
Sejenak Irish menaikkan ujung alisnya saat sadar siapa yang ada di hadapan mereka saat ini.
"Kamu?"
Seketika Irish menoleh ke arah Zii dalam waktu yang cukup lama.
"Tunggu dulu, ini sedikit tidak masuk akal"
Ucap Irish kemudian lantas menoleh ke arah heidar.
Heidar memasang wajah pura-pura terkejut juga.
"Oh tuhan, jadi dia Mommy mu sayang?"
Tanya heidar sambil meraih tubuh Zii, membuat gadis kecil itu masuk ke dalam pelukannya dengan penuh cinta, bola mata Heidar tampak berkaca-kaca menatap Zii.
Seketika rasa haru menghantam Palung hati nya yang paling dalam.
Berapa tahun dia menunggu? hampir 6 tahun. Rasanya seperti mimpi saat mereka bisa berkumpul bertiga di antara keramaian, menggendong sang buah hati sambil menatap wajah sang istri penuh dengan cinta.
"Terima kasih, baby"
__ADS_1
Heidar menempelkan keningnya ke kening Zii, dia berbisik dengan suara yang begitu pelan penuh penekanan, rasa haru dan sedih berkumpul menjadi satu, ingin sekali rasanya dia menangis saat ini saking bahagianya tapi yang jelas sejatinya seorang laki-laki harus bisa menahan seluruh perasaan nya meskipun perasaan itu ingin pecah saat ini juga.
"Aku masih sedikit bingung"
Ucap Irish cepat, menatap kedekatan sang putri dan laki-laki asing tersebut.
Tidak tahu kenapa tiba-tiba jantung Irish berdetak begitu kencang, seolah-olah hati nya ingin menangis saat melihat keakraban didepan matanya itu, terasa ada sebuah ikatan emosional yang tidak dia pahami, seakan-akan berkata "Sayang ini adalah keluarga kecil kita".
Ingin sekali dia memeluk kedua orang tersebut, membagi cinta dan rindu Secara bersamaan.
Ada apa dengan hati mu Irish? kamu pasti sudah gila.
Tidak tahu kenapa tapi bola matanya terlihat berkaca-kaca, seakan-akan rasa haru menyergap di dirinya. Irish berusaha untuk menekan perasaan serta emosionalisme nya tapi tidak bisa.
Ada apa ini?
Oh....!!
Tiba-tiba air mata nya tumpah.
"Mommy?"
__ADS_1
Zii bertanya heran ke arah sang Mommy.
"Aku harus ke kamar mandi"
Secepat kilat Irish melesat pergi dari sana, membawa perasaan nya yang bercampur aduk menjadi satu, berkali-kali Irish menahan gejolak di hati nya, tapi tidak tahu kenapa seolah-olah sesuatu itu memang ingin pecah.
Irish come..ada apa dengan diri mu? ini pasti salah.
Irish merapat cepat menuju ke toilet, mencuci wajahnya di pancuran air wastafel beberapa kali, sambil menggeleng-geleng kan kepalanya tanda tidak paham dengan perasaan nya sendiri.
Beberapa kali Irish mencoba menarik nafasnya panjang, menatap wajah nya ke arah cermin. Fikiran-fikiran aneh menghantam dirinya, membuat sebuah persepsi baru dan praduga baru didalam hati nya.
Sejak awal mereka bertemu, dia dan Heidar terasa tidak begitu asing, sebuah ingatan soal malam panas, canda tawa, suara yang begitu akrab, aroma yang begitu tidak asing, tubuh yang seolah-olah memang pernah menjadi tempat nya bersandar dan jantung nya yang tidak berhenti berdetak tiap kali berhadapan dengan laki-laki itu, dan yang terakhir cincin miliknya yang terukir sebuah nama yang terlalu serupa dengan nama laki-laki itu.
Jika bukan kebetulan lalu apa? mungkinkah hanya sekedar halusinasi nya? tapi kenapa rasanya begitu akrab dan sangat tidak asing sekali untuk dirinya.
Secara perlahan Irish mengeluarkan kalung di leher nya, dia menatap cincin yang melingkar didalam kalung tersebut untuk waktu yang cukup lama, lantas secara perlahan Irish melepaskan kalung tersebut dari leher nya kemudian secara perlahan dia meraih Cincin itu dan menggunakan nya di jari manisnya.
Irish menghela nafasnya perlahan, dia memejamkan bola matanya sejenak kemudian membuka nya dengan cepat.
Yah... dia harus mencari tahu soal kenyataan, dia harus memastikan semuanya secepatnya.
__ADS_1