
Andara dan Devin menunggu tidak jauh dari tempat pemakaman itu.. Perasaan Andara sebenar nya hancur saat dia mengetahui kematian gadis yg dia cintai itu.. Sebenar nya dia sangat terpukul, andai saja waktu itu bisa di putar kembali.. Mungkin Andara tidak akan membiarkan Qinara pergi begitu saja saat itu, dan mungkin gadis itu masih hidup.. Bahkan saat gadis itu pergi ke indonesia dulu.. Dia hanya bisa menatap nya saja dari kejauhan.. Dia bahkan tidak menyampai kan perpisahan pada nya..
Andara hanya menatap hampa pada peti mati yg sudah terkubur di dalam tanah itu, dia tidak akan lagi bisa melihat senyuman dari gadis itu.. entah sudah beberapa kali ia menghela nafas panjang nya, dia berupaya untuk menyembunyikan kesedihan nya,
Sementara Devin melihat Qiraana yg terus menangis, ia juga tidak bisa menyembunyikan rasa sedih nya ketika melihat mantan kekasih nya itu menangis di depan nya, "Aku harus mendampingi Qirana, dia sangat membutuh kan ku sekarang..!!" ucap nya pada Andara.. Andara hanya mengangguk.. Dia juga sebenar nya ingin melihat lebih dekat lagi pada pusara gadis itu, tapi ego nya lebih tinggi, dia tidak ingin bertemu drngan Fahri.. Ayah nya sendiri..
Devin kini keluar dari mobil nya, ia menghampiri Qirana di saba, Gadus itu nampak terkejut saat devin merangkul vahu nya, "Sudah jangan menangis lagi.. Qinara akan sedih nanti nya jika melihat mu dengan keadaan yg begini. " bisik nya, Ran a tidak bisa menjawab nya, ia hanya menyenderkan kepala nya di bahu Devin..
Steven dan juga adinda, sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.. Mereka yg paling terpukul atas kehadian ini.. Terutana Adinda, dia yg nenemukan Qinara pertana kali nya, seperti nya mereka tidak di takdir kan untuk bisa memeluk putri nereka yg telah lama menghilang..
"Kau sudah sampai di sini? Apa kau datang bersama tuan Andara?!" tanyaa nya.. Devin mengangguk.. "Ya, dia menunggu di dalam mobil, mungkin jija keadan nya sudah lebih sepi dia akan datang ke sini" jawab nya,
Namun tiba-tiba saja Fahri mendekati mereka, dia melihat kedatangan Devin di sana.. "bukan nya kau berada di london..? Kapan jau pulang? Bagaimana kabar kakak mu..? Apa dia ikut ke sini!!" tanya Fahri.. Bamun Devin tidak menjawab, ia nampaak bingung harus berkata apa pada ayah nya itu..
__ADS_1
SementAra itu Andara hanya bisa memperhatikan mereka dari kejauhan saja,, air mata nya mengalir dengan sendiri nya, namun tiba-tiba saja, Fahri mencurigai Devin, yg tidak menjawab pertanyaan nya tadi, dia melihat ke arah mobil Andara, dan dua yakin dia putra sulung nya itu ada di dalam mobil itu, namun Devin tidak mau menberi tahu kan nya pada dia, dahri mendekati mobil itu, dia mengetuk kaca mobil nya, Andara yg sibuk dengan fikiran nya tidak melihat kedatangan ayah nya itu..
Tuk.. Tuk... Fahri mengetuk kaca mobil itu.. Andara terkejut melihat nya, dia tidak bisa menghindar lagi dari ayah nya tersebut, ia terpaksa membuka pintu itu dan keluar menghampiri ayah nya tersebut
Fahri nampak memandang penuh kerinduan pada putra nya itu, namun berbeda dengan Andara, dia sama sekali tidak memperdulikan ayah nya tersebut, Fahri memeluk nya "Kenapa kau tidak menemui ayah..? Apa kau masih marah pada ayah mu ini..? Ayo ikut ayah, kau harus bertemu dengan ibu mu juga.. Dia berada di sana" ucap nya, mau tidak mau Andara harus mengikuti nya, dia juga berfikir jika itu adalah kesempatan bagi nya untuk melihat Qinara untuk yg terakhir kali nya..
Andara mengikuti fahri di belakang nya, Qirana nampak terkejut saat melihat fahri yg datang bersama Andara, wajah sedih Qirana berubah menjadi marah.. namun dia tidak bisa berbuat apa-apa..
"Kalau saja tuan Andara mencegah nya kembali ke sini dulu.. Mungkin kakak ku masih ada di sini sekarang.!!" ucap nya pada Andara, pria itu hanya terdiam dia tidak bisa menjawab apa-apa..
Acara pemakaman itu sudah selesai, semua orang sudah meninggal kan makam itu, tapi tidak dengan Devin Qirana dan juga Andara, mereka bertiga masih di sana, terlebih Andara yg bersimpuh di dekat batu nisan yg bertulis kan nama gadis yg dua cintai itu..
Kesedihan nta tidak bisa dia bendung lagi.. Andara menangis di saba, Rana hanya menatap hampa pada laki-laki yg tengah kehilangan wanita nya itu..
__ADS_1
Setelah keadaan nya lebih tenang, Andara menanyakan tentang kejadian yg sebenar nya, kenapa Qinara bisa terluka, dan siapa yg berbuat jahat pada nya..
"Siapa yg melakukan ini pada nya? Dan kapan kejadian nya? Apa tidak ada yg melihat orang yg membunuh nya seperti ini. ? Apa tidak ada saksi mata,.?!" tanya Andara dengan suara serak nya..
Qirana terdiam.. "Aku tidak tahu, saat aku datang kajak ku sudah tidak ada, aku belum menanyakan kejadian nya pada orang tua ku.. jadi aku belum tahu cerita pasti nya,, tapi aku mencurigai om ku,. Om bernad, mungkin saja dia memang sudah menungu kakak ku datang untu bertemu dengan ayah dan ibu.. Tapi aku tidak punya bukti kuat, mengingat bernad lah yg menjual kak nara pada mu..!! Mungkin dia takut jika kak nara memberi tahu kan semua nya pada ayah dan ibu" jawab nyaa..
Andara menarik nafas panjang.. "Jika dia bernad, aku tidak akan pernah melepas kan orang yg telah membunuh kekasih ku... Aku akan mengejar nyaa, walaupun hingga ke ujung dunia sekalipun.." ucap nya geram..
Andara menggegam erat nisan itu, dua sedih dan bercampur marah, dua marah pada diri nya sendiri... Apa yg tadi Qiraba kata kan pada nya memang ada benar nya, seharus nya dia menahan jepergian Qinara saat itu.. Namun dia malah nembiarkan nya..
Hari sudah mulai gelap.. Mereka lebih memilih untuk pulang, devin mengantarkan Qirana pulang ke rumah nya, sesampai nya di sana, "jangan menangis lagi, jika kau membutuh kan aku, telepon saja aku, aku akan datang ke sini.. Sekarang aku harus mengantar kan dulu kak Andara je hotel..." ucap nya
Rana mengangguk setuju, Devin meninggalkan gadis itu.. "kak apa kak Andara tidak ingin pulang ke rumah..?!" tanya Devin.. Andara terdiam.. "Terserah pada mu saha, mau bawa aku ke hotel atau pulang ke rumah..!! Aku hanya butuh waktu untuk mencerna semua ini. !! Lagi pula ayah mu itu sudah bertemuu dengan kutadi, jadi untuk apaa aku menghindar lagi.." jawab nya... Devin hanya terdiam ia membawa Andara pulang ke rumah mereka, kediaman keluarga CASANDRA
__ADS_1
Bersambung