![PSYCHOPATH DOCTOR [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/psychopath-doctor--sudah-terbit-.webp)
***Meinara Sista Adellina***
Hari ini, aku berada di rumah sakit saat pagi tadi aku keracunan.
Oh ya, sebelumnya perkenalkan namaku Meinara Sista Adellina. Seorang gadis yang malang.
Ibuku meninggal saat aku lahir. Dan ayahku menikah lagi dengan seorang janda satu anak. Usianya sebaya denganku.
Namun..
Mereka sangatlah licik dan jahat. Saat ayahku masih hidup, mereka berdua begitu peduli padaku walau aku tahu itu hanya kebohongan.
Di belakangku, mereka berdua sering berbicara hal buruk tentang aku dan ayahku. Aku selalu mendengarnya.
Dan sekarang, setelah ayahku meninggal, aku hidup bersama mereka dalam kesengsaraan.
Kesengsaraan dalam arti lain. Yaitu mereka berdua sering menjajahku.
Namun aku bukanlah Cinderella dan tak sebaik Cinderella pula. Aku membantah dan membangkang.
Tidak peduli meski aku di sebut anak durhaka. Toh mereka berdua bukan keluargaku!
Dan ya, aku benci saat mereka mengekangku dengan cara mengancam atau berbuat licik!
Jika aku tidak mau menuruti keinginan mereka, mereka selalu membuat rencana agar aku bisa menuruti kemauan mereka.
Entahlah, aku benar-benar benci dengan jalan hidupku ini.
Apalagi jika mereka menggunakan uang atau harta peninggalan ayahku untuk keperluan yang tidak penting.
Aku benci mereka. Mereka merenggut semuanya. Dan aku pun selaku pewaris harta ayahku tidak pernah sedikitpun menggunakannya untuk keperluan pribadiku.
Dan pagi ini, mereka memasukkan racun pada selaiku. Aku tahu karena biasanya mereka tidak pernah menyuruhku sarapan. Dan pagi ini mereka begitu memaksa agar aku memakan roti itu.
Sebelumnya aku tidak curiga, dan ya, aku memakan roti itu lalu segera ke sekolah. Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang aneh ditenggorokanku. Aku bicara pada temanku bahwa telah terjadi sesuatu padaku.
Kebetulan temenku Tiara, dia anak seorang dokter, dia membawaku ke rumah sakit ini sebelum terjadi sesuatu dan kami membolos demi keselamatanku.
Sewaktu di perjalanan, aku merasa tenggorokkanku semakin panas dan perih. Aku meminum minuman yang biasaku bawa dalam botol airku.
Namun kesegarannya sama sekali tidak mempengaruhi rasa sakit ini.
Dan aku pun mulai meronta kesakitan. Sungguh rasanya benar-benar sakit. Bukan hanya tenggorokanku. Tapi juga kerongkongan dan lambungku.
Temanku, Tiara terlihat khawatir dan melajukan mobilnya diatas kecepatan rata- rata.
__ADS_1
Kami pun sampai ke rumah sakit dimana ayahnya bekerja. Aku di bawa ke ruang UGD dan aku masih meronta. Beberapa suster dan perawat laki-laki menanganiku.
Aku benar-benar tidak bisa lagi menahan sakit di lambungku dan bahkan aku bisa mendengar suara perutku bergejolak.
Sialan nenek sihir dan kuntilanak itu! Apa mereka benar-benar memasukkan racun tikus ke dalam rotiku.
Seorang dokter muda masuk. Dia bukan ayahnya Tiara. Aku tidak mengenali dokter asing itu.
Dia sungguh baik dan mau bersabar dalam menanganiku. Aku memohon padanya untuk menyembuhkan aku. Karena aku benar-benar tidak mau mati secepat ini sebelum membalas kebusukkan dua wanita laknat itu.
Kami berbicara begitu akrab padahal ini kali pertama kami bertemu. Namun dia benar-benar pria yang ramah.
Selain itu, dia sangat tampan dan terlihat berwibawa. Katanya dia pria blasteran Indo-Brazil.
Aku sedih mengetahui aku belum bisa pulang. Tapi setidaknya telingaku tidak sakit lagi mendengar ocehan Hirma dan Noara.
"Ehm"
Aku terhenyak mendengar deheman dokter yang tidak aku ketahui namanya itu.
"Maaf.. Aku melamun ya? " kataku. Aku yakin kedua pipiku pasti memerah karena aku bisa merasakan panas di wajahku.
Dia tersenyum hangat. "Tidak masalah.. Aku yakin kau pasti merasa tertekan" katanya.
"Maaf, jika aku boleh tahu, siapa nama anda.. Anda kan sudah mengetahui namaku" kataku. Biarkan saja meski dia berpikir aku lancang.
"Oh iya.. Aku akan mengingatnya, Dok" kataku. Dia tersenyum.
♡♥♡♥♡♥♡
Malam ini aku terbaring di atas ranjang kamar rawatku. Sungguh ini membosankan. Tidak ada teman..
Aku melihat ke pintu ruangan ini. Terdapat kaca transparan disana untuk melihat keluar atau melihat kedalam.
Terlihat keadaan menjadi gelap diluar. Mungkin beberapa penjaga rumah sakit memadamkan setiap lampu di lorong rumah sakit ini.
Aku benar-benar benci kegelapan.. Aku takut akan gelap. Entah itu phobia atau memang setiap manusia memang takut gelap.
Aku berbalik kearah dinding. Untuk menghindari pandanganku dari area gelap itu.
Aku takut.. Aku takut.. Aku takut..
Tiba-tiba terdengar suara gedebuk dari jendela. Aku menoleh sedikit. Jendela kamar ini terbuka. Aku benar-benar takut.
Kenapa aku tidak merengek saja pada dokter Mike agar aku dipulangkan saja.
__ADS_1
Perlahan aku beranjak dari ranjang menuju jendela itu dan menutupnya. Aku menarik napas panjang menghilangkan rasa stress ini.
Tiba-tiba aku mendengar suara tangisan di kamar mandi dekat kamar rawat ini. Demi Tuhan! Aku benci suara tangisan apalagi di rumah sakit ini.
Apa mungkin ada hantu? Ah aku bahkan jadi takut segalanya!
Aku tidak tahan dan berlari keluar mencari seseorang yang mau menenangkanku.. Mungkin.
Aku berlari dan melihat ada pintu bertuliskan
Michael Lorenz Danuarga
Tanpa mengetuk pintu, aku memasuki ruangan itu. Aku bersembunyi di balik pintu dan tertekuk sambil dahiku menempel ke pintu ruangan tersebut.
Napas ku terengah- engah.
Dan tiba-tiba, tangan dingin menyentuh pundakku. Aku tidak mampu berbalik dan aku pun....
"Aaaa!!!!!!!!!! "
Aku menutup kedua telingaku dan berteriak.. Emm aku yakin kedengarannya pasti sangat kecang.
"Meina? "
Suara itu? Aku mengenalnya. Aku berbalik dan ternyata benar. Dia dokter Mike.
"Dokter.. Ahhh.. Aku benar-benar terkejut " kata ku sambil menghela napas lega setelah melihat keberadaannya.
Berbeda dengan dia yang terlihat bingung. "Terkejut? Memangnya kenapa? Ada apa? " tanya dokter Mike.
"Aku takut kegelapan.. Aku juga mendengar suara tangisan.. Aku benar-benar takut, dokter... Apa boleh aku pulang saja? " tanyaku dengan tatapan puppy eyes ku.
Dokter Mike tampak mengalihkan pandangannya. Aku tahu tatapanku itu sangat menyedihkan.
"Emm.. Tapi aku tidak bisa menjamin apa ibu tiri dan saudari tirimu itu tidak akan meracunimu lagi? Atau bahkan melakukan hal yang lebih buruk? " kata dokter Mike.
Dia benar juga.. Aku tidak akan mampu melawan mereka dengan keadaanku yang sekarang ini.
"Lalu aku harus bagaimana? " tanyaku polos.
Dia tampak berpikir. Lalu dengan senyuman hangatnya dia menjawab,
"Tinggallah di apartemenku, maka kau akan baik-baik saja"
♡♥♡♥♡♥♡
By
__ADS_1
Ucu Irna Marhamah