
Setelah menemui Alex, Daniel bergegas menuju Cafe milik Alan. Dia ingin mendengar informasi baru yang sudah Alan dapatkan dari temannya yang ada di wilayah berbeda.
"Video ini viral. Mereka menyebut wanita itu di bawa makhluk halus dan sejenisnya."
"Mereka Vampir." Alan mengangguk seraya tersenyum." Dari segi baju. Mereka berkasta tinggi."
"Dari golongan bangsawan." Ujar Alan menimpali.
"Aku sudah bertemu Raja Alexander tadi. Kerajaannya begitu sunyi seperti tidak berpenghuni."
"Lalu bagaimana?"
"Aku yakin dia dalang di balik ini semua. Kita hanya perlu bukti kuat."
"Kau tenang saja. Mereka hanya bisa datang ke lokasi. Mereka buta soal internet. Sehingga mereka tidak menyangka dengan beberapa bukti video yang sudah kita kumpulkan. Untuk sementara, biarkan mereka sibuk dengan kesenangannya." Daniel mengangguk dengan wajah datar. Sudah sejak lama dia menangani kasus ini walaupun belum mendapatkan titik temu.
"Jika Angel belum di temukan, semua tidak ada gunanya."
"Anggelina?"
"Hm dia putri Ayah Lucas, putra Stefanus."
"Apa hubungannya?"
"Seharusnya yang menjadi Raja adalah Ayah Lucas bukan Alexander. Aku menebak jika Alexander mencampur adukkan masalah pribadi dengan kedudukannya sekarang."
"Tunggu Daniel. Aku tidak paham."
"Kemungkinan Alexander masih menyukai Ibu Noa, Istri dari Ayah Lucas." Alan melongok mendengar kenyataan tersebut.
"Bukankah Alexander Pamannya?"
"Paman yang menyukai Istri keponakannya. Aku membaca dendam yang begitu dalam di sorot matanya. Ini memang hanya tebakan. Tapi aku rasa tebakanku benar. Bukankah semua korbannya adalah seorang gadis?" Alan mengangguk seraya menddesah lembut." jika Alexander lengser dari kedudukannya. Ayah Lucas belum bisa menduduki posisinya karena Ibu Noa masih dalam masa berkabung." Imbuh Daniel menjelaskan.
"Masih ada Stefanus."
"Raja Stefanus sudah terlalu tua. Dia ingin menghabiskan sisa umurnya di Brazil. Jika Angelina bisa di temukan. Keadaan akan membaik dan berjalan lancar. Saat kita bisa menunjukkan bukti. Ayah Lucas akan membantu kita memberikan hukuman berat untuk Alexander." Alan menutup laptopnya dan duduk lemah di kursi.
"Kenapa tidak menjadi raja sekarang saja. Istrinya bisa di urus sembari menjadi raja." Daniel menoleh seraya tersenyum.
"Kau bisa berkata itu karena kau belum pernah jatuh cinta!"
"Memangnya kau pernah?" Daniel terkekeh kecil. Dia mengingat pelukan singkat yang terjadi beberapa detik ketika dia bersama Tiara.
Apa itu patut di sebut jatuh cinta? Aku selalu mengkhawatirkan gadis yang bahkan baru ku kenal tiga hari lalu..
"Aku pernah membaca di buku, jika jatuh cinta membuat orang kehilangan kewarasannya. Jadi aku memahami keputusan yang di ambil Ayah Lucas yang mungkin sangat mencintai Istrinya." Alan mengangguk-angguk.
"Walaupun aku tidak tahu bagaimana rasanya. Keteranganmu membuatku tidak ingin jatuh cinta."
"Kau tidak akan bisa menolaknya." Seperti aku yang tidak bisa menghilangkan Tiara dari fikiranku. Aku mencoba untuk tidak perduli tapi perasaanku tidak tenang jika belum memastikan keadaannya. Sedang apa dia sekarang?
š¹š¹š¹
Setelah kepergian Alex. Tiara melanjutkan menonton televisi dengan fikiran tidak tenang. Sejak teringat tentang Daniel, ada perasaan aneh yang menyelimuti. Seolah sosok itu berusaha mengusiknya dengan ketukan hati walaupun sekuat hati berusaha di tolak.
"Biasanya sudah tidur Non." Tiara menoleh lalu tersenyum aneh.
"Iya Bik. Besok ada kelas pagi." Tiara berdiri setelah meminum sisa susu hangat." Aku tidur dulu Bik." Tiara berjalan menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya namun tidak tidur.
Tiara duduk di meja belajarnya lalu meraih sebuah buku dan membacanya.
Tak!!!
Buku di tutup keras dan di letakkan kembali. Membaca buku semakin membuat perasaannya aneh.
Kenapa parfum mereka bisa sama dan kenapa aku memikirkan Kak Daniel? Ah Tuhan.. Dia memang selalu ada di saat aku membutuhkan bantuan tapi aku tidak ingin membuat Daddy marah dengan memberikan kesempatan lelaki lain untuk berteman.
__ADS_1
Tiba-tiba ponsel Tiara bergetar. Bibirnya tersungging saat melihat nama Dinda tertera di sana. Cepat-cepat Tiara mematikan lampu kamar. Dia sedang tidak ingin memakai masker tapi ingin sedikit merasakan angin malam.
Tiara membuka salah satu jendela lalu menggeser sebuah kursi dan duduk dengan keadaan gelap.
"Ya Dinda.
"Eh bagaimana tadi? Kamu terlambat untuk pulang. Astaga, aku khawatir jika Daddy mu marah.
"Tenang saja. Aku sampai tepat waktu.
"Kenapa tidak memberiku kabar?
Tiara tersenyum bahkan tertawa kecil. Dia tidak menyadari jika Daniel sejak tadi memperhatikannya dari persembunyiannya.
"Aku melakukan banyak sesuatu dan lupa mengabari mu.
"Syukurlah. Walaupun aku setengah mati khawatir. Apa yang kamu kerjakan?
"Duduk. Aku berniat akan tidur tapi tidak bisa. Biasanya aku selalu tidur pukul tujuh tepat.
"Pukul tujuh?
"Hidupku membosankan Din. Apa lagi yang bisa ku lakukan kecuali tidur?
"Membaca buku, main game, menonton televisi.
"Sudah? Aku bosan melakukan itu berulang-ulang.
"Apa itu salah satu peraturan.
"Hm.
"Wajarlah. Kamu terlalu cantik.
Tiara tersenyum dan tidak sengaja melihat keberadaan Daniel saat sorot matanya menatap ke sebuah pohon. Tiara bergegas berdiri lalu menutup jendela keras.
Aku merasa ada sesuatu di atas pohon itu. Apa dia hantu penjaga pohon? Jika manusia sangat tidak mungkin. Pohon itu tinggi sekali dan terlihat mengerikan.
"Halo Tiara? Kamu masih di sana?
"Ya. Ada penampakan. Jadi aku menutup jendela tadi.
"Kau bercanda hehehehe. Penampakan apa?
"Tidak. Aku serius. Gang rumahku sangat sepi dan tidak ada penghuni lain. Aku melihat penampakan di atas pohon.
Daniel yang ada di atas pohon berusaha menahan kekehannya. Selain terkesima dengan kecantikan Tiara, dia juga sangat terhibur dengan ucapan polosnya.
"Mungkin saja itu kucing?
"Pohon itu setinggi 5 meter.
"Mungkin hanya perasaanmu saja.
"Semoga saja. Em bagaimana rencana untuk besok. Apa kita pergi ke toko besar itu? Di sana sangat menyenangkan.
"Toko itu bernama Mall atau Plaza. Kita akan mencoba beberapa pemainan di sana.
"Permainan apa?
"Kamu akan tahu besok. Terimakasih bajunya. Ini bagus sekali.
"Sama-sama. Aku bersyukur kamu menyukainya.
"Sebaiknya kamu tidur. Besok ada kelas pagi.
"Iya. Sampai jumpa besok.
__ADS_1
Tiara mengakhiri panggilannya lalu kembali berdiri untuk memeriksa. Dia berjalan perlahan ke arah jendela dan melihat ke pohon besar yang menjulang tinggi.
Tidak ada apapun. Mungkin hanya perasaanku saja.
Saat Tiara membalikkan badannya, sontak matanya melebar melihat Daniel sudah berdiri di hadapannya.
"Ka kau..." Daniel membungkam mulut Tiara dengan telapak tangannya lalu memberikan isyarat untuk menutup mata." Tidak. Pergi. Bagaimana kamu bisa masuk?" Protes Dinda berbisik.
"Itu mudah untuk ku. Seperti saat aku membebaskan mu dari gudang." Telinga Daniel bergerak." Ada yang datang." Imbuhnya tersenyum seraya menikmati paras Tiara di tengah kegelapan.
"Bibik! Itu Bibik."
"Pura-pura tidur aku akan bersembunyi." Tanpa perlawanan, Tiara bergegas menuju ranjang dan berbaring. Dia menutupi tubuhnya dengan selimut lalu berpura-pura memejamkan matanya.
Bagaimana mungkin Kak Daniel masuk? Dia sembunyi di mana? Astaga... Jika ketahuan bagaimana?
Cklek...
Seperti biasa, Elena memastikannya Tiara benar-benar tidur seraya melihat jendela juga pintu yang mungkin belum terkunci.
Setelah memastikan semua aman. Elena kembali menutup pintu kamar untuk beristirahat di kamar miliknya yang berada di lantai satu.
Tiara menyikap selimut pelan lalu mencari keberadaan Daniel yang ternyata sudah berdiri di belakangnya.
"Doooorrr!!!" Tiara berjingkat seraya menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Daniel memasangkan pelindung di sekitar agar suara mereka tidak terdeteksi.
"Cepat keluar! Tidak sopan sekali kamu Kak." Umpat Tiara berbisik.
"Tidak ingin keluar dan menikmati udara malam hari? Bukankah kamu tidak bisa tidur?"
"Pelankan suaramu. Bibik bisa dengar."
"Tidak akan. Ayo." Daniel mengulurkan tangannya dan Tiara menatap tangan kekar itu.
"Ayo apa."
"Keluar."
Pasti menyenangkan.
"Tidak boleh. Daddy bisa marah."
"Aku jamin keselamatanmu." Daniel tergerak hatinya saat Tiara berkata, hidupnya membosankan. Tiara terdiam dan tidak bergeming." Kau terlalu angkuh. Jika ingin menghirup udara segar, terima ajakan ku." Imbuhnya merajuk.
"Aku takut." Jawab Tiara tertunduk. Dia melupakan wajahnya yang tidak bermasker.
"There's Daniel." Tiara mengangkat kepalanya dan membalas tatapan Daniel yang sejak tadi melihatnya.
"Aku bisa di hukum berat."
"Itu jadi urusanku." Daniel berjalan menghampiri Tiara seraya memegang lengannya sendiri untuk memberikan isyarat.
Tiara yang tidak bergeming, membuat Daniel meraih jemarinya dan menuntunnya untuk berpegangan padanya.
"Pakai maskernya dulu." Mata Tiara membulat. Dia melepaskan lengan Daniel dan menutupi hidung dan mulutnya dengan telapak tangan.
"A aku aku tidak memakai masker!!" Tiara menarik laci lalu mengambil masker dan memakainya." Kau kau melihat wajahku!!" Teriak Tiara panik.
"Apa yang salah dari wajahmu. Kamu cantik sekali Tiara, Babe."
"Ini pelanggaran! Ini akan jadi masalah besar."
"Aku berjanji tidak akan mengatakannya pada siapapun." Tiara menarik nafas panjang.
"Sudah terlanjur. Sebenarnya kau siapa."
"I'm Daniel. Ikuti aku. Kau mengobrol di tempat yang pasti kamu sukai." Meski ragu, nyatanya Tiara menerima tawaran tersebut. Dia meraih lengan Daniel perlahan seraya memejamkan matanya. Sementara yang terjadi pada Daniel sangat di luar dugaan. Sejak dia melihat senyum indah Tiara di antara kegelapan. Dia tidak lagi memikirkan janjinya pada Noa untuk menikah dengan Angel jika suatu saat di temukan.
__ADS_1
š¹š¹š¹