PSYCHOPATH DOCTOR [SUDAH TERBIT]

PSYCHOPATH DOCTOR [SUDAH TERBIT]
1


__ADS_3


***Michael Lorenz Danuarga***



Langkah kakiku membawa lku ke salah satu kamar rawat. Aku memutar knop pintu. Dan objek yang pertama kulihat adalah gadis kecil berkuncir dua dengan seorang pria yang seumuranku.



"Halo " sapaku ramah mencairkan suasana dan untuk menetralisir ketakutan yang kemungkinan bisa saja di rasakan gadis kecil itu.



Namun itu diluar dugaanku Gadis kecil itu tersenyum manis padaku.



"Hai" jawabnya riang. Oh itu mengingatkanku pada Cecillia adikku waktu kecil dulu. Tapi tetap saja, gadis kecil ini bukan Cecillia.



"Apa keluhannya? " tanyaku pada pria yang bersamanya. Mungkin kakaknya.



"Anakku terus mengerang. Kata nya sakit perut" kata pria yang ternyata adalah ayahnya. Sungguh diluar dugaanku. Pria itu tampak muda dan seumuran denganku.



Oh mungkin aku juga seharusnya sudah menikah dan memiliki anak seperti dia.



"Oh.. Baiklah biar kuperiksa, buka mulutmu" kataku. Gadis kecil itu menurut. Aku menekan dadanya dengan stetoskop.



Sungguh gadis kecil yang penurut dan tidak rewel.



"Siapa namamu cantik? " tanyaku. Dia tersenyum lebar dan menjawab, "Amanda"



"Amanda gadis yang beranikan? Bagaimana kalau dokter suntik? " tanyaku.



Sejenak ekspresinya sedikit ketakutan. "Emm.. Apa tidak sakit? " tanyanya terlihat ragu.



"Tidak, rasanya tidak sakit, mungkin seperti di gigit semut" kataku meyakinkan gadis kecil itu.



"Baiklah " katanya dengan ekspresi tegang. Aku tertawa.



"Tidak, aku hanya bercanda" kataku sambil tertawa renyah karena dia begitu manis saat memperlihatkan ekspresi seperti itu.



Kulihat ayahnya juga sedikit tersenyum melihat  kejahilanku.



"Baiklah gadis pemberani, kau boleh kembali, minum obat ini ya dan ikuti kata ayahmu" kataku sambil membelai kepalanya dengan lembut.



Setelah selesai, aku berbicara dengan ayahnya mengenai aturan minum obat yang kuberikan.



Aku pun berlalu ke ruanganku. Ya, seperti biasa. Jika tidak ada pasien aku pasti akan duduk santai menikmati secangkir kopi panas dan membaca surat kabar hari ini.



Banyak di beritakan tentang kasus pembunuhan di surat kabar yang ku baca. Ada perampokan, pemerkosaan, penjarahan dan masih banyak lagi dan berakhir dengan korban jiwa.


__ADS_1


Ya, seperti itu lah hidup. Ada yang hidup, ada yang mati, ada yang hidup lalu di bunuh dan kemudian mati.



Permainan alam memang kejam. Terdengar pintu ruanganku di ketuk. Aku sedikit terhenyak kemudian beranjak dari tempat dudukku dan membuka pintu.



Ternyata seorang perawat lengkap dengan ekspresi paniknya.



"Ada apa? " tanyaku dengan ekspresi cemas. Sebenarnya hanya kedok.



"Ada pasien pria korban penembakan, cepat dok, kita harus segera menanganinya " kata perawat itu. Aku mengangguk dan berlalu mengikuti perawat itu.



Kami memasuki ruang UGD. Apa dia mendapatkan luka yang cukup serius sampai harus di bawa ke ruang UGD?



Aku terkejut melihat pasien pria yang terbaring di ranjang dengan darah membasahi pakaian putihnya.



Dia meronta mungkin menahan rasa sakit dan aku menyukai pemandangan itu.



Saat pria itu menggeliat merasakan kesakitan yang luar biasa. Sungguh aku menikmati pemandangan itu. Anggap saja itu sebagai cuci mata.



Aku menghampirinya. Tercium aroma anyir yang menyeruak memenuhi rongga hidungku. Ah ini lebih wangi dari parfum termahal di dunia.



Baiklah, saat ini aku sedang menjadi seorang dokter. Aku harus bersikap seperti seorang dokter. Atau semua orang di ruangan ini akan curiga.




Saat aku akan menusukkan jarum itu, tangan pria itu bergerak dan mengenai tanganku hingga jarum yang kupegang jatuh. Dan pecah. Serumnya pun tumpah.



Aku benar-benar kesal. Apa-apaan dia!



Ingin kupatahkan tangannya. Tapi aku harus bersikap wajar.



"Kalian, pegangi kedua tangan dan kakinya " kataku sedikit menggeram menahan emosi. Para perawat laki-laki dan perempuan agak terkejut dengan ucapanku.



Tapi mereka menurut. Aku memakai masker dan sarung tangan karetku. Kemudian aku mengambil pisau bedah.



"Maaf ya, obat biusnya sudah habis. Yang kau jatuh kan tadi adalah serum bius yang terakhir" kataku dengan tatapan horor.



Para perawat terlihat mengerutkan dahi mereka. Sepertinya mereka mulai merasa aneh dengan sikapku. Namun aku tidak peduli.



Aku memegang kakinya dan kusayatkan pisau bedah yang kupegang untuk mengeluarkan peluru dari sana.



"Aaaaa!!!! "



Sungguh teriakannya seperti melodi indah di telingaku. Dan aku semakin senang merobek kulit dan dagingnya.


__ADS_1


Aku mengambil pencapit dan menerobos luka itu untuk mencapit pelurunya.



"Aaaa!!!! " lagi -lagi teriakan yang memekakan telinga itu membuat getaran menakjubkan di dalam telingaku.



Aku berhasil mengeluarkan peluru itu. Dan tinggal beberapa peluru lagi. Aku tersenyum di balik maskerku.



♡♥♡♥♡♥♡



Aku berjalan menuju wastafel dan mencuci kedua tanganku dengan antiseptik.



Setelah itu, aku kembali ke ruanganku. Disana sudah ada Dokter Dhika duduk sambil membaca surat kabar yang kubaca.



Aku mengerutkan dahi karena bingung. Untuk apa dia berada di ruanganku sementara dia sendiri memiliki ruangan.



"Selamat sore, Dokter Michael" sapanya tanpa menoleh sedikit pun padaku. Aku pun duduk berhadapan dengannya.



"Ah, selamat sore, Dokter Dhika" jawabku ramah. Tak lupa dengan senyumanku.



Dia menatapku sekilas kemudian tersenyum simpul.



Cih! Aku tidak suka ekspresinya yang angkuh itu. Padahal dia hanya lebih senior dariku.



"Kudengar baru saja kau mengoperasi seorang pasien laki- laki korban penembakan" kata Dhika.



"Iya, itu benar.. Memangnya kenapa? " tanyaku. "Kudengar kau mengoperasinya tanpa obat bius" kata Dhika.



Oh jadi dia mau membahas itu. Sungguh menjengkelkan. Akan kuladeni dia.



"Iya, itu karena dia menjatuhkan obat bius terakhir untuknya " jawabku.



"Padahal kau tahu kan masih banyak stok serum bius di ruang obat.. Atau kau sengaja tidak mau membiusnya" kata Dhika dengan ekspresi mencurigaiku.



Aku menautkan alisku karena kesal. Dia menjengkelkan juga ternyata.



"Agar dia bisa memuaskan fantasimu.. Kau.. Psikopat kan? "



Sungguh aku akan menjadi kan dia korban selanjutnya. Dan surat kabar besok akan lebih menarik. Hahaha



         ***Kalo ada nama di atas paragraf itu berarti POV nya dia ya... Seperti di atas.. Itu POV nya Michael***



By



Ucu Irna Marhamah

__ADS_1


__ADS_2