padaku?
"Katakan saja jika kau ingin mencurahkan isi hatimu, tidak baik kau pendam sendiri, Meina" kataku.
Dia tersenyum padaku. "Anda mengetahui namaku, pasti dari ibu tiriku, Meina adalah nama panggilan ayahku dulu.. Ayah yang sudah tiga tahun pergi meninggalkanku bersama kedua wanita itu " kata Meina dengan padangan menerawang.
"Jika kau mau, aku akan mengubah panggilanku padamu " kataku.
"Tidak perlu dok, aku senang anda memanggilku dengan nama itu " kata Meina dengan senyumannya yang membuat kedua lesung pipitnya tercetak jelas.
"Kau sekolah dimana? " tanyaku. "SMA negeri 5 Harapan Bangsa, kelas sebelas" jawab Meina.
"Aku juga pernah bersekolah disana " kataku. "Benarkah? Kupikir anda bersekolah di luar negeri" katanya.
"Tidak, aku lahir di Indonesia dan bersekolah di Indonesia" jawabku.
"Maaf, aku mengira anda berasal dari luar negeri karena melihat ciri fisik anda" katanya terdengar dan terlihat sungkan.
"Oh, tidak masalah.. Ayah ku memang berasal dari Brazil dan ibuku orang asli Indonesia " jawabku.
Kulihat dia ber-oh ria.
"Apakah setelah ini aku bisa pulang? " tanyanya dengan ekspresi berharap.
Demi Tuhan! Aku tidak mau dia kembali pulang ke rumahnya.. Aku mau dia disini dan masih bersamaku.. Apa aku benar-benar menyukainya?
"Kami belum bisa memastikan karena racun yang kau telan masih kami selidiki" kataku.
Dia tampak menghela napas berat.
"Hmm baiklah, terimakasih dok"
Aku mengangguk dan tersenyum penuh kemenangan.
♡♥♡♥♡♥♡
By
__ADS_1
Ucu Irna Marhamah