
Zid tampak membantu Layyana merapikan seluruh senjata nya, merapikan seluruh pakaian zirah nya agar terpasang dengan sempurna.
Saat ini perasaan nya terus bergejolak sejak tadi, zid berkali-kali menatap wajah Layyana yang terlihat begitu biasa saja, seolah-olah Peperangan adalah makanan keseharian nya.
Wajah cantik itu sama sekali tidak menampilkan ekspresi tegang atau panik, Layyana hanya menampilkan rona wajah malu saat zid terus memperhatikan gerak-gerik dirinya sejak tadi.
Beberapa waktu kemudian zid tampak menarik kasar nafasnya, dia dengan cepat memegangi kedua bahu Layyana, dengan posisi sedikit menjongkok kan tubuhnya karena tinggi badan Layyana tidak setinggi dirinya, Zid dengan cepat menatap dalam bola mata gadis itu.
Sejenak mereka saling menatap antara satu dengan yang lainnya, kemudian Zid mulai memejamkan sejenak bola matanya.
"Bisakah aku saja yang pergi?"
Tanya nya dengan perasaan yang begitu was-was dan penuh kekhawatiran.
Yah jelas saja Zid merasa panik, bagaimana mungkin dia membiarkan gadis itu pergi melawan musuh-musuh mereka.
"Ini sungguh sangat mengganggu perasaan ku, aku harap kamu tinggal bersama Nadine dan zii selama peperangan terjadi"
Ucapnya lagi.
Layyana tampak mengulas senyuman, dia menatap rona khawatir dibalik wajah tampan itu.
"Aku sudah terbiasa seperti ini, Zid"
Jawab Layyana pelan.
Laki-laki itu lagi-lagi menghela kasar nafasnya.
"Tapi Aku tidak terbiasa melihat nya"
__ADS_1
Ucap Zid penuh penekanan.
Mendengar ucapan laki-laki itu seketika Layyana terdiam, gadis itu menelan Saliva nya, bola mata Layyana terus menelisik wajah serta ekspresi Zid.
"Mari bicarakan hal ini dengan Heidar dan Hades, aku akan memimpin 2 pasukan sekaligus untuk mengganti kan diri mu"
Ucap Zid cepat, berusaha menarik cepat tangan Layyana.
"No zid, please"
Layyana secepat kilat menarik tangan zid, agar laki-laki itu menghentikan langkahnya.
Zid spontan berbalik karena gadis itu menarik tangan nya dengan gerakan cepat.
Sejenak zid diam lantas mulai kembali bicara.
"Jika sesuatu yang buruk terjadi pada mu bagaimana? aku tidak akan bisa memaafkan diri ku sendiri Layyana"
"Semua pasti baik-baik saja, percayalah"
Layyana bicara dengan suara yang begitu pelan.
Zid menggelengkan kepalanya cepat.
"Aku mohon tinggal dan jangan pergi, biar aku saja yang pergi bersama yang lainnya"
Sejenak layyana menyentuh balik wajah laki-laki itu.
"Kali ini saja, aku mohon.Ini terakhir kali nya aku terjun ke Medan perang, saat semuanya berakhir aku berjanji akan tetap berada di rumah dan tidak akan ikut bergerak"
__ADS_1
"Layyana"
Zid jelas benar-benar merasa keberatan.
Bagi zid seorang gadis memang tidak pantas untuk pergi berperang, mereka lebih cocok tinggal di rumah dan membiarkan para laki-laki untuk pergi bertarung nyawa di luaran sana.
"Lawan kita kali ini jelas bukan hal yang biasa, aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kamu Layyana"
"Semua pasti baik-baik saja, percaya lah"
Layyana mencoba terus menyakinkan Zid.
Dia jelàs tidak mungkin mundur lagi saat ini, bagi Layyana saat ini, memusnahkan Arnold dan tim nya jelas adalah misi yang telah mereka rencana kan sejak jauh hari dan meninggalkan tim nya jelas akan terasa Sulit.
Sejenak zid terdiam, kemudian tiba-tiba laki-laki itu secepat kilat menyentuh wajah Layyana lantas dalam Hitungan detik Laki-laki itu menautkan bibir mereka dalam jangka waktu yang cukup lama.
Layyana jelas terkejut.
Tung...gu dulu, inj yang ke 2 kali nya setelah kejadian 6 tahun yang lalu
Alih-alih menolak atau meronta, gadis itu malah diam sambil mengedipkan bola mata nya berkali-kali, tangannya seketika meremas erat lengan Zid.
Cukup lana tautan itu terjadi, bahkan Zid tanpa sungkan menyesap bibir Layyana berkali-kali.
"Aku akan terus mengontrol posisi kamu, ingat pulanglah dengan selamat setelah itu aku akan mendatangi orang tua kamu"
Setelah Zid berkata begitu, laki-laki itu dengan cepat beranjak meninggalkan Layyana di dalam keterkejutan.
"Ya?"
__ADS_1
Jelas saja Layyana seketika membeku.