
Masa sekarang.
Saat Heidar mengangkat senjata nya ke arah Zid, jelas semua orang terkejut. Seketika terdengar suara letusan dari moncong senjata apinya.
Seisi ruangan tampak terkejut dan membeku.
Zid masih berdiri menghadap Heidar, dia sepertinya menyadari soal sesuatu.
Dooooorrrr
Seketika tubuh zid menghilang, tembakan nya tepat mengenai laki-laki yang ada di belakang zid.
Sepersekian detik kemudian zid kembali lagi muncul dan tubuh di belakang laki-laki itu ambruk.
Seorang perempuan tumbang seketika.
Heidar meletakkan jari telunjuk nya ke atas bibirnya, laki-laki itu berjalan mendekati tubuh yang tumbang tersebut, membalikkan tubuh itu lantas memeriksa nya dengan seksama.
Saat Heidar telah memastikan orang itu telah tewas, laki-laki itu mencabut sesuatu dari belakang tengkuk orang itu.
"Mereka sudah bergerak masuk ke Heidar dengan cara yang halus"
Ucap Heidar cepat lantas berdiri.
"Masih ada yang lainnya?"
Tanya Doktor John masih dengan ekspresi terkejut.
"Periksa semua satu persatu, Neo"
__ADS_1
"Baik tuan"
Zid berjalan mendekati tubuh perempuan tadi, dia mengerutkan keningnya sejenak lantas meraih sesuatu dari balik belakang telinga kanan perempuan itu.
"Oh shi..t"
Umpat Zid kesal.
"Ada apa?"
Layyana bertanya sambil menatap tubuh perempuan yang tumbang itu.
"Aku fikir mereka melakukan sistem kloning ke beberapa orang"
"Uji cobanya cukup berhasil"
Tambah Zid pelan.
Ucap Heidar kemudian.
******
Nadine menatap dalam wajah Zii, putri nya benar-benar terlelap panjang dalam tidurnya untuk waktu yang lama, doktor John dan sang suami memasukkan Zii di sebuah tabung kaca, melindungi tubuh kecil itu agar terus terjaga staminanya dan menyambungkan beberapa selang untuk asupan gizi serta nutrisinya.
Heidar yang baru masuk dari arah pintu samping langsung memeluk erat tubuh Nadine, mencoba menghilangkan kekhawatiran sang istri sejak kemarin.
"Semua akan baik-baik saja hmm"
Bisik Heidar pelan.
__ADS_1
"Keadaan ini cukup membuat aku hampir menggila"
Ucap Nadine sambil mencoba menahan tangisannya, dia mencoba membalikkan tubuhnya dan menatap dalam bola mata Heidar
"Zii tidak tumbuh dengan baik, tidak seperti anak-anak pada umumnya yang mendapat kan kasih sayang penuh dari orang tua nya sejak didalam kandungan,bahkan dia tidak pernah bertanya di mana Daddy Mommy saat orang-orang berkata dirimu sudah meninggal"
Air mata Nadine jatuh tiba-tiba.
"Saat kami pergi ke pusat belanjaan, dia selalu melirik ke arah anak-anak yang digendong oleh Daddy nya, meskipun tidak bilang aku tahu dia iri dan juga menginginkan nya"
Seketika Heidar menelan Saliva nya saat mendengar ucapan sang istri.
"Saat anak-anak lain digandeng tangan mereka oleh Daddy mereka, Zii hanya menatap tangan ku, melirik sejenak lantas pura-pura berlarian ke arah depan sambil tertawa senang, padahal realita nya dia juga ingin tangan nya digandeng seperti anak-anak yang lainnya"
"Baby"
Heidar mencoba menyentuh wajah Nadine.
"Dia tumbuh dewasa dan kuat sebelum waktunya, saat anak-anak seusianya masih sibuk menikmati kesenangan di masa anak-anak nya, Zii ku sudah harus bertarung nyawa, dia harus bisa melakukan apapun yang tidak bisa dilakukan anak-anak lainnya"
"Jika orang tua lain akan bangga pada kepintaran nya, tidak dengan diri ku Heidar, tidak, aku juga terluka, aku juga begitu terluka"
"Sekarang, saat anak-anak seusianya masih sibuk dengan aktifitas menyenangkan mereka, Zii ku terbaring disini dalam keadaan tidak berdaya"
Nadine jelas histeria, tangis nya pecah tanpa bisa dia bendung lagi, Heidar secepat kilat memeluk sang istri, mencoba menyakinkan diri jika sebentar lagi semua akan kembali normal seperti sedia kala.
"Tunggulah sebentar lagi, tunggu lah sebentar lagi, aku mohon"
Bisik Heidar pelan.
__ADS_1
"Maafkan aku, maaf"
Hanya kata-kata itu yang mampu keluar dari mulut Heidar.