
Angel, Daniel, dan Ujang terlihat berjalan masuk meninggalkan Elena yang masih terpaku menatap pelindung yang mengelilingi kediaman Lucas.
Kekuatannya yang terlalu rendah, membuatnya tidak bisa menerobos masuk selayaknya Angel dan Daniel.
"Kenapa Bik?" Elena mengeluarkan jari kelingkingnya lalu mengarahkannya pada sinar di hadapannya. Kulitnya langsung terbakar sehingga Elena memundurkan tubuhnya.
"Bibik tidak bisa masuk."
Jika tidak bisa masuk berarti dia...
"Tunggu Nona." Teriak Bima. Dia berlari kecil menghampiri Angel." Tuan Lucas tidak memperbolehkan siapapun masuk jika tidak bisa melewati dua pohon ini." Imbuhnya memperhatikan Elena dari atas ke bawah.
Angel tersenyum lalu menempelkan tangannya dengan gerakan cepat. Dia menghancurkan pelindung hanya dengan keyakinan hati juga apa yang tertulis pada buku pemberian Elena.
Dia belajar dengan cepat. Puji Daniel terkesima melihat kekuatan besar yang Angel perlihatkan.
"Bisa. Ayo Bik." Tangannya terulur lalu mengiring Elena masuk.
"Oh bisa ya. Maaf, saya fikir tidak bisa. Saya hanya ingin mematuhi peraturan Tuan Lucas."
"Tidak apa Pak." Angel kembali membangun pelindung yang lebih kuat. Pelindung serupa yang pernah di pasang saat dia menyerang markas utama." Apa Tuan Lucas ada di rumah?" Tanya Angel ramah.
"Ada Non tapi.. Em itu, sejak semalam saya tidak melihat mereka keluar dari kamarnya. Saya tidak mengerti dengan apa yang terjadi tapi semalam mereka bertengkar hebat dan membahas perpisahan." Elena tertunduk begitupun Angel yang langsung berjalan menerobos masuk. Kedua tangannya meraih rambut panjang lalu mengikatnya sembarangan.
Angel ingin kedua orang tuanya tahu tentang tanda lahir yang kini sudah berganti warna menjadi lebih gelap.
"Kamu tunggu di sini ya Mang."
"Iya mari Mang." Ajak Bima sopan.
Daniel meraih pundak Elena untuk mempercepat langkahnya yang melambat. Elena benar-benar belum siap jika harus bertemu dengan Lucas dan Noa yang mungkin akan marah besar padanya.
Tepat di saat Angel tiba di ambang pintu. Noa dan Lucas terlihat menuruni anak tangga dengan wajah datar. Ada sebuah tas yang berisi barang pribadi Noa berada di genggaman tangan Lucas.
Mereka berniat menghabiskan waktu di luar sebentar, sebelum Lucas mengantarkannya ke kerajaan dengan segala keterpaksaan.
"Tiara?" Sapa Noa seakan langsung mendapatkan kekuatan. Dia berjalan cepat menuruni tangga dan berdiri di hadapan Angel.
"Mama mau kemana?" Tanya Angel lirih.
"Mama? Kamu memanggilku Mama?" Tanya Noa dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Dia bukan Tiara tapi dia Angel." Sahut Elena.
Hati Lucas yang memburuk langsung menghadiahkan sebuah hantaman hingga tubuh Elena terpental membentur barang-barang yang ada di sana.
Blaaaaammm!!!!
Praaaankk!!!
"Aku akan membunuhmu Elle!!!" Tepat di saat Lucas akan kembali memukul, tangan Angel meraihnya sehingga kini Noa bisa melihat tanda lahir yang ada di belakang telinganya.
"Tidak Ayah! Bibik sudah merawatku!!"
"Apa maksudnya!!!" Emosi yang sudah berkecamuk di ubun-ubun membuat Lucas melontarkan kata-kata yang sangat kasar pada anaknya sendiri.
__ADS_1
"Angel!!!" Teriak Noa dengan tangis yang langsung pecah sementara Lucas masih tidak sadar dengan situasi yang ada di hadapannya.
"Maafkan aku Lucas." Ucap Elena lirih dengan luka lebam di dadanya.
"Perasanku tidak pernah salah. Kamu Angel. Sejak awal aku sudah menebak jika kamu Angel." Noa menyerbu Angel dengan sebuah pelukan erat dengan isakan tangis yang kini memenuhi ruangan.
"Angel." Gumam Lucas menatap gadis di hadapannya.
"Dia Anggelina. Anakmu." Mata Lucas terlihat berkaca-kaca. Bebannya sejak semalam langsung hilang seketika.
Segera saja dia meraih leher Angel dan mendapati sebuah tanda lahir di sana.
"Kau Angel?" Noa dan Angel sendiri tidak kuasa menjawab. Mereka masih larut di dalam suasana haru." Katakan Daniel? Apa ini kenyataan?" Lucas hampir menyerah bahkan sudah mencium aroma kematian saat dia melontarkan persetujuan untuk keinginan Noa.
Kehadiran Angel membuat tubuhnya melemah seketika. Rasa terkejut, bahagia dan tidak percaya bercampur aduk memenuhi otaknya.
"Dia Anggelina Ayah."
"Kita tidak akan berpisah." Daniel menopang tubuh Lucas yang hampir ambruk lalu mendudukkannya di sofa. Setelah itu, dia menyentuh luka lebam Elena untuk melakukan penyembuhan sehingga Elena bisa duduk untuk memberikan penjelasan.
"Kamu cantik sekali. Mama tidak mengenalimu." Noa mengusap kasar sudut matanya seraya memandangi Angel dengan sangat dalam.
"Aku melihat kemiripan pada mata kalian." Sahut Lucas yang juga tengah memandangi Angel dengan begitu dalam.
"Dia Ayahmu."
"Dia selalu membentak ku." Lucas tersenyum dengan tangis haru. Dia menyadari ketidakpekaan yang sempat membenci anaknya sendiri.
"Ke sini sayang. Ayah juga ingin memelukmu." Angel menggiring Noa untuk ikut duduk di sofa memanjang itu." Maafkan Ayah. Hati Ayah tidak sepeka Mamamu." Lucas menyerbu Angel dengan beberapa ciuman di sekitar wajah.
"Sudah ku maafkan Ayah. Kalian tidak boleh berpisah. Aku sudah di sini."
"Itu hal yang mudah Ma." Angel beralih menatap Elena." Maafkan Bibik Elena. Dia hanya di jadikan alat oleh Alex." Tatapan Lucas masih saja tajam saat pandangannya beralih pada Elena.
"Dia memang jahat!! Sejak dulu dia selalu jahat pada kita!!" Jawab Lucas geram.
"Aku menyesal Lucas."
"Bawa pergi dia dari sini!" Pinta Lucas tidak ingin melihat wajah Elena." Atau aku akan memusnahkannya!!" Angel bergegas berdiri untuk menahan kepergian Elena.
"Tidak Bik."
"Bibik sudah sangat senang melihatmu berkumpul."
"Jangan termakan oleh rayuan busuknya sayang! Dia menculikmu dan bersekongkol dengan Alex! Biarkan dia pergi! Ayah tidak ingin ada makhluk busuk di rumah ini!!"
"Jika Bibik pergi. Aku juga akan pergi."
"Kau hanya sedang di pengaruhi!!"
"Tidak Ayah. Bibik merawatku dengan kasih sayang. Sekalipun dia tidak pernah membentak ku atau mencoba melukaiku."
"Mustahil!" Lucas bahkan tahu bagaimana acuhnya Elena pada Patresia dulu." Dia bahkan selalu memanfaatkan anaknya untuk kepentingannya sendiri!!" Menunjuk kasar ke arah Elena.
"Itu memang benar Angel. Sudah Bibik katakan jika Bibik tidak pantas berada di sini."
__ADS_1
"Tidak. Bibik sangat baik." Pandangan Angel beralih pada Lucas." Kalau Bibik jahat. Tidak mungkin aku begitu menyanyangi nya. Kalau Ayah tidak bisa menerima Bibik. Aku juga akan pergi. Aku ingin berkumpul dengan kalian. Tapi jujur saja. Rasa sayangku lebih besar pada Bibik sebab dia sudah merawatku sedari aku kecil." Elena sangat terkesan dengan pembelaan yang Angel lontarkan untuknya. Dia merasa tidak sia-sia menghabiskan puluhan tahun bersama Angel walaupun dengan keadaan terkekang.
"Jangan bicara begitu. Mereka orang tuamu."
"Aku tidak ingin tinggal." Angel meraih tas besarnya.
"Mama percaya padamu Angel. Mama juga merasakan ketulusan pada mata Elena." Sahut Noa berdiri lalu mengambil tas milik Angel.
"Ayah tidak mengsetujuinya Ma."
"Ayah setuju. Dia boleh tinggal." Sahut Lucas cepat. Dia tidak ingin merasakan bagaimana buruknya ketika Noa melontarkan kata-kata perpisahan..
"Bibik dengar." Angel kembali mengiring Elena duduk.
"Terimakasih Lucas, Noa." Ucap Elena lirih.
"Aku masih akan mengawasi mu."
"Hm ya. Tidak apa."
"Kenapa kau baru membawa Angel ke sini? Jika memang kau berniat baik. Bukankah kau membawanya sejak dulu? Apa kau akan beralasan lupa letak rumahku?" Lucas yang tidak sepenuhnya percaya langsung melontarkan apapun pertanyaan yang bersarang di otaknya.
Elena meraih tasnya lalu mengambil kalung liontin dan meletakkannya di meja.
"Kekuatanku menghilang. Alex juga memberiku batasan wilayah untuk keluar. Aku pernah sekali melanggar itu saat Angel pulang terlambat. Liontin itu seakan mencekik ku sehingga.." Elena menghela nafas panjang." Aku tidak bisa berbuat apapun selain merawat Angel. Aku lebih lemah daripada seorang manusia. Maafkan aku Lucas." Noa tersenyum, dia membaca ketulusan pada mata Elena.
"Sudahlah sayang. Walaupun begitu, dia Ibu tiri mu kan. Angel juga sudah pulang." Tangan Noa terus saja menggenggam jemari Angel seakan tidak ingin melepaskannya lagi.
"Jika kau berbuat jahat lagi! Aku akan memusnahkan mu saat itu juga."
"Percaya atau tidak. Aku sudah sadar akan kesalahan yang dulu sudah ku lakukan."
"Saya sudah memaafkannya Mama." Sahut Noa menimpali. Panggilan yang Noa lontarkan membuat mata Elena kembali berkaca-kaca.
"Terimakasih Noa."
"Terimakasih juga sudah merawat Angel."
"Dia Cucuku."
"Bisakah kita berhenti membahas sesuatu yang menyedihkan?" Semua pandangan terfokus pada Angel." Aku belum sempat sarapan dan sekarang aku lapar." Dia berusaha mencairkan suasana yang menegang.
"Kamu memakan sajian manusia?" Angel mengangguk.
"Tapi dia Vampir." Sahut Daniel menimpali." Satu-satunya Vampir yang tidak memiliki gigi taring."
"Apa benar begitu sayang?"
"Entahlah Ayah. Tapi taring ku tidak bisa keluar walaupun aku sedang emosi."
"Kekuatannya sangat besar." Gumam Daniel.
"Bagaimana caramu bertarung sayang?" Tanya Lucas penasaran. Dia juga merasa keanehan pada aroma tubuh Angel.
"Dengan ini." Angel memperlihatkan tangan kecilnya." Kita bahas nanti. Aku benar-benar lapar. Ayo Bik masakan sesuatu." Elena bergegas berdiri di ikuti Noa.
__ADS_1
"Biar Bik Minah yang memasak. Sebaiknya Mama duduk saja." Pinta Noa tersenyum lalu berjalan ke belakang untuk menyuruh Bik Minah membuat sesuatu.
š¹š¹š¹