
Lucas meletakan makanan pesanan Noa di meja. Raut wajahnya terlihat tidak baik setelah pertemuannya dengan Daniel tadi.
"Apa yang terjadi sayang?" Tanya Noa tidak menyentuh bungkusan di hadapannya.
"Aku berharap setelah ini kamu tidak mengantungkan harapan pada Daniel." Jawab Lucas lembut.
"Kenapa?"
"Kita harus mencari Angel sendiri sebab Daniel masih sibuk mengurus kerusuhan itu." Terpaksa Lucas berbohong. Dia tidak ingin Noa kembali terhantam kekecewaan dan membuat hatinya kembali di patahkan.
"Dia anak yang baik. Padahal seharusnya dia tidak bertanggung jawab atas itu. Namun dia mau mengemban tugas itu tanpa berprotes." Lucas mendengus saat menyadari jika Noa sudah benar-benar menumpukan harapannya pada Daniel.
Aku tidak yakin jika wanita tadi temannya. Tapi semoga saja seperti itu. Jika dia berani menyakiti hati Istriku dan menambah beban hidupnya lagi. Aku akan buat perhitungan dengannya.
"Apa kamu bertemu dengan Daniel tadi?"
"Hm iya. Dia sedang berpatroli." Lucas menggeser bungkus makanan lalu membukanya. Dia mengambil sendok dan menyajikannya di hadapan Noa." Ingin ku suapi atau makan sendiri?" Tawarnya lembut.
"Biar ku makan sendiri." Noa menggeser makanannya cepat dan melahapnya. Tatapan Lucas berubah sendu. Dia merasa iba pada Noa yang mengalami stres berat akibat kehilangan anak.
๐น๐น๐น
Setelah mengantarkan Tiara, Daniel melesat menuju markas yang di tunjukkan Stefan. Dia menyelinap masuk lewat jendela kecil lalu bertengger pada besi penyangga atap.
Itu Adam. Aku tidak percaya dia yang menjadi pelaku. Daniel sengaja tidak menyergap sebab dia yakin jika ada orang lain di balik kegiatan keji yang terjadi di bawahnya.
Dengan jelas Daniel melihat banyaknya gadis yang di kurung dan di mangsa secara bebas. Kejadian itu sangat ilegal mengingat peraturan untuk memangsa secara bebas tidak di perbolehkan. Hal itu memicu kecurigaan Daniel jika sebenarnya Adam hanyalah orang suruhan.
Setidaknya aku tahu tempat ini. Daniel merogoh sakunya lalu mengambil sebuah kamera kecil yang sudah di siapkan. Dia memasang kamera tersebut untuk memantau kegiatan dan siapa saja yang datang. Seperti yang kamu lakukan. Aku juga akan sembunyi-sembunyi melakukan ini. Jika semua bukti sudah ku dapatkan. Ini akan jadi bom waktu untukmu Alex.
Seakan begitu yakin. Daniel menuduh Alex selaku raja, adalah otak yang berdiri di belakang kerusuhan.
Setelah memasang kamera tersebut, Daniel berkeliling kota untuk berpatroli. Setiap malam dia selalu melakukannya tanpa lelah dan bosan.
"Akhir-akhir ini kau jarang terlihat." Tanya Alan seraya membereskan gelas. Selain sebagai barista, dia juga pemilik Cafe tersebut.
"Hm fokusku benar-benar teralihkan tapi aku punya kabar bagus." Alan menghentikan perkerjaannya lalu duduk di hadapan Daniel.
"Kabar apa?"
"Aku sudah tahu salah satu lokasi tempat penyekapan para gadis itu."
"Jadi penyelidikan kita akan segera selesai?"
"Tidak. Salah satu dari mereka berkata jika dalang di balik semuanya adalah Dokter Adam bukan Alex." Alan mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Dokter Adam? Siapa dia?"
"Aku baru melihatnya tadi. Dia berkerja di salah satu rumah sakit di sini."
"Mungkin saja memang dia orangnya."
"Tidak mungkin Alan. Itu hanya pengalihan saja. Bukankah kamu tahu jika Alex sudah menyebar para prajurit. Kalau memang Alex tidak ikut andil. Perkerjaan mereka akan cepat terendus."
"Buktinya kau baru menemukan lokasi itu."
"Aku hanya pendatang! Itulah alasannya! Aku tidak paham tempat terpencil. Aku hanya berpatroli ke tempat yang ku ketahui." Alan mengangguk dan membenarkan ucapan Daniel.
"Lalu bagaimana?"
"Aku sudah memasang kamera. Itu akan jadi bukti jika memang Alex berdiri di belakang mereka." Daniel menarik nafas panjang lalu membuangnya kasar." Kau tahu jika ternyata Daddy Tiara adalah calon Suaminya." Alan melongok kaget dengan mata membulat.
"Daddy bukannya Ayah?"
"Ya. Itu panggilan saja. Dia bukan Ayah kandungnya dan gilanya, dia menjerat Tiara dengan pernikahan. Ahh.. Perasaanku langsung tidak baik tapi aku sudah berjanji pada Ibu Noa untuk menikah dengan Angel." Sontak Alan terkekeh mendengar eluhan Daniel.
"Wah wah. Cerita ini semakin terdengar seru."
"Hm. Ayah Lucas memergokiku bersama Tiara tadi. Dia mengumpat ku padahal aku belum berkata apapun." Alan mencoba menahan tawanya untuk memberikan Daniel sebuah masukan.
"Sebaiknya kamu jujur saja daripada mereka kecewa karena mu."
"Jujur apa?"
"Itu hal yang sia-sia sebab aku tidak bisa memilikinya. Aku hanya punya waktu satu tahun lalu dia akan menikah." Daniel membuang nafas kasar lagi dan lagi." Kenapa dia tidak meminta bantuan padaku. Aku ingin tahu bagaimana rupa Daddy nya." Imbuh Daniel cukup frustasi.
"Kau tinggal ke rumahnya."
"Daddy nya jarang di rumah."
"Rebut saja jika memang kamu serius. Tapi, selesaikan masalahmu dengan Tuan Lucas dan Istrinya."
"Dia tidak memintanya? Apa itu pantas?"
"Ya biarkan saja dia menikah lalu kau akan menyesal seumur hidup. Ingat! Kesempatan tidak datang dua kali. Sebelum semuanya terjadi, bukankah lebih baik kau rebut hatinya dulu." Ide tersebut cukup cemerlang walaupun tidak sanggup mengubah mimik wajah Daniel.
Cinta pertama yang menyedihkan. Dia bahkan akan membantuku mencari keberadaan Angel karena tidak ingin aku tersandung masalah. Padahal aku sangat ingin dia..
๐น๐น๐น
Keesokan harinya..
Tiara mengerutkan keningnya saat menerima buket bunga dari Elena. Dia membolak-balikkan bunga tersebut dengan tatapan bingung.
__ADS_1
"Dia dari siapa Bik?" Tanya Tiara terbata.
"Katanya dari Tuan Jonathan."
Ah Jonathan? Orang gila itu? Bagaimana mungkin dia tahu rumahku.
"Untung Tuan tidak pulang hari ini. Sebaiknya Non bilang pada teman Non untuk tidak mengirim benda semacam ini." Tiara meremas bunga tersebut lalu membuangnya.
"Dia bukan temanku Bik."
"Buktinya.." Menunjuk ke arah bunga.
"Dia orang gila! Aku akan menceritakan ini pada Daddy nanti."
"Jangan Non." Sahut Elena cepat.
"Kenapa?"
"Tuan sangat kejam kalau sedang marah." Elena menyodorkan bungkusan yang di berikan Alex semalam." Ini dari Tuan. Semalam dia pulang." Tiara melotot dengan salivanya tertelan kasar. Dia yang sedang tidak berada di rumah tentu merasa takut jika sampai Alex mengetahui kepergiannya.
"Di dia memeriksa kamar?" Tanya Tiara terbata.
"Hanya memberikan itu lalu pergi. Lain kali, Jangan pergi lama-lama. Bibik takut kepergok Tuan." Tiara tersenyum aneh.
"Ma maksud Bibik apa?"
"Non pasti tahu maksud Bibik. Apa pemuda itu yang membawa Non pergi?" Tiara terdiam. Dia bingung harus bagaimana menjelaskannya.
"I iya Bik. Aku hanya ingin bebas sebelum menikah."
"Bagaimana cara Non lewat? Kenapa Bibik tidak tahu." Aku pastikan teman Angel bukanlah manusia.
"Hehehehe. Emmm lewat..."
"Teman Non bukan manusia?" Mata Tiara kian melebar. Dia tidak menyangka mendengar tebakan Elena." Jujur saja Non. Bibik tidak akan bicara dengan Tuan." Tiara memberanikan diri membalas tatapan manik Tiara.
"Dia baik Bik. Satu-satunya makhluk yang bisa membawaku pergi."
Sudah pasti dari golongan kerajaan? Dia bisa keluar pada siang hari. Tapi siapa dia?
"Kita hanya berteman Bik. Aku bahkan sudah menceritakan soal perjodohan itu." Imbuh Tiara mencoba meyakinkan dengan wajah ketakutan.
"Dia Vampir?" Tanya Elena memastikan.
๐น๐น๐น
Yang kangen Lucas ๐
__ADS_1
Biar tidak lupa dengan wajahnya ๐Kalau visual Noa dan Tiara, aku belum menemukan yang cocok๐นโค๏ธ