
Di keesokan harinya
Estonia
20.20 PM
Malam
Setelah dari bandara melewati
penerbangan +- 19 jam
Perjalanan panjang dalam kondisi hamil muda jelas-jelas keputusan paling berani yang Nadine ambil, tapi Nadine hanya butuh waktu untuk berfikir saat ini, mematikan seluruh akses komunikasi dan menjauh dari dunia nya yang semula menjadi pilihan paling bijak.
Nadine beberapa kali menghembuskan nafas nya, dia bersandar di pintu mobil sewaan yang dia tumpangi untuk menuju ke arah hotel yang di pesan itu dengan mata terpejam, seorang laki-laki tampan yang usianya lebih tua beberapa tahun dari nya tampak mengulum senyum melihat kegelisahan hati Nadine.
"Putus cinta lagi?"
Laki-laki itu bertanya sambil berusaha menelisik wajah gadis itu.
Alih-alih menjawab, Nadine tiba-tiba membuka bola mata nya.
"Katakan pada ku, apa laki-laki seperti kalian begitu suka berselingkuh?"
Mendengar pertanyaan Nadine, laki-laki itu hanya mengulum senyumannya.
"Tidak juga, tergantung dari individu nya"
__ADS_1
Jawab laki-laki itu cepat.
"Aku bukan type laki-laki seperti itu"
"Hmmmm"
Nadine menarik pelan nafasnya.
"Seharusnya kamu bukan teman dekat ku, kita bisa menikah jika kamu bukan sahabat terbaik ku"
keluh Nadine kemudian.
"Kenapa?"
Tiba-tiba laki-laki itu bersandar tepat disamping Nadine.
Laki-laki itu bicara lantas menoleh secara perlahan ke arah Nadine.
Dia menatap wajah indah itu untuk beberapa waktu, Nadine tampak memejamkan bola matanya, hanya mendengar kan ucapan laki-laki itu tanpa berniat menatap wajah tampan itu.
"Tapi Kadang tingkat kenyamanan diri itu akan menjadi berbeda ketika hubungan persahabatan berubah menjadi pernikahan"
Nadine menjawab perlahan.
"Dan terkadang juga tidak menjamin hubungan itu bisa menjadi langgeng"
Laki-laki itu menelusuri tiap lekuk wajah Nadine, memperhatikan semua lekuk wajah cantik ciptaan tuhan paling sempurna bagi nya itu.
Berapa tahun dia menunggu gadis ini?
__ADS_1
SMP, SMA, masa kuliah hingga hari ini.
Beberapa kali harapan nya seringkali pupus karena laki-laki lain, Nadine jelas enggan menjalani hubungan dengan orang yang di anggap nya sebagai sahabat terbaiknya sekaligus seperti pengganti kakaknya sendiri Liam, hingga membuat laki-laki itu mulai menyerah, meskipun Nadine sering menyakiti hatinya tapi dalam keadaan bagaimanapun juga saat Nadine membutuhkan dirinya, dia tentu tidak bisa menolak nya.
"Aku tidak berani berharap lebih"
Seloroh laki-laki itu kemudian.
Nadine mengangguk-angguk kan kepalanya.
"Memang tidak boleh, sebab aku bisa menghindari kamu ketika aku tahu kamu berharap ingin menikahi aku"
Ucap Nadine cepat.
Laki-laki itu hanya mampu menelan salivanya.
"Katakan pada ku, siapa lagi yang membuat mu patah hati kali ini?"
Laki-laki itu bertanya sambil terus menatap kearah Nadine.
Sejenak Nadine menoleh ke arah laki-laki itu, seketika bola mata mereka bertemu dan suara nafas mereka terdengar saling menyahut antara satu dengan yang lainnya.
Sejenak mata laki-laki itu menatap bibir indah Nadine, kadangkala ingin sekali dia menyentuh bibir itu, mencium nya dalam waktu yang lama kemudian berkata betapa dia mencintai gadis itu selama waktu dia masih mampu mencintai Nadine dalam diam.
"Tidak tahu apa ini bisa di bilang patah hati, aku tidak mencintai laki-laki itu, tapi ada sesuatu yang membuat diri ku terikat dengan laki-laki itu saat ini"
Nadine kembali membuang pandangan nya, menatap langit-langit mobil untuk beberapa waktu.
Yah realita nya dia sadar jika hubungan satu malam tidak menjamin dia bisa mencintai heidar, namun bayi kecebong didalam perutnya memaksa dirinya untuk menjadi terikat pada laki-laki itu.
__ADS_1