![PSYCHOPATH DOCTOR [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/psychopath-doctor--sudah-terbit-.webp)
***Michael Lorenz Danuarga***
Pagi ini seperti biasa, aku berangkat ke rumah sakit untuk menjalankan tugasku sebagai seorang dokter.
Aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruanganku. Beberapa perawat menyapaku. Aku menjawab sapaan mereka dengan senyuman ramahku.
Aku pun memasuki ruangan kerjaku dan kulihat ada surat kabar terbaru diatas mejaku. Ya, sudah kebiasaanku setiap hari menyuruh para OB untuk menyimpan surat kabar terbaru di mejaku setiap paginya.
Aku membaca bagian depan surat kabar itu dan kulihat fotonya.
Seorang dokter muda bernama Dhika Permana meninggal dunia di dekat parkiran mobil. Korban meninggal dengan cara yang sangat mengenaskan. Banyak sekali luka sayatan, sobekan dan patah pada tulangnya. Diantaranya ada luka gorokan pada lehernya dan mulutnya sobek. Serta kedua bola matanya hilang.
Aku tersenyum penuh kemenangan. Ya, itu perbuatanku. Kemarin malam aku mencegatnya dan menghabisinya.
Asal kalian tahu, kedua bola matanya kusimpan di kulkas apartemenku.
Tidak!
Aku bukan kanibal! Aku tidak sudi memakan anggota tubuh manusia. Terutama manusia seperti dia!
Terdengar pintu ruanganku di ketuk. Aku beranjak dari tempat dudukku untuk membuka pintu tersebut. Apakah ada pasien pagi- pagi begini?
Aku pun membuka pintu dan kulihat seorang perawat laki-laki yang mengetuk pintu ruanganku.
"Dokter, ada seorang gadis SMA yang keracunan, keadaannya sangat mengkhawatirkan" katanya.
"Baiklah, ayo kita kesana" kataku. Kami bergegas memasuki ruang UGD.
Apa hanya aku dokter di rumah sakit ini sampai -sampai setiap ada pasien, selalu aku yang di panggil.
Dan lagi, katanya pasienku yang sekarang seorang gadis SMA yang keracunan? Ah remaja. Mungkin dia hanya patah hati kemudian meminum racun agar dia mati.
Kubuka pintu tersebut dan pemandangan yang kulihat adalah seorang gadis berseragam putih abu-abu tengah menggeliat diatas ranjang rumah sakit sambil memegang tenggorokannya.
Sungguh pemandangan yang lagi- lagi membuatku senang. Ya, aku menikmati pemandangan itu. Bukan hanya ekspresi kesakitannya.
Tapi juga tubuh indah gadis SMA itu. Ah tidak! Kenapa pikiranku jadi kacau begini. Dia hanya gadis SMA yang mungkin usianya masih 17 tahun.
__ADS_1
Aku segera menghampirinya. Pikiranku masih agak berantakan. Mungkin cukup lama aku tidak melakukan pelepasan pada jalang- jalang itu. Jadi sekarang tiba-tiba aku menjadi ON.
Aku menekan stetoskopku pada dadanya. Dari sini aku bisa melihat sepasang payudara yang begitu menantang untuk ukuran gadis SMA.
Detak jantungnya berdetak kira-kira 5x dalam sedetik. Aku segera mengambil obat sirup yang bisa meetralisir racun atau virus yang mengganggu tenggorokkan ataupun lambungnya.
Aku pun meminumkannya. Dia masih berontak. Lama-lama rontaannya berkurang. Sepertinya obatnya mulai bereaksi.
"Tenanglah" kataku. Gadis itu menatapku dengan sayu. Sungguh indah kedua matanya. Seperti mata rusa. Ah tunggu kenapa aku membandingkannya dengan hewan.
"Do.. Dokter.. Aku ti..tidak mau ma..mati.." kata nya parau dengan air mata berlinang.
Aku tertawa dalam hati. Dia tidak mau mati? Bagaimana jika aku mencabut saja nyawanya sekarang? Ah tidak dia terlihat begitu menyedihkan. Setidaknya kubiarkan di hidup untuk beberapa saat.
"Tenanglah, kau akan baik-baik saja, sekarang istirahatlah, aku akan mengoperasimu. Bagaimana? " tanyaku.
Dia menatap ku. Sesaat aku terlena pada manik hazelnya yang menggoda.
"Lakukan apapun asalkan aku hidup" katanya.
"Aku hanya bercanda.. Kau tidak perlu di operasi Nn. Sekarang istirahatlah. Nanti aku akan memberikanmu resep obatnya " kataku menenagkannya.
Dia mengangguk. "Te.. Terimakasih " katanya pelan.
♡♥♡♥♡♥♡
Ah sial! Aku harus menyelesaikannya di kamar mandi sambil membayangkannya. Membayangkan tubuhnya. Sial! Baru kali ini ada seorang gadis yang membangkitkan diriku hanya dengan tatapan matanya.
Aku membersihkan milikku dengan air kemudian membereskan pakaianku. Aku kembali ke ruanganku.
Ah kenapa wajah gadis itu masih terbayang di otakku! Matanya seolah menghipnotisku menenggelamkanku ke hasrat terdalamku.
Demi tuhan! Dia hanya gadis SMA!
Aku tidak mungkin pedofilia!
Aku masih waras dan menyukai wanita dewasa.
__ADS_1
Aku jadi penasaran. Apa ya, yang dia lakukan saat ini di kamar rawatnya?
Entahlah, aku hanya bisa mengikuti langkah kakiku menuju kamar rawatnya. Kulihat dia terbaring dengan mata tertutup.
Dia terlihat begitu tenang dan jauh berbeda jika di bandingkan dengan tadi, saat dia meronta melawan rasa sakitnya.
Perlahan aku mendekatinya dan menatap lekat wajahnya dari dekat. Dia begitu cantik. Dengan mata bulat lancip serta hidung kecil mancung dan bibir merah merekah.
Sungguh wajah asing menurutku. Dia lebih seperti keturunan Cina mungkin. Aku jadi mengingat ibuku. Oh aku sangat merindukannya.
Perlahan tangannya bergerak seolah mencari sesuatu dari sampingnya. Dengan mata yang masih terpejam.
Aku menyentuh tangannya. Dengan cepat, dia memeluk tanganku.
"A.. Ayah.. Ja.. Jangan pergi" katanya. Sepertinya dia mengigau. Aku jadi ingin tertawa. Apa dia pikir aku ini ayahnya?
"Ayah.. Mereka.. " dia kembali tenang. Aku menarik kembali tanganku. Dia terlihat begitu kelelahan.
Terdengar suara pintu di buka. Masuklah seorang wanita paruh baya dengan seorang gadis yang tampaknya sebaya dengan pasienku ini.
"Ya Tuhan! Meinara! " teriak wanita itu. Aku segera menarik tanganku atau wanita aneh ini akan curiga dan berpikiran buruk tentangku.
"Tenanglah bu, ini rumah sakit" kataku.
"Apa yang terjadi dengan nya dok? " tanya wanita itu. "Dia keracunan.. Entahlah kami belum memeriksa racun apa yang tertelan oleh gadis ini.. Apa anda keluarga pasien? " tanyaku memastikan.
"Iya, aku Hirmala, ibu tiri Meinara dan ini putriku Noara Imeldiani, aku sangat mengkhawatirkan Meinara, meskipun aku ibu tirinya dan Noa adalah saudari tirinya, kami sangat menyayangi Mei seperti keluarga kami sendiri " kata wanita itu.
Jadi nama gadis manis yang membuatku ON ini Meinara nama yang unik dan cukup bagus..
Ah aku jadi menyukainya..
Persetan dengan pedofil
♡♥♡♥♡♥♡
By
Ucu Irna Marhamah
__ADS_1