Queen/Istri Tuan Vampir Season 2

Queen/Istri Tuan Vampir Season 2
34


__ADS_3

Daniel tidak langsung duduk. Dia melepaskan jaket hoddie miliknya lalu menyerahkannya pada Tiara.


"Pakai ini." Pintanya seraya duduk.


"Untuk apa?"


"Pakai saja Tiara." Sifat posesif Daniel mulai terlihat. Dia tidak sanggup jika harus melihat rambut indah Tiara di nikmati banyak lelaki.


"Tidak mau." Tiara menggeser jaket hoddie sementara Dinda yang ada di tengah kembali jadi penonton.


"Baiklah." Daniel berdiri lalu memungut jaket tersebut. Tiara mengira jika Daniel akan pergi." Tolong ke sini sebentar. Biar aku memakaikan ini padanya." Dinda tersenyum, dia akan berdiri tapi Tiara menahannya.


"Tetap di sini."


"Selalu ada cara lain untuk melakukan itu." Seisi kelas menyorot kelakuan Daniel yang seakan tengah merayu Tiara.


Secepat kilat Daniel sudah berdiri di samping Tiara. Tepat saat kedua tangannya sudah terulur. Tiara berdiri dan mengambil jaket dari tangan Daniel.


"Baju ini lebih baik." Protes Tiara menempelkan jaket pada dada bidang Daniel.


"Yang terlihat baik tidak akan baik untukmu." Tiara mendengus. Dia tidak mengerti atas sikap Daniel sekarang.


"Sudahlah Kak. Duduk di tempatmu. Aku tidak akan mau memakai itu." Daniel menggeser sebuah kursi lalu duduk di samping Tiara.


"Kamu mau kuliah dengan tenang Babe." Ucap Daniel lirih. Panggilan yang di lontarkan Daniel membuat jantung Tiara berpacu cepat.


Kenapa panggilannya begitu? Dia makhluk paling gila di antara semuanya. Dia kembali membuatku di lema. Bukankah seharusnya dia tidak perlu memberikan harapan sebab sudah berjodoh dengan Angel?


"Kau yang membuatku terkena masalah." Jawab Tiara tidak memperdulikan panggilan Daniel untuknya.


"Jika kamu berpenampilan seperti sekarang. Masalah itu akan bertambah. Ayolah, percaya padaku." Aku tidak rela jika mereka memandangi mu seperti itu.


"Ini masih ku pakai." Menunjuk masker.


"Lihat aku." Daniel berniat menghipnotis Tiara seperti yang sering di lakukan. Hanya sekali mungkin tidak apa.


"Kembali ke tempatmu Kak." Tiara malah berpaling sehingga Daniel mulai mengangkat tangannya dan menepuk pundak Tiara lembut." Apa ini!!!" Tiara menyingkirkan tangan Daniel dari bahunya.


Tunggu.. Kenapa ini tidak mempan. Daniel terpaku, menatap Tiara yang tengah berprotes atas sikapnya. Aku yakin dia manusia tapi kenapa tidak mempan. Rasa penasaran Daniel akan sosok Tiara semakin bertambah. Dia merasa ada keistimewaan yang ada pada diri Tiara tapi hingga saat ini dia belum menemukan itu.


"Jika kamu tidak niat belajar, sebaiknya kamu keluar." Daniel mendongak ke Dosen yang sudah berdiri di sampingnya.


"Eh Mrs Elis." Daniel bergegas berdiri.


"Kamu ingin belajar atau tidak? Kalau ingin berpacaran, sebaiknya kalian keluar." Tutur Dosen Elis malah tersenyum. Dia mengenal Daniel dengan baik. Mahasiswa tampan, berprestasi dan populer.


Huuuuuuuuuuuuu

__ADS_1


Sorakan terdengar riuh sehingga Tiara menundukkan wajahnya. Dia merasa sangat malu apalagi saat mengingat Daniel kehilangan konsentrasi hanya karena menatapnya.


Kenapa Kak Daniel kembali memberiku harapan. Tidak, Kak Daniel milik Angel dan aku milik Daddy. Tiara kembali menyakinkan hatinya dan tidak ingin menumpukan harapannya lagi pada Daniel.


"Maaf kan atas kebucinan saya tadi Mrs." Jawaban Daniel semakin membuat seisi kelas riuh.


"Jika tidak berprestasi, kau akan ku usir dari kelas. Putuskan, mau belajar atau berpacaran."


"Bagaimana Babe." Tanya Daniel menunduk menatap Tiara.


"Apa sih Kak. Ini salah faham Mrs. Dia bukan pacar saya!!" Menunjuk ke Daniel.


"Kita baru jadian jadi dia masih malu." Daniel sengaja berkata demikian agar gosip itu menyebar cepat. Tujuannya tidak lain ingin menandai jika Tiara adalah miliknya." Kita belajar dulu lalu nanti berpacaran." Tiara mendengus menatap Daniel yang kembali duduk di samping Dinda.


🌹🌹🌹


Baru saja Nathan masuk. Alexa langsung duduk bersimpuh seraya memegangi kaki Nathan.


Sudah dua hari ini dia di kurung dengan penjagaan ketat. Nathan takut kearoganan Alexa sampai melukai Tiara.


"Aku minta maaf Papa. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Alexa terlihat berantakan. Dia bahkan tidak berselera untuk mandi apalagi berganti baju.


"Harusnya kau sadar, jika kau bukan apa-apa!!" Jawab Nathan geram. Pengkhianatan Alexa membuatnya tega melakukan penyekapan pada gadis yang dulunya sangat di puja.


"Aku sadar. Aku menyesal." Nathan tersenyum lalu menyingkirkan tangan Alexa dari kakinya dengan menggerakkannya.


"Oke ku maafkan. Hari ini kau boleh bebas seperti biasanya tapi aku akan melakukan hal yang lebih buruk jika kau berani mengumpat Tiara lagi." Nathan melangkah pergi meninggalkan Alexa yang masih duduk bersimpuh di atas lantai.


Alexa tentu merasa marah dengan kejadian yang menimpanya. Jonathan yang di anggap orang terpenting di hidupnya. Kini bersikap kasar bahkan tega melakukan penyekapan hanya demi Tiara.


🌹🌹🌹


Saat kelas pagi selesai, Tiara beranjak setelah memberikan isyarat pada Daniel untuk mengikutinya.


"Aku tinggal dulu Din. Ada yang ingin ku bicarakan dengannya." Menunjuk ke Daniel.


"Hm oke." Dinda tersenyum aneh, menatap Tiara dan Daniel yang tengah berjalan sejajar. Kak Daniel manis sekali. Cocok untuk Tiara yang bersikap kaku. Dinda membereskannya bukunya lalu menjinjing tasnya dan berjalan ke arah kantin.


Tepat di sudut taman kampus. Tiara berdiri sementara Daniel duduk santai dengan senyuman simpul.


Daniel tahu jika Tiara pasti sekarang tengah kesal padanya akibat pengakuan asal-asalan yang tidak di sengaja di katakan.


Ketidaksengajaan yang indah..


"Kenapa sih Kak!" Tiara duduk lemah di samping Daniel dengan jarak beberapa senti. Dia meletakkannya tasnya di tengah seraya menarik nafas dalam-dalam.


"Soal tadi?"

__ADS_1


"Ya. Apalagi? Kau membuatku tidak bisa berkuliah dengan tenang!" Tiara bukan sepenuhnya kesal karena ucapan Daniel. Namun dia merasa di permainkan dengan harapan semu yang seolah Daniel taburkan pada hatinya.


"Aku melakukan itu agar kamu bisa berkuliah dengan tenang." Daniel memiringkan tubuhnya, satu kakinya dia angkat dan di tumpukan pada kursi taman." Jika kamu memakai jaket tadi. Ceritanya akan lain Babe." Tiara menoleh cepat saat mendengar panggilan Daniel.


"Itu hanya akal-akalan mu saja! Berhenti memanggilku begitu." Daniel terkekeh kecil seraya menatap sekitar yang tatapannya mulai berporos pada Tiara.


"Aku teman yang sangat menyayangi mu. Tidak masalah jika aku memanggilmu begitu. Babe itu bukan hanya untuk pacar atau kekasih tapi untuk teman juga bisa. Tidak ada larangan bukan." Aku sengaja. Agar mereka yakin jika kamu sudah ku tandai.


Benar kan!! Dia kembali memberiku harapan lalu menjatuhkan ku lagi!!! Tiara berpaling dan berusaha mencerna sikap Daniel sekarang.


"Hm terserah kau saja. Jika aku terkena masalah lebih besar. Kau akan ku pecat menjadi teman!!" Daniel terkekeh lagi dan lagi membuat Tiara semakin di buat kesal.


"Aku baru mendengar jika ada pemecatan pada pertemanan."


"Berhenti tertawa!" Pinta Tiara melirik malas.


Daniel berusaha diam walaupun ucapan Tiara masih mengelitik perut.


"Oke Babe. Maafkan temanmu ini."


Teman.. Teman dan teman!! Kenapa dia menyebalkan sekali.


"Why? Kenapa wajahmu masih saja menatapku dengan hangat." Tiara menghela nafas panjang lalu menatap lurus ke depan.


"Aku boleh meminta sesuatu."


"Hm apa itu?"


"Bibik ingin bertemu denganmu. Aku kemarin ketahuan. Untung Daddy tidak tahu jika aku pergi malam-malam."


"Bibik? Pembantu mu?"


"Iya. Dia yang merawat ku. Dia bukan pembantu tapi Bibik ku, Ibu, Nenek, dia segalanya dan bukan pembantu." Tiara selama ini menahan diri saat Daniel menyebut Elena sebagai pembantu. Tentu dia tidak terima mengingat sejak kecil Elena yang telah merawatnya.


"Oke maaf. Untuk apa dia ingin bertemu?"


"Berkenalan saja. Kau mau tidak? Aku berharap kamu mau. Dia sudah tahu jika kamu bukan manusia." Daniel mengangguk, dia tidak kaget mendengar itu sebab sudah tahu jika Elena bukan manusia.


"Sepulang kuliah aku akan ke rumah Ayah Lucas untuk menjelaskan kejadian kemarin." Raut wajah Tiara langsung berubah." Mungkin besok aku baru bisa bertemu dengannya." Hatinya seolah tergores benda tajam ketika Daniel membahas Lucas yang di fikirnya sebagai calon Ayah mertua.


"Hm baik." Tiara berdiri dan menjinjing tasnya." Aku akan bilang pada Bibik besok. Aku kau menemui Dinda untuk memberitahu sketsa wajah calon Istri mu." Tiara tersenyum sejenak untuk mengelabuhi cara pandang Daniel pada mimik wajahnya yang penuh kekecewaan. Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini. Kenapa makhluk itu membuat hati ku menjadi bercabang. Tiara melangkah pergi tanpa menoleh kebelakang. Sementara Daniel sendiri tengah merasakan hal yang sama. Dia menyesal sudah menceritakan soal Angel.


Aku tidak pernah berbohong. Itu kenapa aku tidak bisa menyembunyikan sebuah rahasia untuk waktu yang lama. Ah.. Tiara.. Kau membuat perasanku mengambang tidak jelas!! Ingin aku berteriak ke telingamu jika aku menyukaimu. Tapi itu tidak pantas ku ucapakan!!


Daniel memilih pergi untuk melakukan kegiatan patroli sebentar dan menenangkan perasaannya yang terasa aneh.


🌹🌹🌹

__ADS_1


Kalau aku tidak bisa doubel update, berarti aku sibuk ya😁🙏🌹


Terimakasih 🌹🌹


__ADS_2