Queen/Istri Tuan Vampir Season 2

Queen/Istri Tuan Vampir Season 2
38


__ADS_3

Dinda menahan lengan Tiara untuk menghentikan langkahnya saat terlihat sebuah jalan buntu di sana. Telunjuk kanan Dinda mengarah ke depan yang hanya ada perpohonan dan jurang sedalam 55 meter.


"Tiara, kita harus lari." Bisik Dinda tepat di samping telinga Tiara.


"Mana jalannya!!" Tanya Tiara ketus. Dia tidak memasang wajah ketakutan walaupun sudah jelas suasana di sekitar terlihat mencekam.


Secepat kilat pemuda itu sudah berdiri di belakang keduanya. Tiara memutar tubuhnya dan menyadari sesuatu.


Apa dia dari bangsa Kak Daniel? Maniknya melebar dengan saliva tertelan kasar. Dia ingat jika saat ini Daniel tengah menangani soal hilangnya banyak gadis. Apa dia akan menjadikan ku dan Dinda korban selanjutnya? Bagaimana ini? Bagaimana caranya memanggil Kak Daniel? Tiara kembali memikirkan keselamatan Dinda, satu-satunya sahabat daripada dirinya sendiri.


"Kau mau apa?" Tiara memundurkan tubuhnya. Tangan kanannya mengiring Dinda untuk berdiri di belakangnya.


"Mau menolong kalian." Di dalam kegelapan, taring runcing pemuda tersebut terlihat mencuat keluar.


"Kita harus lari Tiara!!" Teriak Dinda seraya terisak. Tentu saja dia setengah mati ketakutan melihat makhluk mengerikan berdiri di hadapannya.


Ya Tuhan. Mana bisa lari jika dia memiliki kemampuan seperti...


Belum sempat Tiara selesai menerka di dalam hati, secepat kilat pemuda itu menyambar tubuh Dinda.


Pegangan tangan yang terlalu kuat membuat telapak tangan Dinda tidak sengaja tergores gelang yang melingkar pada pergelangan tangan Tiara.


"Ach!!!!" Teriak Tiara memejamkan matanya. Menghirup aroma darah Dinda yang mengelitik rasa laparnya. Tubuhnya terduduk di dedaunan kering dengan posisi kepala menunduk menatap cairan kental berwarna merah tersebut." Dinda!! Jangan... Jangan bawa temanku!!!" Saliva tertelan kasar. Perlahan tapi pasti, Tiara mengangkat tangannya lalu menjilati setetes darah tersebut.


Tiara berteriak nyaring, saat kuncian kekuatan pada tubuhnya terlepas. Tubuhnya terasa terbakar sesaat sehingga membuat Tiara terduduk lemah dan masker miliknya tidak sengaja terlepas.


Saat kesadarannya mulai kembali. Kepalanya di tegakkan dan terlihat mata Tiara berubah merah.


"Kenapa aku?" Tiara membolak-balikkan kedua telapak tangannya. Namun, dia kembali mendongak ke atas saat lirih terdengar suara Dinda berteriak." Dinda!!!" Tubuh Tiara terasa begitu ringan. Melesat ke sumber suara yang berasal dari markas Adam.


Di tengah kebingungannya, Tiara bertengger pada besi penyangga atap sehingga tanpa sengaja menyenggol kamera yang Daniel letakkan di sana.


Apa yang terjadi denganku.. Pertanyaan itu bersarang di otaknya namun kembali buyar ketika suara teriakan Dinda terdengar.


Tiara turun, di tengah para bangsa Vampir yang sibuk dengan tawanannya. Kehadirannya menjadi sorotan, sebab aroma tubuh Tiara yang masih dominan sebagai manusia.


"Dia akan menjadi favorit Tuan Adam." Gumam salah satu dari mereka. Menatap menyeringai ke arah Tiara yang terlihat begitu cantik dengan kulit bersinarnya.


Bukankah dia teman gadis tadi? Batin pemuda yang membawa Dinda pergi.


Blam!!!!


Belum sempat pemuda tersebut melontarkan pertanyaan, Tiara menghantam tubuhnya hingga menimbulkan dentuman keras.


"Di mana teman ku!!!" Semua Vampir yang ada di sekitar di buat melongok atas kekuatan yang di tunjukkan Tiara yang di fikirnya sebagai manusia." Katakan di mana dia!! Atau akan akan membakar habis tempat ini!!" Seakan asal bicara, Tiara mengatakan itu dengan lantang.


Vampir yang membawa Dinda tersungkur dengan luka terbakar pada padanya. Dia menyeringai menatap heran ke arah Tiara.


Manusia macam apa dia? Tubuhku terasa terbakar.


"Dia ada di ujung ruangan." Jawabnya lirih seraya menunduk menatap dadanya yang melepuh.


Tangan kanan Tiara menenteng kasar kerah belakangnya lalu menyeretnya seakan tubuh pemuda itu tidak berbobot.


"Ach sakit! Sakit sekali." Eluhnya saat Tiara sengaja membenturkan tubuh pemuda itu ke beberapa barang yang ada di sana.

__ADS_1


Siapa dia?


Siapa dia??


Vampir sekitar hanya mampu terdiam. Mereka tidak ingin terlibat masalah hingga membuatnya berakhir tragis.


Braaaakkkkk!!!


Tiara menghempaskan tubuh pemuda itu dengan kasar hingga sanggup membuat jeruji penjara porak-poranda.


Tiara..


Dinda ikut terpaku melihat Tiara melakukan sesuatu di luar nalar.


"Bawa temanmu saja." Sahut salah satu Vampir. Tiara tersenyum kecut lalu terkekeh nyaring. Terlihat samar sebuah mahkota bertengger di atas kepalanya.


"Kau mau mengaturku?" Tiara memegang jeruji dengan kedua tangannya lalu mencabutnya dan melemparkannya ke sembarang arah.


Blammmm!!!!


"Keluar kalian." Para gadis itu meringkuk di sudut ruangan. Mereka tidak berani melangkah sebab menyadari banyaknya bangsa Vampir yang masih berdiri di sekelilingnya.


"Apa yang kamu lakukan?" Salah satu penjaga berjalan menghampiri Tiara." Kami tidak punya urusan dengan mu! Seharusnya kau bawa temanmu lalu pergi." Imbuhnya memberanikan diri.


"Mereka semua temanku." Menunjuk ke tujuh wanita yang ada di dalam jeruji.


"Kau jangan asal bicara. Bawa temanmu dan pergi dari sini!!" Pintanya lagi." Siapa temannya!!" Penjaga itu beralih menatap jeruji.


"Sa saya." Mengangkat tangannya ragu.


"Kau dengar? Biarkan kami pergi." Pinta Tiara lirih. Aku tidak mengerti apa yang terjadi pada tubuhku. Kenapa aku bisa sekuat ini? Tiara belum juga sadar jika di dalam tubuhnya mengalir darah keturunan Vampir.


Itu kenapa dia memiliki kulit sehalus bayi tanpa pori-pori. Sebab umur Tiara memang masih seperti bayi yang baru lahir.


"Apa yang terjadi." Tanya Adam menatap geram ke arah sekitar." Kenapa tempat ini?" Imbuhnya.


Penjaga tempat itu berjalan ke arah Adam dan menceritakan tentang apa yang terjadi.


Dia manusia. Aroma tubuh Tiara yang tersamarkan membuat Adam merasa kebingungan.


"Kenapa kau menghancurkan tempatku?" Manik mata Adam memperhatikan Tiara dari atas sampai bawah. Astaga.. Sempurna sekali. Gadis ini akan cocok untuk Tuan Alex yang belum juga puas mencari cinta sejati.


"Mereka manusia. Lepaskan mereka." Adam tersenyum tipis. Dia cukup kaget saat Tiara mengetahui jati dirinya.


"Berarti kamu tahu kami bukan manusia?"


"Hm. Berhenti melakukan penculikan, mereka tidak bersalah."


"Nyali mu cukup besar."


"Kau mau tahu sebesar apa." Tiara meraih salah satu Vampir lalu mencabik dadanya dan mengeluarkan jantungnya dari sana.


Craaaaaasssshhhhh...


Jantung itu berubah menjadi abu saat tangan Tiara terlihat mengeluarkan warna merah.

__ADS_1


Siapa gadis ini? Tentu saja Adam di buat bingung. Sebab Lucas adalah satu-satunya anak Stefanus. Apa dia dari luar kerajaan kami?


Adam paham jika kekuatan semacam itu hanya di miliki oleh anggota kerajaan saja.


Tiara melemparkan tubuh Vampir yang tentu sudah tidak bernyawa ke sembarangan arah.


"Jika kau culik manusia-manusia itu lagi. Aku akan membantai bangsa mu seperti itu." Menunjuk ke dua jasad yang terkapar.


"Siapa kamu?" Tanya Adam ingin tahu.


Tiara berjalan cepat dan meraih leher Adam lalu menyudutkan tubuhnya ke tembok. Tubuh besar itu menggelepar, merasakan sensasi panas menyayat lehernya.


"Kau tidak berhak banyak bicara!! Suruh mereka menyingkir atau..." Adam mengisyaratkan pada anak buahnya untuk menyerang sehingga membuat sosok pada diri Tiara benar-benar bangun.


Kuku runcingnya mencuat keluar dan mencabik tubuh Adam lebih dulu. Dinda yang melihat kejadian itu, tentu merasa takut pada Tiara.


Dengan garang Tiara menghabisi semua makhluk yang ada di sana. Sebagian dari mereka memilih kabur daripada harus musnah. Namun sebagian lain tetap menyerang karena kesetiaan mereka pada Alex.


Mereka merasa lebih unggul dan bisa melawan Tiara. Tapi kenyataannya, dalam waktu sekejap, gudang tersebut sudah porak poranda dengan mayat para Vampir yang bergelimpangan.


Tiara menatap kedua tangannya yang penuh dengan darah. Dia juga merasa tidak percaya dengan apa yang di lakukan.


Siapa aku sebenarnya? Batinnya bertanya.


"Tiara." Ucap Dinda lirih.


Tiara memutar tubuh lalu tersenyum menatap satu-satunya sahabatnya.


"Kamu baik-baik saja." Tanya Tiara seraya menatap ke telapak tangan Dinda yang terluka. Aku bisa menciumnya. Tidak!! Jangan!! Aku harus mengendalikannya. Batinnya berperang, melawan keinginan hatinya dan perbuatannya yang tidak sesuai.


"Kamu bukan manusia?" Tanya Dinda memundurkan tubuhnya saat Tiara melangkah maju.


Dia takut? Ya Tuhan tentu saja. Hati Tiara seakan teriris saat dia melihat ketakutan pada mimik wajah Dinda.


"Aku tidak tahu." Ucap Tiara lirih. Dia berhenti melangkah agar Dinda tidak merasa takut padanya." Sebaiknya kalian keluar dari tempat ini." Imbuh Tiara ingin membakar tempat itu untuk menghilangkan jejak.


"Terimakasih." Ucap salah satu gadis." Kami berjanji akan merahasiakan semuanya."


"Hm ya." Tiara melirik ke arah celana Adam yang terdapat ponsel." Ambil ponsel itu dan hubungi polisi untuk pertolongan." Pinta Tiara menunjuk ke kantung celana Adam dengan manik menatap Dinda yang masih ketakutan padanya.


Salah satu dari mereka mengambil ponsel dan menggenggamnya.


"Karang cerita yang bagus untuk kejadian ini sebab kalian tidak akan di percaya jika menceritakan tentang mereka." Menunjuk ke mayat yang bergelimpangan." Aku akan memusnahkan mereka hingga tidak tersisa. Kalian hubungi polisi dan berikan keterangan yang cukup masuk akal." Tiara tidak ingin polisi menganggap jika banyaknya mayat Vampir itu di sebut sebagai pembunuhan besar-besaran.


"Kami akan lakukan."


"Hm silahkan keluar." Tiara meminggirkan tubuhnya untuk memberikan jalan para gadis termasuk Dinda.


Itu kenapa dia bersikap tertutup. Tiara melebarkan matanya, saat dengan jelas dia bisa mendengar suara hati Dinda dan para tawanan lainnya.


Maafkan aku Dinda. Aku membuatmu takut. Aku sendiri tidak tahu dengan apa yang terjadi. Ini semua di luar kendali seolah aku terbiasa melakukan ini.


Setelah memastikan semua gadis keluar. Tiara membakar jasat tersebut dengan tangannya.


Aku membantu tugasmu Kak Daniel. Batin Tiara memberikan sentuhan terakhir. Dia membakar gudang tersebut agar polisi tidak bisa mengendus jejak jasad yang ada di dalamnya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2