
Setelah memastikan Elena pergi, Tiara menyikap selimut lalu duduk. Nafasnya terbuang kasar sebab perasaannya semakin memburuk setelah obrolannya bersama Alex tadi sore.
Lelaki itu bahkan meninggalkan ku begitu saja! Dia tidak merajuk atau melakukan sesuatu agar aku tidak marah lagi!!
Tiara menurunkan kakinya. Dia mengingat janjinya pada Daniel malam ini. Tiara berjalan mendekati jendela berniat untuk memeriksa. Namun tiba-tiba Daniel sudah muncul begitu saja hingga membuatnya terkejut.
"Agh! Kau!!" Umpatnya kesal seraya mengusap dadanya.
"Maaf." Daniel menahan tawanya saat membaca raut tidak baik Tiara." Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu terlihat suram?" Tanyanya sambil menunduk, menikmati paras Tiara yang memiliki tubuh jauh lebih pendek darinya.
"Tidak ada. Sebaiknya kau menunggu di luar saja. Jangan asal masuk seperti sekarang." Protes Tiara beranjak. Dia menarik laci lalu mengambil masker dan mengenakannya.
"Aku fikir kamu ketiduran. Jika aku tahu kamu menunggu, mungkin aku di luar."
"Hm." Daniel tidak bergerak, dia hanya terpaku melihat Tiara yang sudah menunggunya." Tidak jadi? Jika tidak, keluarlah." Imbuh Tiara melepas lagi maskernya.
"Emosimu labil ternyata. Kamu harus menceritakan apa yang terjadi nanti. Pakailah sweater atau jaket. Di luar udaranya dingin." Tiara kembali mengenakan maskernya.
"Jika ingin mengajak pergi, jangan banyak bicara atau mengatur. Ayo." Daniel tersenyum, menatap kedua tangan Tiara yang sudah memegang lengannya.
Mengejutkan sekali. Sikapnya lebih tegas daripada yang ku kira. Dulu aku menebak jika dia seorang gadis yang pemalu, pendiam dan sabar. Tapi sekarang..
Daniel tidak ingin membuang waktu. Dia membawa Tiara pergi dengan caranya.
"Buka matamu." Pinta Daniel lirih.
"Tempat apa ini?" Tiara mengedarkan pandangannya. Dia hanya melihat sebuah rumah dengan pekarangan luas. Rumah itu terlihat sunyi seakan tidak berpenghuni.
"Jangan lepas pegangan tangannya."
"Kenapa?"
"Kita mulai bermain detektif Conan. Jadi jangan banyak bertanya dan ikuti aturannya."
Sesuai rencana, malam ini Daniel mendatangi rumah Adam. Dia ingin tahu, dengan informasi yang di katakan Stefan padanya.
Aroma yang sudah tersamarkan, membuat Daniel dengan mudah mendatangi posisi Stefan tanpa kesulitan.
Terlihat Stefan sudah bertengger di salah satu pohon. Dia langsung turun saat melihat kedatangan Daniel.
Bagaimana caranya dia menghilangkan aroma tubuhnya? Batin Stefan bertanya. Dia bahkan tidak bisa mengendus tubuh Tiara yang kental dengan aroma manusia.
"Apa dokter Adam ada di rumah?" Tanya Daniel seraya memandang ke arah rumah.
"Ada Tuan. Biasanya beliau akan keluar menuju markas."
"Markas?" Stefan menunjuk ke arah Utara.
__ADS_1
"Anak-anak berkumpul di sana dan para tawanan juga." Daniel menddesah lembut. Entah kenapa dia merasa tidak puas menerima kenyataan jika Adam adalah makhluk yang mendalangi kerusuhan di kota.
"Kau yakin jika tidak ada makhluk yang lebih berkuasa berdiri di belakangnya?"
"Saya tidak mengerti Tuan. Selama ini saya hanya menjalankan perintah Dokter Adam menculik para gadis itu untuk di mangsa." Tiara menelan salivanya kasar. Pegangan tangannya semakin erat. Dia tentu merasa takut dengan keterangan Stefan sebab dia seorang gadis juga.
"Tidak mungkin jika tidak ada tujuannya! Kau tahu ini melanggar aturan bangsa kita!" Stefan tertunduk seraya mengangguk.
"Saya di bawah ancaman. Saya hanya berusaha menjalankan perintah atasan saya."
"Antar aku ke markas."
"Tuan ikuti saya." Stefan berjalan cepat di ikuti oleh Daniel.
Karena terlalu terburu-buru, Daniel sampai lupa memperingatkan Tiara untuk menutup matanya. Apalagi Tiara terlihat baik-baik saja saat mengikuti Daniel yang tengah berpindah-pindah tempat.
"Ini tempatnya Tuan."
Tempat yang di tunjukkan Stefan merupakan bangunan bekas gudang tua yang terbengkalai.
"Tujuannya apa melakukan ini? Kenapa harus seorang gadis?"
"Saya tidak mengerti Tuan tapi memang aturannya seperti itu. Hanya seorang gadis atau seorang wanita." Stefan sesekali melihat ke arah Tiara. Dia cukup penasaran sebab selama ini dia jarang melihat seorang Vampir perempuan berkeliaran." Itu Dokter Adam." Tiara dan Daniel menoleh. Terlihat seorang lelaki dewasa berjas rapi masuk ke dalam gudang tersebut.
Setelah mengantar Tiara pulang. Aku akan ke dalam untuk melihat. Ingin rasanya Daniel langsung ke dalam tapi keinginan itu tertahan karena adanya Tiara.
"Hm ada." Stefan menunjukkan sebuah tato berlambang kelelawar di pergelangan tangannya." Tapi saya rasa Tuan bisa menyelinap saja." Imbuh Stefan merasa yakin pada kemampuan Daniel.
"Oke. Untuk sementara kau boleh bergabung dengan mereka seperti biasa. Aku hanya meminta mu menjaga rahasia ini agar aku bisa masuk dengan diam-diam."
"Baik Tuan."
Daniel menghilang dari hadapan Stefan menuju lokasi yang sudah di rencanakan.
"Sudah?" Tanya Tiara saat menyadari tengah berada di parkiran sebuah Cafe yang minim penerangan.
"Hm ya. Aku penasaran dengan ceritamu." Daniel mengiring Tiara melangkah lalu masuk ke salah satu saung yang sudah di pesan.
"Cerita apa?" Tiara menarik tangannya lalu menatap Daniel.
"Siapa lelaki di Cafe tadi? Apa benar kamu tidak mencintai calon Suamimu dan kenapa kamu bersedih." Tiara menddesah, dia duduk lemah di salah satu sudut saung berukuran 2 meter.
"Apa teman harus tahu itu? Tidak kan?" Protes Tiara ketus. Daniel duduk di sampingnya seraya bersandar pada dinding saung yang terbuat dari anyaman bambu.
"Memang tidak. Tapi apa salahnya berbagi cerita daripada kamu pendam sendiri."
"Aku sudah ikhlas menerima semuanya." Tiara merasa putus asa untuk bisa terlepas dari jeratan pernikahan Alex setelah pembicaraannya bersama Alex tadi sore.
__ADS_1
"Menikah?"
"Hm." Tiara mengangguk seraya tertunduk.
"Kamu serius?"
"Tidak ada pilihan. Aku harus patuh."
"Selalu ada pilihan di dalam hidup ini. Ingat Tiara, menikah dengan orang yang tidak tepat cenderung meninggalkan penyesalan." Daniel menatap Tiara yang tengah fokus ke depan.
Aku sudah bersiap untuk penyesalan itu. Setelah kuliah, aku tidak akan lagi bebas seperti sekarang. Aku harus patuh pada Daddy, Suamiku. Tiara menghela nafas panjang tanpa memperdulikan tatapan Daniel.
"Apa masalahmu?" Tanya Daniel mengeraskan suara. Tiara menoleh sejenak lalu kembali ke posisi awal.
"Sebenarnya tidak ada. Aku hanya belum mengenal calon Suami ku dengan baik." Belati tajam terasa menyayat hati Daniel. Entah kenapa dia selalu saja sakit menerima kenyataan Tiara akan di miliki orang lain.
"Kenapa begitu?"
"Dia sibuk berkerja." Rasanya aku memang tidak membuat Daddy berselera.
"Berkerja? Di mana?" Tanya Daniel penuh selidik. Dia ingin tahu bagaimana rupa calon Suami Tiara.
"Don't know."
"Bisakah aku bertemu dengannya?"
"Untuk apa?"
"Hanya berkenalan saja." Tiara tersenyum simpul.
"Sudah ku katakan dia sibuk. Bagaimana mungkin kamu bertemu, sementara dia bahkan menemui ku 10 menit dalam sehari!! Aku sudah bosan memperingatkannya. Meminta waktu seolah aku yang butuh!" Mata Daniel memincing, melihat perubahan raut wajah Tiara dengan aura warna hitam.
๐น๐น๐น
Hoiiii reader ๐
Sebelumnya mohon maaf yang sebesar-besarnya ๐
Aku sebenarnya ingin update 2 kali sehari tapi belum mendapatkan semangat untuk doubel update ๐ Kesibukan ku juga menyita banyak waktu๐ Dan akhir-akhir ini aku sering kehilangan semangat untuk menulis padahal idenya bejibun๐
Aku harap kalian sabar menanti step demi step sambil menunggu pembaca banyak..
Bantu share juga agar aku dapat tambahan semangat untuk menulis..
Hanya komentar positif kalian yang jadi semangat buat tamatin novel ini๐ฅฐ
Terimakasih dukungannya ๐น๐ฅฐโค๏ธ
__ADS_1